Ketik disini

PELESIR

Calabai; Desa Kecil Sejuta Pesona

Bagikan

Tak banyak yang mengenal Calabai. Daerah pesisir ini kalah tenar dengan Pulau Satonda, misalnya. Padahal, Calabai, salah satu pintu masuk ke Pulau Satonda tidak kalah cantik. Ada beragam pilihan wisata di tempat ini.

************
SEMALAMAN menaklukan jalan Sumbawa-Dompu cukup membuat badan sakit tak karuan. Ibu sudah mengingatkan saya, kalau perjalanan Sumbawa-Dompu itu bukan perjalanan yang mudah. Terlebih lagi daerah yang dituju bukan Dompu wilayah kota melainkan desanya, masih menemouh dua jam lebih menuju lokasi.

Jalannya memang sudah bagus, tetapi jaraknya yang sangat jauh cukup membuat kelelahan. Dan benar saja, pukul 16.30 Wita meninggalkan Kota Sumbawa, baru tiba di Calabai-Dompu pukul 00.30 Wita. Bayangkan saja berapa jam waktu yang kami habiskan di perjalanan. Badan seperti mati rasa. Pegal di sana-sini. Tetapi memang untuk menikmati suatu keindahan memang butuh perjuangan.

Calabai terletak di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Selama ini Calabai dikenal sebagai gerbang masuk menuju Pulau Satonda dan Pulau Moyo. Bagi yang mau ke dua pulau eksotis itu bisa melalui Pelabuhan Calabai, menggunakan kapal kayu milik warga.

Letaknya yang tepat berada di bawah kaki Gunung Tambora menjadikannya berhawa sejuk, tidak seperti daerah-daerah lain di Dompu atau Pulau Sumbawa. Airnya dingin. Mandi pagi dijamin menggigil.

Pagi hari kita bisa menyaksikan keindahan matahari terbit tepat di atas Gunung Tambora. Di bagian baratnya lautan biru Teluk Saleh terhampar luas dengan Pulau Moyo dan Pulau Satonda yang terpajang di depannya. Memang tidak rugi saya menempuh perjalanan yang melelahkan ini, karena semua akan terbayar lunas dengan keindahan Calabai yang memikat mata dan hati.

“Kita ke rumah Bang Chris yuk, sambil ngopi pagi di sana,” kata seorang teman menawarkan. Ide yang bagus. Perut sedari tadi kembung, efek angin yang semalaman bebas masuk semaunya. Mungkin segelas kopi hangat bisa membuat perut sedikit membaik.

Tepat di depan gapura Pelabuhan Calabai ada sebuah rumah kayu sederhana dengan spanduk besar yang berisikan gambar-gambar terumbu karang. Seorang laki-laki setengah baya keluar menyapa kami dengan senyumannya yang hangat. Dia adalah Chris, seorang kenalan di Adventurous Sumbawa yang juga merupakan pendiri komunitas yang bernama Komppak (Komunitas Pencinta Penyu dan Karang).

Di sekitar pelabuhan terlihat kesibukan para nelayan yang menebarkan jalanya. Beberapa warga lainnya juga tak mau kalah mencoba peruntungan mendapatkan ikan dengan memancing. Di satu sudut lainnya anak-anak kecil berlarian bebas, bermain bersama teman sebayanya.

Aroma kopi Tambora yang khas menyeruak membuat tak henti-hentinya ingin menyeruput. Ditambah lagi dengan percakapan-percakapan dengan Chris dan kawan-kawan lainnya semakin menambah hangat suasana. Ini kali pertama saya bertemu dengan Chris, tapi rasanya seperti telah mengenal lama. Dia banyak bercerita tentang kegiatan konservasi laut yang selama beberapa tahun ini giat dilakukan. Tentang pelestarian hutan Tambora. Tentang kegiatan-kegiatan edukasi bersama masyarakat.

“Dulu ya, orang mengebom ikan itu sudah seperti mendengar petasan di bulan puasa, dar dur dar dur, tidak terhitung jumlahnya,” tutur Chris dengan nada yang lumayan tinggi.

Selama beberapa tahun ini Teluk Saleh menjadi lokasi empuk sasaran pengeboman. Jumlah ikannya yang melimpah ruah menjadi alasan utamanya. Tetapi sejak Chris dan komunitasnya rajin turun laut untuk patroli, aksi pengeboman itu semakin jarang terjadi. Sanksi pengeboman laut yang lumayan kejam; kapalnya disita, bahkan lebih parah akan dibakar. Cukup membuat jera pelaku pengeboman.

Tidak hanya berpatroli, dia juga merangkul para pemuda dan nelayan sekitar. Komunitas ini mengedukasi mereka dengan cara pemberian pelatihan tentang cara menangkap ikan yang aman dan tidak merusak. Mengedukasi tentang betapa pentingnya menjaga kelestarian laut, konservasi alam, dan turun ke laut untuk transplantasi karang.

“Bang Chris ini hebat, dari jarak beberapa kilometer saja bisa mendengar suara pengeboman. Entahlah telinganya terbuat dari apa, heran saya,” ucap Aan, teman seperjalanan, sembari menggeleng-gelengkan kepala tanda pura-pura bingung. Kami yang melihat ekspresinya pun tertawa.

“Ah nggak juga, ini mungkin karena insting saja, karena seringnya berada di laut dan menangani kasus-kasus pengeboman itu” kata Chris terlihat tersipu-sipu malu.

Bapak dengan dua anak ini keren. Bukan polisi laut, bukan pegawai kelautan, bukan orang LSM yang konsen tentang konservasi laut. Dia hanya orang biasa yang memiliki semangat luar biasa untuk menjaga alamnya agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh anak cucunya kelak.

Bicara tentang laut di Calabai, maka kita akan dihadapkan pada kegiatan asyik nan menyenangkan, yaitu snorkeling. Saya paling suka ini. Tujuan ke Calabai juga untuk itu : main-main bersama ikan cantiknya.

Dari Pelabuhan Calabai bisa menyewa kapal milik nelayan untuk menuju spot-spot snorkeling. Calabai, masuk ke dalam perairan Teluk Saleh, yang selama ini dikenal sebagai aquarium raksasa dunia. Ikan yang beraneka ragam, karang-karang yang cantik bisa kita temui disini.

“Spot snorkeling yang paling bagus itu ada di istana karang. Karangnya beraneka ragam, saya yakin ketika kesana kalian tidak bisa move on dari laut, ndak mau pulang,” promosi Chris. Cerita Chris tidak ada habisnya tentang keindahan bawah laut Calabai semakin membuat tak sabar untuk “say hello” sama ikan-ikan itu.

Tidak memakan waktu yang lama menggunakan kapal dari pelabuhan untuk menuju ke spot snorkeling itu.Hanya 15 menit. Ada yang dinamakan dengan Zona Penyu. Yaitu tempat tinggal para penyu di Teluk Saleh. Keadaan lautnya yang berpasir dan berhawa sejuk menjadi tempat yang nyaman bagi para penyu untuk hidup.

Kita bisa menjumpai penyu ini sekitar jam 9 hingga 10 pagi. Setelah jam itu biasanya para penyu akan pergi mencari makan. Setelah dari Zona Penyu, kita kemudian menuju ke Istana Karang. Di Istana Karang itu kita akan menjumpai karang-karang yang beraneka ragam nan cantik.

Snorkel dipasang, pelampung juga tak lupa saya gunakan, saatnya main-main dengan ikan. Airnya sangat jernih, visibility-nya juga sangat cerah, karang dan ikan-ikannya terlihat jelas dari atas. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wita, dua jam sudah saya berada di dalam laut, berenang kesana kemari. Pelampung yang saya gunakan ternyata lumayan berguna juga, tidak membuat saya kelelahan seperti teman-teman yang lainnya. Mereka beberapa kali harus naik ke kapal untuk beristirahat sedangkan saya tetap main-main di dalam laut. Memang benar kecantikannya bisa membuat susah move on.

“Simpan tenaganya Lulu, kita tidak hanya snorkeling di sini saja, ada banyak tempat keren lainnya,” kata Chris mengingatkan. Memang laut ini selalu berhasil membuat susah move on. Walaupun setelah ini kulit akan hitam mengelupas, tapi tak apalah, eksotis yang saya suka.

Setelah dari Istana Karang, Chris mengajak kami snorkeling ke Jurang Setan. Mendengar namanya saya langsung bergidik ngeri. Jurang Setan? Jurang Setan ini adalah nama tempat di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Dompu. Letaknya tidak jauh dari Desa Calabai. Saya tidak tahu kenapa pantainya dinamakan Jurang Setan, mungkin karena di atas pantai ini ada tebing jalan yang lumayan ngeri sehingga disebut jurang setan.

Matahari sedang terik-teriknya ketika kami tiba di Pantai Jurang Setan. Pantai berpasir hitam ini sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa anak muda yang sedang bermain-main di sana. Tidak jauh dari pantai itu ada aliran sungai air tawar yang sangat dingin, kontras dengan cuaca dan kedinginan airnya.

Kata Chris, tidak jauh dari aliran sungai itu, tepat di bawah tebing Jurang Setan ada sebuah goa dengan lorong yang lumayan panjang dengan aliran sungai kecil di dalamnya. Dari Pantai Jurang Setan, kami hanya berenang beberapa menit saja untuk menuju ke spot snorkelingnya. Tidak perlu naik kapal seperti snorkeling yang pertama. Snorkeling di pantai ini bisa jadi alternatif pengobat rindu bermain dengan ikan-ikan jika tidak bisa snorkeling di Istana Karang yang mengharuskan menyewa kapal. Letaknya pun tidak susah ditemui, tidak jauh dari pusat desa, jadi bisa dikunjungi setiap saat.

Hari itu benar-benar surga bagi saya, rombongan lain. Main sepuasnya bersama ikan-ikan. Terik yang begitu menyengat kulit tidak terasa ketika menceburkan diri kedalam laut. Adem. Berenang kesana kemari, bermain dengan ikan-ikan yang cantik.

Karang yang bagus menjadi habitat yang baik juga untuk ikan-ikan. Jika ingin merasakan keindahan bawah laut seperti ini selamanya maka sudah seharusnya kita menjaganya untuk tetap lestari. Caranya sederhana saja, jika snorkeling jangan berjalan di atas karang, yang sudah tentu akan mengakibatkan karangnya patah. Selama ini tidak jarang saya menemukan orang yang snorkeling tetapi berjalan di atas karangnya. Demi mengambil foto bawah laut yang bagus mereka harus menginjak karang itu. Kasihan kan, kalau karangnya harus patah. Mereka juga makhluk hidup lho.

Bayangkan saja untuk menumbuhkan satu centimeter saja membutuhkan waktu satu tahun. Belum lagi untuk pemulihannya jika ternyata si karang telah kena dampak pengeboman. Terus jangan buang sampah sembarangan, karena sampah-sampah yang menumpuk itu larinya pasti ke laut. Sampah-sampah itu penuh dengan bahan kimia yang bisa merusak ekosistem laut. Kan tidak enak juga jika sedang asyik-asyik snorkeling terus ada sampah yang ikut berenang.

Untuk petualangan kami yang terakhir, kami menuju Goa Setan. Tadi Jurang Setan, sekarang Goa Setan, sepertinya semua tempat keren di daerah ini selalu ada kata setannya.

Goa setan ini letaknya tidak jauh dari Pantai Jurang Setan. Ada sebuah aliran sungai panjang yang akan membawa pada goa tersebut. Di bagian timur Pantai Jurang Setan, ada tebing dengan dinding karst, di situlah letak lubang kecil yang merupakan jalan masuk menuju goa tersebut.

Di dalam goa itu aliran sungai air tawar yang hawanya sangat dingin. Goa tersebut memiliki lorong dengan aliran sungai yang lumayan panjang dan menantang adrenalin. Head lamp yang terpasang di kepala cukup membantu untuk menambah penerangan di dalam goa ini, semakin dalam berjalan, semakin besar juga tantangannya. Airnya terasa semakin dingin dan menggigit tulang. Ditambah lagi dengan karang-karang tajam yang berada di sisi kanan dan kiri goa, mengharuskan kita berjalan dengan sangat hati-hati. Tidak sampai akhir dari lorong goa ini, kita semua sudah menyerah, dingin yang semakin menusuk dan karang-karang tajam dikiri dan kanan kita cukup membuat kita kewalahan. Untuk teman-teman yang mencintai kegiatan susur goa, Goa Setan ini boleh jadi rekomendasi untuk ditaklukkan.

Setelah menikmati kengerian Goa Setan, petualangan kami hari itu ditutup dengan menyaksikan keindahan matahari terbenam di Pantai Calabai. Matahari yang jatuh tepat di atas Pulau Moyo membuatnya semakin tampak indah. Dalam waktu sehari kami sudah bisa menikmati sejuta pesona keindahan, hanya di Calabai tempatnya. (Lulu WS/Fathul).

Lulu WS adalah adalah staf akademik di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Di sela-sela kesibukannya, dia berpertualang menjelajahi alam Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok. Dia bisa disapa melalui blognya www.anakpapabandy.blogspot.com

Bagaimana Menuju Calabai :

  • Jika berangkat melalui Lombok, bisa menggunakan bus langsung yang menuju Bima-Dompu (Biaya Rp.230.000) kemudian berhenti di Dompu.Dari Dompu barulah menuju ke Desa Calabai dengan menggunakan bis estapet.
  • Waktu tempuh yang lumayan lama membuat badan kelelahan, oleh karena itu jangan lupa persediaan makanan dan obat yang cukup (seperti obat pegal-pegal ataupun minyak kayu putih).
  • Untuk penginapan, ada beberapa home stay yang bisa disewa.
  • Bagi yang ingin snorkeling bisa langsung menuju Pelabuhan Laut Calabai, ada nelayan yang selalu siap sedia mengantarkan untuk snorkeling. Biaya sewa kapal, berkisar antara Rp. 200.000 – Rp. 300.000 tergantung dari banyaknya spot snorkeling yang dituju.
  • Supaya lebih berhemat, ada baiknya untuk datang secara berkelompok, jadi biaya bisa dibayar secara urunan.

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *