Ketik disini

Giri Menang

Mengubah Pola Tanam Kedelai, Petani Raup Rp 25 Juta Satu Hektare

Bagikan

A�SESELA, kini bahkan nyaris menjadi rumah utama bagi Ali Sadikin. Rumahnya sebetulnya ada di Narmada. Namun, dia menjejak tempat tinggalnya itu, semata hanya untuk beristirahat belaka. Selebihnya, dia hanya bergelut dengan para petani di Desa Sesela, tempat dia ditugaskan.
a�?Saya malah lebih sering dan paling lama di sini. Kalau ke Narmada paling pulang saja untuk istirahat,a�? kata pria kelahiran 1967 ini pada Lombok Post.

Boleh dibilang, Ali kini memang hanya tinggal memetik hasil buah kerja kerasnya selama sembilan tahun. Alhasil, dia menjadi rujukan utama bagi para petani setempat. Apa yang dianjurkannya, segera dijalankan oleh para petani.

Bahkan, baru saja ia bersama petani setempat melakukan uji coba menanam palawijaya pada masa tanam pertama. a�?Padahal kalau masa tanam pertama harusnya padi. Tapi kami mencoba menanam kedelai saat semua menanam padi pada lahan 10 hektar,a�? katanya.

Pola ini tentu saja mengubah pola tanam tradisional. Di mana tanaman padi menjadi tanaman yang didahulukan. Sementara palawija menjadi tanaman ketiga setelah dua kali tanaman padi.
Ternyata, hasilnya pun luar biasa. a�?Kami menguji coba pada lahan sekitar 10 hektare untuk menanam kedelai. Hasilnya satu hektare dapat 1,9 ton kedelai,a�? katanya.

Jumlah itu cukup bagus karena melebihi dari target provinsi untuk penanaman kedelai perhektarnya sebanyak 1,3 ton.

Saat ini masa panen kedelai mulai dirasakan petani di Desa Sesela yang ada di areal 10 hektare. Tanam kedelan rencananya akan dilanjutkan lagi pada musim tanam kedua pada Juli hingga Oktober. a�?Kita harapkan, musim tanam kedua bisa serentak nanam kedelai,a�? katanya.
Selain waktu tanam, cara menanam kedelain pun turut diubah Ali. Biasanya petani menggunakan sistem sebar tidak teratur. Dan Ali Sadikin melarang itu. Mengubahnya dengan sistem penugalan yang satu lubang berisi dua benih.

a�?Memang biaya penugalan mahal. Inilah yang menjadi pertimbangan petani kenapa dulu lebih memilih sistem sebar. Biaya penugalan perhektare membutuhkan sekitar Rp 1,2 juta,a�? terangnya.

Meminta petani menanam ke penugalan membutuhkan waktu dan proses. Dengan arahan dan melihat peluang pasar, petani mau diajak menanam kedelai dengan sistem penugalan.

Apalagi belum berkembangnya penyediaan pembenihan unggul membuat peluang pasar petani Sesela kini terbuka lebar untuk mengembangkan benih unggul kedelai.

Ia mengatakan walaupun dengan sistem penugalan mahal, tapi hasil itu akan terbalaskan. Bisa dibayangkan untuk pembenihan harga jual akan lebih tinggi dari kedelai yang dikonsumsi.

Dengan hasil hingga 1,9 ton per hektare, dengan harga kedelai Rp 15 riu per kilogram, maka petani akan mendapat Rp tak kurang Rp 25 juta untuk tanaman satu hektare. a�?Bayangkan. Padahal biaya penugalan hanya Rp 1,2 juta,a�? katanya. (r12/)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *