Ketik disini

PELESIR

Kenawa : Tempat Liburan Paling Romantis

Bagikan

Menikmati sepi, jauh dari hiruk pikuk kota, tak salah jika memilih Pulau Kenawa. Salah satu pulau dari gugusan “Gili Balu” di Kecamatan Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tidak berpenghuni. Suguhan bukit Kenawa, padang rumput nan hijau, laut bersih dan view gunung Rinjani dan perairan Pototano menjadi momen tak terlupakan.

*****************

DEWI SATRIA ELMIANA sempat khawatir ketika kapal ferry yang membawanya dari Pulau Lombok mendekati Pelabuhan Pototano Sumbawa. Hujan mengguyur menjelang sore itu. Diguyur hujan saat liburan ke pantai adalah petaka. Serba tidak enak. Mau berteduh sudah terlanjur perjalanan jauh. Mau snorkeling, air laut kadang kurang bersahabat ketika hujan. Hari itu, Dewi, yang baru saja mendapat kabar gembira diterima beasiswa dokter (S3) ke New Zealand merencanakan camping di Pulau Kenawa. Dari foto-foto di media sosial dan video youtube, pulau tak berpenghuni itu membuatnya jatuh cinta.

Keberuntungan lagi bersama Dewi, begitu kapal merapat ke Pelabuhan Pototano, hujan reda. Malahan dia mendapat bonus pelangi. Pelangi di laut Pototano itu terlihat lebih indah dengan latar pulau-pulau kecil di sekitarnya, apalagi dai kejauhan tampak kapal lainnya yang akan berangkat ke Lombok.

Sesampai Pelabuhan Pototano, menaiki sepeda motor, Dewi bersama sahabatnya di perkampungan suku Bajo, sekitar 400 meter dari Pelabuhan Pototano. Lewat perkampungan pinggir laut itulah perjaanan akan dilanjutkan menuju Pulau Kenawa.

Keindahan kampung pesisir itu juga tidak kalah indah. Dermaga kayu yang menjorok ke laut menjadi tempat bermain favorit anak-anak pantai. Bagi wisatawan, rasanya rugi tidak mengabadikan foto di dermaga yang langsung viewnya Pelabuhan Pototano dengan deretan kapal ferry yang antre. Rumah panggung yang berderet, memantul di air kolam asin yang membatasi perkampungan dengan laut. Di belakang perkampungan itu, bukit-bukit tandus menambah keelokannya. Belum saja menjejak kaki ke Pulau Kenawa, rasanya sudah cukup puas menikmati pemandangan di dermaga kecil yang melayani rute ke Pulau Kenawa.

Rombongan lain dari Kota Sumbawa, Lulu WS tiba juga di dermaga perkampungan Pototano itu. Dia datang bersama rekan-rekannya dari komunitas Adventurous Sumbawa, sebuah komunitas yang getol mempromosikan pariwisata Sumbawa. Pada hari itu juga, rombongan backpacker dari Batam akan menjadi rekan mereka camping di Pulau Kenawa.

Dari Kota Sumbawa perjalanan menuju dermaga Pototano itu kurang lebih 2 jam. Sementara dari Pulau Lombok, perjalanan menyeberangi Selat Alas kurang lebih 2 jam. Untuk mengenali dermaga penyeberangan ke Pulau Kenawa sangat mudah. Perkampungan terdekat dengan Pelabuhan Pototano adalah titik tolak menuju Pulau Kenawa. Ada gerbang penanda jika tempat itu penyeberangan ke Pulau Kenawa.

Matahari sudah jatuh ketika rombongan Dewi dari Lombok dan Lulus WS dari Sumbawa Besar tiba di dermaga. Akhirnya sore itu, rombongan memutuskan untuk menikmati detik-detik tenggelamnya matahari di dermaga kayu. Tak rugi menunggu rombongan lain. Pemandangan sore, dengan gradasi langit merah-jingga, cukup melepas lelah perjalanan dua jam.

Penyeberangan ke Pulau Kenawa menggunakan perahu kayu nelayan. Ketika Pulau Kenawa belum booming, kapal-kapal kayu dengan kapasitas maksimal 20 orang itu dipakai menangkap ikan. Belakangan ketika Pulau Kenawa booming menjadi tujuan liburan, para nelayan lebih sering melayani penumpang, khususnya pada akhir pekan.

Ongkos kapal-kapal kayu itu relatif murah. Biasanya dicarter antar jemput. Tarifnya Rp 300.000 – Rp 400.000. Jika berkelompok harganya bisa lebih murah. Bayar saweran. Seperti rombongan Dewi dari Mataram dan Lulu dari Sumawa Besar, mereka hanya perlu mengeluarkan masing-masing Rp 18.000. Para nelayan di perkampungan itu ramah dengan wisatawan. Mereka siap antar jemput, kapan saja, selama cuaca bagus tentunya.

Perahu menembus malam. Lampu dari kapal ferry menyinari perairan Pototano. Aktivitas pelabuhan itu 24 jam. Perjalanan rombongan dengan perahu kayu tak perlu was-was walau membelah malam. Nakhoda memiliki jam terbang tinggi. Bertahun-tahun menembus ganasnya laut mencari ikan. Malam itu dia hanya mengantar tamu dengan jarak tempuk hanya 30 menit. Ombak malam itu sangat bersahabat. Langit sedang berada di pihak rombongan.

Tak salah promosi yang menyebut Pulau Kenawa sebagai tempat yang romantis. Malam hari, langit di Pulau Kenawa bertabur bintang. Seluas mata memandang, taburan bintang berkelap-kelip. Pekatnya malam, tanpa polusi lampu listrik, pemandangan langit di Pulau Kenawa bak menyaksikan lukisan cahaya di atas kanvas hitam. Bulan yang tak sempurna pun bisa menerangi Pulau Kenawa.

Udara malam di Pulau Kenawa tidak terlalu dingin atau tida terlalu panas. Hembusan angin juga tidak terlalu keras. Dan inilah yang paling membuat betah wisatawan : deburan ombak. Deburan pelan ombak itu seolah sapaan selamat datang. Dia siap menyambut ketika fajar menyingsing. Malam itu di dalam tenda, di bawah cahaya bulan-bintang, rombongan tertidur lelap.

*******

“Bangun-bangun, siap-siap kita melihat sunris,’’ kata Lulu membangunkan rombongan lain yang masih nikmat di dalam tenda. Selimut tebal yang membungkus badan tidak ditembus angin laut. Subhan, salah satu rombongan dari Sumbawa Besar harus beberapa kali dibangunkan agar sadar 100 persen.

Rupanya semalam ada rombongan lain yang tiba. Dua diantara mereka mengenalkan diri Choti dan Ester. Kedua gadis itu berasal dari Batam. Mereka datang jauh-jauh untuk menikmati sunrise dari Pulau Kenawa. Itulah sebabnya, mereka bela-belain menembus malam ke Pulau Kenawa. Mereka menyeberang sekitar pukul 10 malam.

Dari lokasi membangun tenda, rombongan bergerak ke arah barat pulau. Rupanya di lokasi itu berdiri menjulang bukit. Bukit Kenawa. Semalam tidak terlalu jelas. Pada menjelang pagi, bukit itu mulai menunjukkan dirinya. Menyusuri jalan setapak yang sering dilewati pejalan, perjalanan ke puncak bukit mudah. Tanpa bantuan lampu senter, rombongan tidak terpisah.

Teriakan gembira bersahutan ketika rombongan sampai ke puncak Bukit Kenawa. Tepat beberapa menit setelah sampai, matahari mulai muncul. Walaupun tidak langsung dari laut, tapi di balik deretan bukit di Pulau Sumbawa, pemandangan matahari terbit (sunrise) pagi itu membius para pejalan. Dewi yang menempuh perjalanan dari Mataram, Choti dan Ester yang perjalanan sehari dari Batam – Jakarta – Sumbawa untuk sekadar menikmati Pulau Kenawa merasa puas. Tidak rugi mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan uang. Sunrise di Pulau Kenawa menjadi momen tak terlupakan bagi mereka.

Makin tinggi matahari, makin terlihat keelokan Pulau Kenawa. Berada di puncak bukit, seluruh pulau terlihat jelas. Rumput yang hijau di kala hujan, dan mulai besar ibarat permadani hijau yang digelar di halaman. Di sebelah timur, mata disuguhkan pemandangan bukit-bukit di Pulau Sumbawa. Samar-samar juga terlihat awan yang menutupi Desa Mantar, sebuah desa wisata di KSB yang dijuluki Desa di Atas Awan. Di sebelah barat, puncak Rinjani terlihat kokoh. Terpaan matahari pagi membuat puncak itu terlihat sedikit memerah.

View seluruh Pulau Kenawa adalah foto terbanyak. Foto-foto itulah yang membuat banyak orang datang ke Pulau Kenawa. Hamparan padang rumput hijau manambah keeksotisannya. Dan ini dia momen terbaiknya : ketika berdiri sendirian di tengah padang rumput itu, lalu foto diambil dari arah bukit. Pulau Kenawa serasa milik sendiri. Kesunyian itulah yang mahal.

Pantai di Pulau Kenawa tidak kalah memikat. Pasir putih. Tapi memang tidak semua sudut cocok untuk snorkeling. Di beberapa titik ada palung yang cukup dalam. Arus juga agak keras, bergerak mengelilingi pulau. Karang ada di sekitar dermaga. Walau tidak terlalu banyak, tapi ikan-ikannya banyak. Pulau Kenawa yang jauh dari perkampungan, tanpa penghuni, memungkinkan biota lautnya terjaga.

Sayangnya keindahan Pulau Kenawa, termasuk keindahan lautnya tidak diimbangi dengan fasilitas. Walaupun ada berugak (gazebo) dan rumah-rumah panggung, kondisinya tidak terawat. Atap bolong. Dinding menganga. Begitu juga dengan toilet yang tersedia. Tidak pernah berisi air. Justru bau pesing yang tercium. Salah seorang wisatawan asing yang kebetulan kapal phinisi mereka singgah di Pulau Kenawa terdengar menggerutu ketika hendak buang air kecil. Jadi bagi wisatawan siap-siap saja urusan buang hajat dilakukan di pantai. (fathul)

Tips Liburan ke Pulau Kenawa

Pulau Kenawa adalah pulau tidak berpenghuni. Di pulau ini tidak ada sumber air tawar. Begitu juga dengan listik. Walaupun ada bangunan sejenis gubuk, kondisinya sudah rusak.

Untuk itu bagi wisatawan yang hendak ke Pulau Kenawa, dan berencana menginap berikut tips dari tim Pelesir Lombok Post.

  • Bawa tenda yang cukup tebal dan terlindungi dari udara langsung (tenda doom)
  • Bawa obat pengusir serangga dan obat penghilang gatal.
  • Bawa air tawar yang cukup untuk minum maupun memasak.
  • Bawa lampu penerangan (jika menginap)
  • Bawa cadangan charger HP sewaktu-waktu untuk menghubungi ke daratan jika ada keadaan darurat.
  • Jangan lupa sampah di bawa pulang.

Transportasi ke Pulau Kenawa

  • Jika berangkat dari Lombok, menyeberang dari Pelabuhan Kayangan Labuhan Lombok ke Pelabuhan Pototano Sumbawa ( 2 jam)
  • Tak jauh dari pelabuhan, sekitar 400 meter terdapat dermaga kayu, terlihat dari jalan raya. Ada petunjuk gerbang “Selamat Datang di Kawasan Wisata Bahari Kenawa”
  • Dari dermaga kayu itu naik perahu, biasanya carter hingga penuh. Jika per orang ongkosnya Rp 18.000 – Rp 20.000 orang.
  • Perahu ke Pulau Kenawa bisa ditanyakan ke penduduk sekitar dermaga, sekaligus tanyakan tempat menitip sepeda motor.

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *