Ketik disini

Giri Menang

Sosok dan Kiprah Ali Sadikin Salah Satu PPL Teladan Nasional (1) Ubah Pola Pikir Petani, Tak Nyerah Walau Ditentang Berjamaah

Bagikan

Giri menang 

ALI SADIKIN, telah menjadi penyuluh selama sembilan tahun terakhir. Pria kelahiran 1967 itu statusnya sebagai penyuluh honorer. Selama sembilan tahun pengabdiannya itu, dia sungguh bekerja dengan ikhlas. Di pikirannya, cuma ada satu hal. Bagaimana agar para petani menjadi petani berhasil.

Lihatlah aktivitasnya. Tiada hari dia lalui tanpa penyuluhan. Nyaris seluruh hidupnya, dia habiskan dari menyambangi petani ke petani. Begitu seterusnya tiap tahun. Selama sembilan tahun tiada henti. Dia adalah bapak bagi para petani di Desa Sesela, Gunungsari, Lombok Barat, tempat dia bertugas.
Ali, demikian Ali Sadikin karib disapa, dinilai sebagai penyuluh yang berhasil, lantaran dia menyentuh pola pikir para petani dalam bercocok tanam. Pola pikir itulah yang dia ubah. Kendati seluruh prosesnya tidaklah mudah.

Dia mengaku, pola pikir para petani sudah tertanam sedari awal soal bagaimana bertani. Dia maklum. Petani memang belajar dari alam. Belajar dari pengalaman. Memperoleh ilmu tentang cara bertani secara turun-temurun.

Sulit bagi petani jika tiba-tiba mereka harus mengubah pola tanam itu. Para petani Sasak umumnya, bukanlah tipe petani petarung, yang senang uji coba metode bercocok tanam ini dan itu. Petani di NTB memang lempeng, dan mereka lurus dengan keyakinannya.

Tentu saja, perjalanan Ali tak mulus. Pergolakan batin memang pernah dirasakan di saat petani yang tidak mau mengikuti metode yang ia beritahukan. ”Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya memang butuh proses,” katanya pada koran ini kemarin.
Ia menyadari benar merubah pola pikir tidak akan mudah. Tapi ia memiliki keyakinan bisa melakukannya karena ini semua demi kebaikan dan kehidupan petani yang semakin sejahtera.

Sejak datang pada tahun 2006 silam ke Desa Sesela, ia pun melakukan penjajakan dengan petani yang ada. Ternyata cerita orang selama ini yang menakuti cukup jauh berbeda dari kenyataan warga Desa Sesela. ”Setelah didalami dan lebih dekat ternyata membuat kita masuk dalam kedekatan kekeluargaan di desa ini,” kenangnya.

Dari kedekatan itulah, dia memulai semuanya. Kedekatan ini sebagai awal memasuki dunia warga dan petani di Desa Sesela. Saat itulah ia menggali informasi yang sebanyak-banyaknya bagaimana pola tanam petani dan pola pemeliharaan ternak peternak selama ini di desa.

Ia juga banyak kali melakukan pertemuan dengan petani dan berinteraksi langsung baik di lapangan atau sekitar desa. ”Saat itu memang saya dapat informasi pola tanam petani yang ada dan mulai perlahan menerangkan metode lainnya. Memang awalnya belum ada petani ikut, bahkan perlu pendekatan yang lebih lagi,” ujarnya.

Berbulan-bulan pun berjalan, ia tetap semangat memberitahukan metode yang lebih baik. Targetnya awalnya memang melakukan perubahan sistem penanaman khususnya di kedelai yang selama ini dengan cara pola sebar sekarang sistem tanam tugal dengan dua biji perlubang. ” Sistem tanam tunggal ini bertujuan memperoleh produksi kedelai yang lebih baik, terutama mutu dan jumlah produksinya,” jelasnya.

Ia pun berpikir kalau petani harus mendapatkan contoh hasil dulu untuk merubah pola pikirnya. Ia pun memberikan contoh praktek dengan demplot.
Contoh ini untuk salah satu cara membandingkan hasil dan proritasnya. ”Petani ini kalau belum lihat dan tahu hasil, belum mau merubah. Dengan melihat hasilnya, batu sekitar dua atau tiga tahun masyarakat baru merubah pola tanamnya selama ini,” terangnya.

Selain memberikan contoh, ia juga melakukannya dengan study banding ke tempat yang sudah mempraktikkan dan menghasilkan dengan pola tanam tersebut.
Dengan beginilah akhirnya petani pun mulai perlahan mengikuti apa yang dijelaskan. Kesabaran pun berbuah manis dan akhirnya kini hasilnya sudah dirasakan petani.
Sembilan tahun kemudian, NTB menjadi lokasi penangkaran benih kedelai unggul di Indonesia. Bahkan, kini menjadi pusat pendidikan dan penelitian hingga tamu dari nasional se-Indonesia datang berduyun.

Sementara itu Kepala Desa Sesela Asmuni merasakan keberhasilan pertanian di Desa Sesela ini berkat dukungan semua pihak baik dari petani, penyuluhnya, dan pihak desa.

Kesemuanya saling melengkapi untuk mendapatkan hasil baik. ”Pak Ali ini mengajak petani dari metode tradisional ke metode yang modern dan membawa hasil yang besar untuk petani,” katanya. Apa yang ditoerahkan Ali, menjadi kebanggaan desa. (NURUL HIDAYATI)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *