Ketik disini

Headline Politika

Koalisi a�?Es Campura�? Pilkada 2015 (1)

Bagikan

Pendaftaran bakal calon kepala daerah resmi ditutup kemarin sore (28/7). Peta koalisi partai politik (parpol) sudah terkunci. Para pasangan tinggal menyiapkan diri pada hari pertarungan, 9 Desember 2015. Pilkada 2015, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini menjadi bukti bahwa Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) adalah mitos. Tidak pernah ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Yang abadi hanya kepentingan.

***

PUBLIK masih ingat dengan dua kubu politik di tanah air, Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Dua koalisi yang bermula dari pemilihan presiden ini kemudian merambat ke daerah. Di NTB sendiri sempat memanas hubungan antara PDIP a�� Partai Demokrat ketika pilpres. Padahal PDIP adalah pendukung utama gubernur a�� wakil gubernur NTB terpilih. Tak butuh waktu lama, PDIP dan Partai Demokrat kembali mesra ketika pilkada 2015 mulai menggelinding. Begitu juga dengan partai utama di KIH, PDIP dan partai utama di KMP, Gerindra sejak awal memanas. Tapi lagi-lagi ketika pilkada keduanya bak sepasang kekasih.

Di Kota Mataram partai-partai yang awalnya dinilai publik berseteru PDIP a�� Gerindra a�� Partai Demokrat, justru menjadi pasangan yang mesra. Tiga partai besar ini mengusung pasangan Rosiady Sayuti a�� Kasdiono. Sementara pasangan petahana Ahyar Abduh a�� Mohan Roliskana didukung oleh partai lainnya, diluar tiga partai tersebut.

Politik di Kota Mataram memang dinamis. Sejak awal muncul nama Abdul Karim yang digadang-gadang akan didukung partainya, Gerindra dan rencana akan koalisi dengan Partai Demokrat. Rencana koalisi ini gagal. Kasdiono yang sejak awal diusung Partai Demokrat, masih a�?jombloa�?. Kemudian muncul nama Hj Putu Selly Andayani, birokrat senior di Pemprov NTB. Namanya disebut lantaran istri Ketua DPD PDIP NTB Rachmat Hidayat ini cukup memiliki nama dan pengalaman. Tapi tiba-tiba muncul nama Rosiady Sayuti. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB ini disandingkan dengan Kasdiono. Dua orang ini memang tangan kanan Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi.

Di Kabupaten Lombok Utara (KLU), dua dedenongkat KIH dan KMP, PDIP dan Gerindra justru menjadi pasangan paling romantis. Sejak awal dua partai ini mendeklarasikan diri mengusung paket Najmul Akhyar a�� Syarifudin. Najmul Akhyar adalah Wakil Bupati Lombok Utara, bukan orang partai. Didukung oleh PDIP. Sementara wakilnya Syarifudin adalah Ketua DPC Gerindra Lombok Utara. Pasangan ini didukung juga oleh PBB, PKB, dan PAN.

Sementara itu pasangan Djohan Sjamsu a�� Mariadi diusung oleh Partai Demokrat, PKS, Hanura, Nasdem, PKPI dan Golkar. Tapi sempat terjadi ketegangan ketika diajukan berkas Golkar. Pasalnya Golkar versi Agung Laksono belum memberikan dukungan. Padahal KPU mensyaratkan partai yang bertikai, kedua kubu harus islah, mengusulkan bersama.

a�? Realitas politik di pusat dengan daerah memang berbeda, tidak ada lagi KIH dan KMP,a��a�� kata pengamat politik Dr Kadri pada Lombok Post, kemarin.

Koalisi yang terbangun di Kota Mataram dan Lombok Utara ini menjadi cerminan jika pilihan politik di pusat berbeda dengan daerah. Apa yang menjadi keinginan elit politik di pusat berbeda dengan daerah.

a�?Realitas politik berbeda di daerah,a��a�� ujarnya.

Kemesraan koalisi ini juga berbeda-beda di tiap daerah. Ada tujuh daerah yang akan pilkada serentak di NTB. Dari tujuh daerah ini, tidak ada koalisi permanen. Artinya koalisi parpol di masing-masing daerah berbeda.

Di Lombok Tengah, pasangan Suhaili a�� Pathul Bahri diusung PKS a�� Gerindra. Pasangan ini juga mengklaim diri didukung Partai Golkar, walaupun belakangan belum bisa diverifikasi lantaran masih adanya dualisme kepengurusan di DPP.

Gde Sakti berpasangan dengan Lalu Wira Jaya. Pasangan ini diusung PKB, Nasdem dan Hanura. Kemudian pasangan HL Suprayatno (Gde Derip) berpasangan dengan Zainul Aidi diusung Partai Demokrat, PBB, PDIP, dan PKPI.

Koalisi di Lombok Tengah ini berbeda dengan koalisi di Kota Mataram. Di Lombok Tengah justru PKS a�� Gerindra menjadi pasangan mesra. Padahal di Lombok Utara dan Kota Mataram mereka berada di kubu yang berbeda.

a�?Tidak ada namanya koalisi permanen di politik,a��a�� kata Dr Kadri.

Di Kabupaten Dompu, ada empat pasangan yang diusung koalisi parpol. Pasangan Mulyadin a�� Kurniawan didukung PKS, PDIP, Partai Demokrat. Pasangan Bambang M Yasin a�� Arifudin diusung Nasdem, Gerindra, dan Hanura. Sementara pasangan Safrudin a�� Rafiuddin diusung PAN dan PKB. Abubakar-Kisman diusung Partai Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Bulan Bintang.Lagi-lagi koalisi di Kabupaten Dompu ini, parpol-parpol terpencar.

a�?Pertarungan pilkada ada di kabupaten kota. Elit di tingkat provinsi dan pusat hanya supporting saja,a��a�� kata Kadri.

Di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), ada tiga pasangan calon yang diusung koalisi parpol. Musyafirin a�� Fud Syaifuddin diusung Nasdem, PDIP, PKB, PBB, PKS, dan PPP vesi Romi. Pasangan Mala Rahman a�� Iwan Panjidinata diusung Gerindra, Golkar, Partai Demokrat dan PPP versi Djan. Pasangan Nur Yasin a�� Masrajayadi diusung PAN dan Hanura.

Kabupaten Sumbawa muncul tiga calon. Pasangan Husni Djibril a�� Mahmud Abdullah diusung PDIP, Partai Demokrat, dan PPP. Pasangan Asaat Abdullah a�� Chandra Wijaya Rayes diusung Hanura, Nasdem, PKPI, PPP. Pasangan Jack Morsa a�� Iwan Rahadi diusung Gerindra, PKS, PBB.

Barangkali dari semua koalisi ini, hanya koalisi di Lombok Tengah dan Sumbawa yang sama. Tapi itu hanya koalisi PKS dengan Gerindra. Pasangan Jack Morsa a�� Iwan Rahadi ini memang mengejutkan. Partai Gerindra sendiri kabarnya sudah lama didekati Mokhlis. Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTB ini juga lama melobi PKS. Bahkan sempat beredar atribut pasangan Mokhlis a�� Baijuri yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN. Tapi detik-detik terakhir berubah, Gerindra dan PKS membentuk koalisi. PAN akhirnya ketinggalan kereta, tidak memiliki calon.(fat/dss/puj/jar/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys