Ketik disini

Metropolis

Target 100 Ribu, Cuma Dapat 16 Ribu

Bagikan

MATARAM – Target penyerapan 100 ribu ton beras oleh Perum Bulog Divre NTB selama Juni -17 Agustus 2015 menemui jalan terjal. Mengingat, hingga 23 juli 2015, Bulog hanya bisa merealisasikan penyerapan 16 ribu ton.

“Data terakhir baru terserap sekitar 16 ribu ton di seluruh wilayah kerja Bulog,” kata Humas Bulog Divre NTB Marlinda kepada Lombok Post, di ruang kerjanya.

Sejak dicanangkan di Bulan Juni 2015, Bulog NTB memang ditargetkan mampu menyerap beras petani sebanyak 100 ribu ton. Akan tetapi, yang terjadi di lapangan, Bulog sedikit santai dalam merealisasikan target yang diperintahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo tersebut.

Target penyerapan ini sendiri berakhir nanti di tanggal 17 Agustus 2015. “Ini juga terkendala karena waktu panen yang tidak bersamaan,” ungkap Linda.

Awalnya, Bulog cukup percaya diri mampu untuk merealisasikan target serapan 100 ribu ton. Apalagi jika merujuk pada data pertanian NTB sendiri yang menunjukan bahwa panen hingga bulan Agustus mencapai 500 ribu ton.

Sehingga dari hitung-hitungan tersebut, Bulog optimistis dapat memenuhi bahkan melebihi target. Namun, Bulog hanya mampu menyerap 16 persen dari total target.

Dengan demikian, dalam jangka waktu yang kurang dari sebulan lagi, Bulog harus mampu menyerap minimal 84 ribu ton untuk dapat memenuhi target.

“Sekarang ini infonya sedang panen di beberapa wilayah yang ada di Lombok, seperti Lombok Tengah dan Lombok Timur. Jadi diharapkan bisa menaikkan angka serapan untuk memenuhi target,” terang Linda.

Bulog NTB mengaku akan berupaya maksimal untuk merealisasikan target 100 ribu ton tersebut. Terlebih, target serapan ini juga perintah langsung Presiden yang menetapkan target serapan Bulog sebesar 2 juta ton secara nasional dalam dua bulan. “Dari 2 juta ton, NTB mendapatkan amanah untuk bisa menyerap 100 ribu ton,” jelasnya.

Dijelaskan, Bulog NTB memasang target serapan 175.210 ton dalam satu tahun. Kemudian dinaikan 211.250 ton per tahun. Tapi semua target itu sekarang dihapus dan diwajibkan dalam dua bulan sudah tercapai 100 ribu ton. Di samping itu, penyerapan 100 ton ini menjadi langkah pemerintah untuk memastikan stok beras secara nasional agar tidak perlu melakukan kebijakan impor beras. (cr-dit/r12)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *