Ketik disini

Headline Pendidikan

Tak Boleh Ada Kekerasan

Bagikan

MATARAM – Pelaksanaan Masa Orientasi Penerimaan Peserta Didik Baru (MOPDB) mendapatkan perhatian dari DPD RI. Mendapat laporan dari masyarakat adanya kekerasan, DPD RI langsung turun ke sekolah-sekolah di Mataram memastikan kabar tersebut. Kemarin (29/7), DPD RI melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sekolah-sekolah Mataram.

Kunjungan DPD RI Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi ke sekolah-sekolah ditemani Ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi, Kepala Dinas Dikpora Mataram H Sudenom, Kabid Dikmen HL Abdul Hamid dan Kabid Dikdas H Zainal Arifin.

MOPD di Kota Mataram dikeluhkan wali murid. Ia merasa anaknya tak nyaman melaksanakan MOPDB. Pasalnya tidak pernah tidur pagi mengerjakan tugas selama MOPDB.

a�?Anak saya tiap malam begadang. Ini kan bentuk hal yang tidak mendidik,a�? kata salah seorang wali murid SMAN 1 Mataran Hasan pada Lombok Post, kemarin (29/7).

Disamping itu, ia mengeluhkan jadwal pulang yang berubah-ubah.

a�?Kami sebagai orangtua kesal dengan tidak tepat jadwal pulang,a�? keluhnya.

Namun yang paling mengesalkan ketika anaknya diminta untuk membawa barang yang aneh-aneh ke sekolah. Hal ini akan membuat kenangan yang tidak menyenangkan secara pribadinya.

Sidak DPD RI pertama dilakukan di SMAN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram dan terakhir mengunjungi SMKN 2 Mataram. Kunjungan ke Smansa sebutan SMAN 1 Mataram disambut para siswa baru yang pada waktu itu melaksanakan MOPDB di lapangan sekolah. Para tamu yang hadir ini tidak asing lagi bagi siswa baru. Dimana mereka tahu nama pejabat yang datang ketika menyebutkan namanya.

Di sela-sela memberikan materi dan perkenalan kepada siswa baru, DPD RI Baiq Diyah Ratu Genefi memanggil salah satu siswa untuk diajak berbicara di depan. Dalam bahasa digunakan siswa seperti militer. Sebab setiap diajak ngomong siswa selalu bilang a�?siapa�?. Selain itu, ia juga melihat adanya pemandangan berbeda pada siswa baru. Yakni siswa sebagian besar rambutnya pendek tanpa terkecuali.

a�?Apakah kalian senang dengan potongan rambut plontosa�? tanya Diah.

Siswa menjawab siap, kami senang. Meski demikian, ia melihat ada tekanan diberikan pihak sekolah atau OSIS melaksanakan MOPDB pada siswa SMAN 1 Mataram ini.

a�?Kami melihat ada tekanan pada MOPDB di SMAN 1 Mataram,a�?katanya.

Kedepan ia akan melakukan pengawasan pada MOPDB di sekolah. Ia melihat ada beberapa kejanggalan pada MOPDB di sekolah. Tapi di sekolah lain yang dikunjungi sudah bagus. Menurutnya, MOPDB menjadi edukasi di sekolah. Jangan ada militer seperti rambutnya cepak.

a�?Jangan sampai ada siswa yang kepalanya gundul. Kami yakin tak ada siswa mau di didik secara keras,a�?ujar wanita asal Mataram.

Ia membedakan penampilan di SMAN 1 Mataram dengan SMKN 2 Mataram. Di SMKN 2 Mataram MOPDB dilaksanakan dengan baik, tak ada siswa yang aneh-aneh. Beda dengan SMAN 1 Mataram siswa baru ditempel karton didepannya dan rambut semua siswa cepak. Kedepan MOPDB dijalankan dengan baik. Keluarga, guru, penitia ikut terlibat dalam pengawasan MOPDB.

a�?Bagaimanapun pendidikan harus nyaman bagi anak,a�?cetus wanita berjilbab ini.

Ditambahkan, Kemendikbud melarang keras adanya tindakan kekerasan pada MOPDB. Kedepan, sebelum MOPDB pihaknya akan mengawasi lebih baik. Sebelum berkunjung ke sekolah, ia akan meminta laporan apa saja yang diajarkan dan ketentuan sekolah pada MOPDB.

Sementara Komisi IV DPRD Mataram I Gusti Bagus Hari Sudana Putra juga berharap tidak ada aksi kekerasan terhadap siswa baru. Hari berharap MOPDB bisa diisi dengan kegiatan yang bermanfaat seperti wisata sekolah, pengenalan ekstrakurikuler serta kegiatan lain yang dilandasi prinsip pengembangan pendidikan karakter. Kegiatan MOPDB diharapkan bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab, disiplin, mandiri.

a�?Kalau siswa disuruh membawa barang-barang tertentu selama MOPDB masih bisa ditoleransi, dengan cacatan barang itu wajar dan tidak memberatkan.Tapi jangan sampai menghukum siswa dengan push-up,a�? katanya.

Ditambahkan, pihaknya juga tidak menginginkan terjadi aksi kekerasan hanya karena balas dendam kakak kelas terhadap siswa baru. Jika sampai ditemukan adanya MOPDB dengan model kekerasan maka yang paling bertanggung jawab adalah pihak sekolah. Apalagi pihaknya sudah mengimbau pihak sekolah tak melakukan kekerasan pada MOPDB.

a�?Kami sudah bilang SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5 dan lainnya jangan melakukan kekerasan,a�? ujar pria asal Cakra ini.

Terpisah Kabid Dikmen Dinas Dikpora Mataram HL Abdul Hamid mengatakan, terkait pelaksanaan MOPDB selama sekitar tiga hari tersebut, dinas juga telah menyampaikan imbauan kepada para kepala sekolah melalui rapat.

a�?Kami minta pihak sekolah untuk tak melakukan aksi kekerasan pada MOPDB,a�? ujar pria berkumis ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Dikpora Mataram H Sudenom mengatakan, ia sudah menginstruksikan pihak sekolah untuk tidak melakukan kekerasan pada MOPDB di sekolah. Terkait adanya sekolah yang masih melakukan MOPDB seperti sistem militer dinilai masih wajar.

a�?Tidak sampai melakukan pemukulan kepada siswa baru,a�? katanya. (jay/r10)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *