Ketik disini

Feature

Dapat Menu Makan Pembalap, Sempat Takut Tidak Cocok

Bagikan

Tour de France sudah selesai. Rombongan Jawa Pos Cycling melanjutkan perjalanan ke Belgia, negara yang gila balap sepeda. Di sana merasakan hidup ala Team Sky, plus bersepeda di jalanan berbatu yang menanjak curam (bonus cuaca dingin dan angin kencang).

***

PERJALANAN rombongan Jawa Pos Cycling 2015 ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bila dulu berakhir bersamaan dengan event yang diikuti, tahun ini masih berlanjut setelah Tour de France ditutup di Paris, Minggu, 26 Juli lalu.

Tujuannya Belgia! Negara yang masyarakatnya sangat gila balap sepeda, serta memiliki lomba superkondang di kawasan yang sangat berkarakter.

Lomba itu bernama Tour of Flanders, satu di antara lima one-day race (lomba satu hari alias Classic) paling bergengsi di dunia.

Biasanya, Tour of Flanders diselenggarakan pada Maret/April, saat musim semi. Lomba ini dikenal sangat-sangat menantang. Jaraknya di kisaran 250 km, melawan hawa dingin dan angin kencang.

Dan, yang membuatnya paling terkenal: Pembalap harus menaklukkan jalanan berbatu kasar (cobble road). Termasuk tanjakan-tanjakan curam yang terbuat dari jalan batu!

Tour of Flanders, bersama Paris-Roubaix, merupakan dua balapan yang dianggap paling berat di dunia.
Nah, selama di Belgia, rombongan Jawa Pos Cycling – yang terdiri atas 13 cyclist Indonesia, dua Malaysia, dan satu Singapura – berencana merasakan jalanan berbatu tersebut. Termasuk tanjakan-tanjakan berbatu yang paling terkenal.

Bukan hanya itu, bersama Rapha, rombongan akan mendapatkan “Team Sky Experience”, merasakan pengalaman hidup ala tim pemenang Tour de France tersebut.

Maksudnya: Tinggal di hotel yang dipakai Team Sky, makan menu Team Sky, serta mengunjungi service course (markas) Team Sky yang memang berada di Belgia.

Semua itu dijadwalkan berlangsung dengan padat selama empat hari, Senin sampai Kamis, 27 – 30 Juli. Setelah itu, rombongan kembali ke Paris, Prancis, dan terbang kembali ke Indonesia/Malaysia/Singapura.

***

Setelah menonton etape penutup Tour de France 2015 di Champs-Elysees, Paris, Minggu 26 Juli, rombongan harus bangun pagi keesokannya.

Senin pagi itu, rombongan naik kereta dan bus menuju Belgia. Dari Paris naik kereta hingga Lille, kota penyelenggara Piala Eropa 2016 yang terletak di ujung utara Prancis.

Hanya sekitar satu jam, sudah sampai Lille. Setelah itu naik bus lagi tak sampai satu jam menuju Kortrijk, Belgia. Di kota berpenduduk sekitar 75 ribu orang itulah rombongan akan tinggal selama di Belgia.

Hotelnya bernama Messeyne, sebuah hotel bintang empat di pusat kota. Hotel itu dipilih karena itulah hotel yang digunakan sebagai “markas” oleh Team Sky, tim juara Tour de France, saat Spring Classics atau training camp di kawasan tersebut.

Spring Classics adalah sederetan lomba satu hari yang digelar pada Maret”April. Sebagaimana ditulis di atas, dua yang paling kondang adalah Paris-Roubaix dan Tour of Flanders. Selain itu, ada E3 Harelbeke, Gent-Wevelgem, dan beberapa lainnya.

Jadi, setiap tahun, selama sekitar sebulan, Team Sky mengeblok Hotel Messeyne tersebut. Sebab, lomba-lomba itu memang diselenggarakan dalam radius 150 km.

Plus, service course (markas kerja) Team Sky juga tak jauh dari Kortrijk.

Hotel itu punya ruangan besar di belakang, yang dijadikan gym oleh Team Sky saat base camp di situ. Di dindingnya ada sederet jersey Team Sky.

Tidak hanya menginap di hotel Team Sky, pada hari pertama itu, kami akan lunch dan dinner di Messeyne, mendapatkan menu makan ala Team Sky.

Senin pagi sebelum ke Belgia (27/7), ketika diberi tahu soal menu Team Sky, kami sempat terhenyak. Kami tahu, pembalap sepeda merupakan atlet yang makannya paling dijaga.

Mereka harus sangat-sangat kurus, tapi sangat-sangat fit.

“Kita (orang biasa, Red) kalau makan selalu berusaha memenuhi tangki. Kalau pembalap, selalu makan secukupnya, tangki tidak pernah dipenuhi. Hanya diisi sesuai dengan kebutuhan saat itu,” jelas James Heraty, operations manager Rapha Travel.

“Badan pembalap sepeda itu pada dasarnya adalah mobil Formula 1, disetel sesuai kebutuhan,” komentar Prajna Murdaya, dari Jakarta.

Ada pula cerita-cerita “horor” bagaimana porsi makan para pembalap sangat dikawal. Mulai jumlahnya ditimbang, tidak boleh ini, tidak boleh itu, dan lain sebagainya.

Misalnya, tidak boleh camilan keripik kentang. Ketika Ian Stannard, pembalap Team Sky, memenangi salah satu balapan Spring Classics awal tahun ini, dia dapat hadiah boleh makan keripik kentang. Tapi hanya dua biji!

Takut bakal tidak kenyang atau tidak cocok, beberapa mencoba mencari makanan lain selama perjalanan ke Kortrijk. Ada yang beli sandwich, cokelat, serta camilan lain, termasuk keripik kentang!

Tapi, ternyata segala kekhawatiran itu tak berujung kekecewaan.

Begitu tiba di hotel, kami langsung menuju ruang makan. Menunya? Ada daging tuna, keju, salad hijau, sup tomat, serta spaghetti bolognaise. Dan rasanya luar biasa!

“Spaghetti-nya tidak terlalu lunak, tidak terlalu keras, tidak kering. Sangat pas,” komentar John Boemihardjo, 36, dari Surabaya Road Bike Community.

***

Seusai makan siang, kami diajak bersepeda di sekeliling Kota Kortrijk. Rute hari itu hanya sekitar 50 km, melintasi kota, pedesaan di sekeliling, jalan-jalan kecil berbukit, dan sedikit jalan bebatuan.

“Hari ini adalah hari penyesuaian. Mencicipi seperti apa Belgia, sebelum melewati rute-rute yang lebih berat,” kata Anton Blackie dari Rapha, yang menjadi guide utama hari itu.

Bulan Juli, seharusnya, adalah bulan musim panas. Namun, tampaknya, kami disambut dengan cuaca musim semi, mirip dengan cuaca saat lomba-lomba Spring Classics.

Suhu udara di angka belasan, tak sampai 20 derajat Celsius. Langit sangat berawan. Dan anginnya. Ampun!
Angin kencang dari depan dan samping menggempur kami selama perjalanan. Misalnya, saat di tengah kota, ketika terlindung bangunan-bangunan tidak seberapa terasa. Tapi, ketika ada rongga kosong antara gedung, tiba-tiba sepeda dan badan kami seperti didorong dari samping.

Ketika angin dari depan, melaju 25 km/jam saja susah.

Untungnya, ketika perjalanan pulang, kami didorong angin, jadi jauh lebih nyaman. Dan jalanan Belgia memang luar biasa. Aspalnya mulus, dan tidak membosankan karena ada bagian berbatu, paving modern (seperti di Indonesia), batu kuno lagi, dan kembali aspal. Sangat variatif.

Jalanan pedesaan, di antara peternakan dan perkebunan, walau sempit, juga mulus. Lebih asyik lagi adalah kelok-kelokan dan naik-turunnya. Sangat mengalir. Seperti naik roller coaster.

Menurut rencana, baru pada dua hari berikutnya kami akan menjajal rute-rute lomba Tour of Flanders. Termasuk tanjakan-tanjakan curamnya yang berbatu. Jadi tidak sabar!

Begitu sampai lagi di Kortrijk, kami hang out dulu di sebuah kafe/bar di tengah kota, tak jauh dari hotel.

Dan menu makan malam di hotel? Lagi-lagi luar biasa! Tuna salad sebagai pembuka, lalu dada ayam panggang dengan asparagus. Benar-benar menu sehat.

Hari pertama itu pun memberikan harapan, bersepeda di Belgia bisa lebih asyik daripada di Prancis. Minimal memberikan rasa dan pengalaman yang sangat, sangat berbeda. (bersambung/Azrul Ananda/Yudy Hananta/Kortrijk)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *