Ketik disini

Opini

El Nino Dan Perkembangan Kondisi Musim Kemarau 2015 Di NTB

Bagikan

* Oleh : Wan Dayantolis,

(Head of Section for Data and Information Climatology Station Kediri-Mataram, The Indonesian Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics/BMKG)

Wilayah NTB sebagaimana wilayah Indonesia lainnya hanya memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan umumnya berlangsung mulai pertengahan November hingga akhir Maret yang dimulai dari bagian barat yaitu Pulau Lombok dan kemudian menjalar hingga Bima. Adapun musim kemarau umumnya berlangsung pada awal April hingga akhir November yang dimulai dari bagian timur yaitu Bima dan kemudian bergerak menjalar ke arah barat ke Pulau Lombok.

Secara sederhana, terdapat empat faktor pengendali musim/hujan di Indonesia yang tentunya mencakup wilayah Nusa Tenggara Barat yaitu :

– El nino dan La Nina

El Nino dan La Nina berkaitan dengan dinamika suhu muka laut di Samudera Pasifik. Pada fase EL NINO yaitu dimana saat suhu muka laut di Pasifik bagian timur menjadi lebih hangat dibanding pada bagian baratnya maka massa udara dari wilayah Indonesia akan “ditarik” menuju Pasifik bagian timur. Dampaknya curah hujan di Indonesia menjadi berkurang. Kondisi inilah yang sedang terjadi saat ini pada periode kemarau 2015 di NTB. Sebaliknya pada fase LA NINA, yaitu jika suhu muka laut di Pasifik bagian timur menjadi lebih dingin dibanding pada bagian baratnya, maka massa udara dari Pasifik akan bergerak memasuki wilayah Indonesia. Akibatnya curah hujan di Indonesia akan meningkat.

– Angin Monsun

Terjadinya musim hujan dan musim kemarau di NTB berkaitan dengan aktivitas angin monsun. Pada saat monsun baratan, maka massa udara dari Asia dan Samudera Hindia bergerak memasuki wilayah maritim Indonesia. Sifat massa udara tersebut basah sehingga meningkatkan potensi hujan yang menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia termasuk NTB mengalami musim hujan. Adapun pada saat monsun timuran aktif massa udara bergerak dari sekitar Benua Australia dan bagian tenggara samudera Pasifik ke arah barat Indonesia. Dengan sifat massa udaranya yang kering maka potensi hujan menjadi berkurang sehingga wilayah NTB akan mengalami kemarau. Kondisi ini yang sedang berlangsung saat ini sejak April 2015.

– Dipole Mode

Dipole Mode merupakan dinamika suhu muka laut antara pantai barat Sumatera dengan pantai bagian timur di Afrika. Jika suhu muka laut di pantai barat Sumatera lebih hangat maka massa udara dari samudera Hindia bagian barat akan memasuki wilayah Indonesia khususnya bagian barat yang berarti akan terjadi peningkatan curah hujan. Sebaliknya jika suhu muka laut di pantai barat Sumatera lebih dingin maka Indonesia akan kehilangan massa uap air karena bergerak ke pantai timur Afrika. Kondisi saat ini aktivitas Dipole Mode terpantau dalam kondisi netral yang artinya tidak ada pergerakan massa udara signifikan dari dan ke pantai timur Afrika.

– Suhu Muka Laut.

Suhu muka laut di sekitar NTB dan wilayah maritim Indonesia saat ini terpantau lebih hangat. Artinya potensi penguapan air laut yang akan berproses menjadi hujan masih berpeluang terjadi.

2. Perkembangan Kemarau 2015 dan Prediksi Awal Musim Hujan 2015/2016

Berdasarkan pantauan Stasiun Klimatologi Klas I Kediri – BMKG NTB, kemarau 2015 sudah mulai terjadi sejak akhir Maret 2015 untuk wilayah Bima hingga Sumbawa Barat dan pertengahan Mei 2015 untuk wilayah Lombok. Akhir April 2015 terdapat anomali pola angin monsun baratan yang menyebabkan curah hujan di NTB sempat tinggi yang menyebabkan awal kemarau di Lombok bergeser ke pertengahan Mei. Anomali yang menyebabkan terjadinya hujan ekstri tersebut kemudian memicu terjadinya banjir di beberapa wilayah Kabuapten Lombok Barat.

Selanjutnya berdasarkan update informasi kekeringan pada 21 Juli 2015, terpantau beberapa tempat di NTB yang sudah tidak mengalami hujan lebih dari 60 hari yaitu Senaru, Lape, Buwun Mas, Banter Gerung, Pelangan, Labuhan Haji, Masbagik, Pringgasela, Rensing, Sembalun, Sukamulia, Batulanteh, Diperta SBW, Empang, Lab. Badas, Sebewe, Stamet Sumbawa, Tarano, Huu, Manggalewa, Pajo, Bolo, Madapangga, Stamet Bima, Wera, Woha, Raba, Moyo Hilir, Moyo Hulu, Donggo, Lambu, Monta, Palibelo (Teke), Rhee, Palibelo Panda, Sape. Hal ini menunjukkan pada tempat-tempat tersebut kekeringan meteorologis sudah berlangsung. Jika kondisi ini berlanjut maka tentunya akan diikuti oleh kekeringan hidrologis yang ditandai sepertinya keringnya sumur-sumur, mata air dan turunnya muka air sungai, danau ataupun waduk-waduk. Adapun wilayah lainnya sudah tidak mengalami hujan antara 31 hingga 60 hari yang umumnya tersebar disekitar Lombok.

Pertanyaan selanjutnya yang sering muncul adalah sampai kapan kemarau ini akan berakhir ? Berdasarkan prediksi beberapa institusi internasional termasuk BMKG sendiri, El Nino akan aktif hingga awal Januari 2016. Jika kondisi El Nino saat ini dibandingkan dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya maka coraknya akan mirip dengan kondisi 2002 dan 2009 dimana pada tahun-tahun tersebut umumnya Awal Musim Hujan mundur. Jika kondisi 2015 akan sama dengan kedua tahun tersebut maka bisa jadi kemarau 2015 di NTB akan mundur hingga pertengahan Desember 2015 akibat dari mundurnya Awal Musim Hujan 2015/2016.

Apakah selama kemarau tidak ada hujan sama sekali ? Tentu tidak. Musim kemarau bukan berarti hujan sama dengan “nol” tetapi artinya kejadian tidak hujan lebih sering dibanding kejadian hujan. Secara definisi BMKG curah hujannya kurang dari 150 mm perbulan. Akan tetapi memang secara umum puncak kemarau di NTB ditandai dengan hujan yang sangat rendah berkisar 0-20 mm perbulan yang biasanya berlangsung pada Juli hingga Agustus. Kondisi ini kemudian diperparah dengan adanya El Nino dimana sejak Juni curah hujan sudah sangat rendah.

Hal yang perlu di catat, tanpa El Nino kemarau di NTB selalu diwarnai dengan krisis air di beberapa tempat. Kondisi memang secara alami terjadi karena distribusi air tanah yang tidak sama dimana beberapa tempat memiliki sumber air yang melimpah dan lainnya sangat terbatas. Dengan demikian, pada daerah yang sumber airnya terbatas akan mengalami defisit air pada saat kemarau tiba. Hal ini menjadi tantangan bagi kita bagaimana mengelola air yang melimpah pada saat musim hujan menjadi cadangan air pada saat kemarau. Tentunya selain peran pemerintah, kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan hidup sangat dibutuhkan. Seperti kata orang bijak, “sumber daya alam bukan milik kita tetapi warisan anak cucu kita”.

3. Diseminasi Informasi Musim

Stasiun Klimatologi Kediri NTB setiap bulan mengirimkan informasi prakiraan hujan dan informasi kekeringan pada lebih dari 100 instansi terkait mulai dari Provinsi hingga penyuluh di 75 kecamtan-kecamatan se-NTB. Informasi tersebut dapat diakses pula secara gratis pada http://iklim.ntb.bmkg.go.id. Sedangkan sosial media “facebook” dapat diakses pada alamat http://facebook.com/klimatkediri dan “twiter” dgn nama @kedirintb.(*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *