Ketik disini

Bima - Dompu

Sempat Dianggap Gila, Kini Jadi Idola

Bagikan

Seni budaya Gantao, sudah terkikis oleh zaman. Bahkan generasi muda banyak yang tidak tahu tentang kesenian beladiri khas Bima ini. Hal itulah menjadi motivasi bagi R Arif Purnada mendirikan Sanggar Wadu Nocu.

Tahun 2009 tahun silam, R Arif Purnada masih berusia 19 tahun. Namun dia memiliki kepedulian untuk melestarikan seni budaya Gantao.
Kepedulian terhadap seni beladiri khas Bima ini, karena bapaknya Jainal Arifin dan kakeknya Jakariah adalah pecinta Gantao.

Bersama bapak dan kakeknya, Arif mendirikan Sanggar Wadu Nocu. Sanggar itu khusus mengajarkan generasi muda tentang seni budaya Gantao.

Diakui, awal mendirikan sanggar tersebut Arif mengaku, sempat dicemooh warga sekitar.
Bahkan dianggap gila, karena dinilai tidak ada gunanya mendirikan sanggar seni tersebut.
Pil pahit itu harus dia telan. Malah hal itu menjadi suplemen penyemangat untuk melestarikan kesenian khas Bima ini.

a�?Saya dikatai gila melestarikan kesenian Gantao. Tapi buat saya itu sebagai ujian kecil untuk menjadi besar,a�? ujar pria 24 tahun ini kepada Lombok Post Group (Radar Tambora) di rumahnya di RT 04, RW 02, Kelurahan Pena Nae, Senin (27/7).

Semangat yang menggebu diusianya yang baru 19 tahun saat itu, mendapat dukungan dan dorongan dari keluarga. Terutama dari kakeknya Jakariah dan ayahnya Jainal Arifin. Mereka pun ikut terlibat membina seni dan budaya Gantao.

Dengan dukungan itu, dia mulai mengumpulkan remaja sekitar lingkungannya. Awalnya kata dia, tidak ada yang mau bergabung. Tapi perlahan, anak pertama dari empat bersaudara ini berusaha meyakinkan pemuda sekitar. Alhasil, hanya enam orang pemuda setempat berhasil dirangkul. Karena personil terbatas, ayahnya pun ikut terlibat ketika ada pementasan.

Untuk menunjukkan eksistensi, Arif bersama sanggarnya memberanikan diri tampil di berbagai kegiatan pemerintah kota maupun kegiatan sosial kemasyaratan lain. Awalnya, mereka tampil tanpa ada bayaran sepeserpun.

Karena tidak dibayar, Arif bersama rekan-rekannya harus merogoh kocek sendiri. Baik untuk mobilisasi alat dan anggota. Bahkan terkadang mereka membawa alat musik seperti Gong, Gendang dan lainnya dengan sepeda motor.

Pahit yang mereka rasakan saat itu, bagi Arif CS bukan menjadi halangan untuk melestarikan seni budaya Bima tersebut. Karena sering tampil di beberapa kegiatan, Sangar Seni Wadu Nocu ini mulai dikenal warga. Hingga akhirnya mereka tidak lagi mencari job, tapi dicari oleh penyelenggara kegiatan.

Setelah tiga tahun jalan, sanggar yang didirikannya mulai dilirik warga sekitar. Setiap kali tampil mereka mendapat bayaran. Meskipun mereka tidak pernah memasang tarif untuk setiap kali tampil. Mereka hanya menerima uang ucapan terimakasih sealakadarnya dari warga yang menggelar acara.

a�?Kalau keluar biasanya kami dikasih Rp 500 ribu untuk sekali pentas. Kalau acaranya di Kelurahan Pane Nae, gratis,a�? akunya.

Sejak tahun 2012 anggota sanggar terus bertambah. Awalnya hanya enam orang kini menjadi 26 orang. Warga sekitar juga mulai sadar tentang pentingnya melestarikan seni budaya Gantao.

Bahkan warga yang dulu mencemoohnya mulai mengundang mereka untuk memeriahkan acara. Perubahan itu sangat disyukurinya, karena visi dan misinya mendirikan sanggar itu untuk melesatarikan seni budaya Gantao.

Selain itu, kiprah Arif mendirikan Sanggar Seni mengantarkannya menjadi pemuda pelopor pemerhati seni dan budaya terbaik di Kota Bima. Diapun mewakili Kota Bima pada ajang pemuda pelopor tingkat Provinsi NTB.

Kabit Pemuda dan Olahraga Dikpora Kota Bima Drs H Muhtar mengatakan, dari sekian banyak pemdua pelopor di Kota Bima, Sanggar Wadu Nocu menjadi yang terbaik. Karena eksistensinya melestarikan budaya dan memberdayakan pemuda setempat. (feb)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *