Ketik disini

Metropolis

Penimbunan Lobster Digerebek

Bagikan

MATARAM – Salah satu usaha penampungan lobster di Desa Lembar, Lombok Barat digrebek, kemarin (31/7). Balai Karantina Ikan Mataram bersama aparat kepolisian melakukan penyitaan terhadap ratusan lobster berukuran di bawah 200 gram yang tengah dibudidayakan di lokasi tersebut.

Penyitaan terhadap ratusan lobster tersebut dalam rangka menjalankan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan. Permen yang kini masih menuai pro kontra tersebut memang melarang penangkapan lobster di bawah ukuran 200 gram.

a�?Awalnya, kita melakukan pengawasan dan ditemukan ada penyimpanan dan menampung di bawah ukuran yang ditentukan,a�?
kata Wahyu Bambang, Penanggungjawab Karantina Ikan wilayah kerja Lembar.

Setidaknya terdapat 238 lobster yang disita petugas. Sekitar sembilan di antaranya sudah mati selama penampungan. Hasil pemeriksaan, rata-rata lobster tersebut masih berbobot sekitar 139 gram. Lantaran bobotnya tak sesuai aturan, lobster itu pun wajib hukumnya dilepasliarkan ke habitat aslinya.

a�?Hasil sitaan ini langsung kita lepaskan kembali ke Perairan Lembar,a�? lanjut Wahyu.

Ia pun kembali menegaskan kepada pelaku usaha penangkapan maupun penampungan lobster untuk tidak mengambil lobster dengan ukuran di bawah 200 gram. Pihaknya berharap masyarakat bekerja sama menegakan aturan yang sudah tertuang dalam Permen Kelautan Perikanan.

Sementara, pengepul lobster tidak dijerat hukum. Pihaknya masih memberi toleransi dengan melakukan pembinaan agar hal serupa tidak terulang di kemudian hari.

a�?Sekarang kita hanya pembinaan dulu, sebagai efek jera. Ini sudah dua kali pengepul yang sama melanggar aturan. Kalau terulang lagi, berkasnya kita serahkan ke penyidik saja biar diproses hukum,a�? tegas Wahyu.

Sementara, Jaelani selaku pemilik penampungan lobster tersebut tak dapat berkutik. Ia memang paham adanya aturan yang melarang penangkapan lobster berbobot di bawah 200 gram.

Menurutnya, pengepul yang berada di tengah mata rantai bisnis lobster juga serba salah. Mereka tahu aturan batasan berat lobster, tetapi mereka menerima semua yang disetor.

a�?Saya ikut sulit menolak lobster yang dibawa pengumpul. Saya kasihan saja sama nelayan kalau lobster mereka ditolak. Apalagi, ini lagi musim paceklik. Saya gak tega,a�? dalih Jaelani.

Jaelani yang sudah menjadi pengepul lobster sejak tahun 1998 itu mengaku tidak saja mendapatkan tangkapan lobster dari nelayan sekitar. Melainkan juga mendapat kiriman lobster dari nelayan di Pulau Sumbawa.

Biasanya, lobster itu ia beli dari nelayan seharga Rp 50 ribu per kilogram. Rencananya, ketika lobster itu sudah sesuai bobot yang dientukan Permen Kelautan dan Perikanan, akan ia kirim ke luar daerah. a�?Biasanya saya budidayakan dulu biar sesuai aturan. Setelah itu, baru saya kirim ke luar daerah. Biasanya saya kirim ke Bali dan Jakarta,a�? ujar Jaelani. (uki/r12)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *