Ketik disini

Feature

Sepeda Juara Tour de France 2015 Tidak Boleh Dicuci

Bagikan

Hari penutup program di Belgia sangat istimewa. Dimulai dengan kunjungan ke markas Team Sky, lalu bersepeda lebih dari 100 km melewati satu lagi tanjakan batu legendaris: Kapelmuur.

***

TIDAK semua kesempatan bisa dibeli dengan uang. Bagi beberapa peserta program Jawa Pos Cycling di Belgia, Rabu lalu (29/7) termasuk salah satunya.

Berkat kerja sama Rapha dengan Team Sky, rombongan mendapat kesempatan mengunjungi markas tim juara Tour de France 2015 itu di Deinze, Belgia.

Team Sky memang tim Inggris. Namun, mereka memiliki service course alias markas operasional dan teknis di Belgia. Alasannya sederhana: Efisiensi dan efektivitas.

Dari Belgia, Team Sky bisa mengirimkan sepeda dan berbagai perlengkapan lain ke lomba-lomba di seluruh Eropa dengan lebih mudah. Tidak perlu terbang menyeberangi laut.

Karena itu, walau kantor manajemen tim berada di Inggris, semua perlengkapan ada di Deinze.

“Bukan hanya kami yang di sini. Tim-tim (WorldTour) lain juga bermarkas di sekitar sini,” ungkap Peter de Bleecker, salah seorang operations manager service course Team Sky.

Tiba di service course pukul 11.00, De Bleecker menyambut bersama operations manager yang lain, Peter Verbeken.

“Nama kami sama-sama Peter, jadi gampang mengingatnya,” gurau De Bleecker.

Total, dari sekitar 140 personel Team Sky, hanya ada tiga orang yang bekerja full time di service course tersebut. De Bleecker mengurusi teknis, sedangkan Verbeken mengurusi operasional kendaraan dan nutrisi. Ada satu lagi sekretaris yang mengurusi administrasi dan tetek bengeknya.

“Team Sky punya sepuluh mekanik. Mereka selalu mampir ke sini sebelum mendampingi tim berlomba di berbagai negara,” ungkap De Bleecker.

Isi service course itu bikin kami semua ternganga. Total, ada 300-an sepeda yang siap dipakai para pembalap, yang jumlahnya sekitar 30 orang. Lebih seru lagi, tampak puluhan sepeda Pinarello Dogma F8 sedang berbaris di lantai, siap diservis.

Sepeda-sepeda itu baru saja datang dari Prancis, baru saja dipakai di Tour de France 2015 yang berlangsung 4-26 Juli lalu.

Salah satunya berwarna kuning, sepeda yang ditunggangi Chris Froome, sang juara Tour de France 2015, saat etape penutup di Paris. Sepeda itu jadi idola peserta dari Indonesia-Malaysia-Singapura. Satu per satu mereka berpose bersama sepeda bersejarah tersebut.

Ketika diperhatikan lebih detail, sepeda tersebut tampak sangat kotor. Menurut De Bleecker, itu memang disengaja. Chris Froome tidak mengizinkan para mekanik untuk membersihkannya, karena akan jadi kenang-kenangan sejati. “Sepeda itu akan dikirim untuk disimpan di rumah Froome,” kata De Bleecker.

Saat ke sana, para personel tampak sibuk me-loading barang-barang ke dalam truk. Mereka sedang bersiap mengikuti lomba-lomba selanjutnya, seperti Tur Polandia.

Di luar, terparkir rapi pula bus-bus tim, serta truk dapur berjalan. Ya, Team Sky memasak sendiri makanan untuk pembalap di dalam truk tersebut. Dan di belakangnya ada pula ruang makan khusus yang terkesan mewah.

***

Seusai makan siang di service course Team Sky, rombongan bersiap untuk bersepeda. Rute cukup berat, sekitar 100 km, kembali ke hotel di Kortrijk. Di tengah-tengah melewati lagi satu tanjakan berbatu legendaris: Muur van Geraardsbergen alias Kapelmuur.

Letaknya di Kota Geraardsbergen. Bahkan dimulai dari pusat kota, dan menanjak meliuk-liuk menuju puncaknya. Panjang resmi tanjakan itu hanya 1,075 km. Tapi, kemiringan rata-ratanya 9,3 persen, dengan kemiringan maksimal 19,8 persen.

Tanjakan tersebut dulu adalah jalur permanen Tour of Flanders. Tapi tidak lagi dipakai sejak 2012.
Kalau melihat foto-foto lomba lama, gambar paling dramatis selalu pembalap menanjak mendekati ujung Kapelmuur. Ketika sampai di sana, rombongan kami satu per satu naik turun, demi mendapatkan foto terbaik, foto paling mirip dengan aksi para profesional!

Karena sehari sebelumnya sudah membiasakan diri menanjaki jalanan cobble (batu), maka menghadapi Kapelmuur bukan lagi sesuatu yang menakutkan peserta.

Yang lebih menakutkan ternyata setelahnya, saat perjalanan berlanjut menuju Kortrijk.

Pada suatu bagian, kami menurun cepat di jalan mulus, tapi kemudian langsung “menghantam” jalanan berbatu datar yang cukup panjang.

Kami memasuki jalanan batu itu dengan kecepatan sekitar 45 km/jam, kemudian harus terus memutar kaki untuk bertahan di atasnya. Ketika kaki mengendur, sepeda langsung terasa mengerem sendiri.

Jalanan cobble benar-benar bukan seperti jalanan paving di Indonesia. Lebih benjol-benjol dan setiap bongkahan batu seperti menghantam sepeda.

Getaran yang dirasakan di tangan begitu luar biasa. Sendi-sendi sampai ngilu. Ada peserta yang mengaku pandangan begitu goyang sehingga sulit melihat ke depan.

“Tonny” Budianto Tanadi merangkumnya dengan simpel: “Seperti disetrum.”

Ketika menanjak di atas jalan batu, minimal kecepatan tidak terlalu tinggi, sehingga getaran bisa ditoleransi. Tapi, ketika ngebut di atas jalan batu datar, badan langsung sakit semua.

Tidak jauh dari situ, kami kena cobaan lanjutan. Menurun curam di jalanan berbatu!

Kemampuan handling jadi lebih diuji. Kalau mengerem salah, sepeda bisa terpelanting. Kalau ambil jalur salah dan masuk ke rongga yang salah, sepeda juga bisa terpeleset atau terpelanting.

Ada yang memutuskan untuk setengah tutup mata. “Saya langsung saja turuni secepat mungkin tanpa mengerem,” ungkap Choonwei Tay, dari Fitskuul Singapura.

Lengkap sudah pengalaman bersepeda di Belgia. Tanjakan berbatu, datar, maupun turunan sudah dirasakan semua. Dan yang terpenting, tidak ada yang mengalami kecelakaan.

***
Rabu sore itu (29/7), rombongan tercepat sudah sampai hotel di Kortrijk pukul 18.00. Beberapa memutuskan untuk menambah porsi sendiri. Bersepeda lagi 22 km pulang pergi (total sekitar 44 km) menyeberangi perbatasan Belgia-Prancis.

Tujuannya, Velodrom legendaris di Roubaix, Prancis. Velodrom yang setiap bulan April menjadi lokasi finis lomba one-day paling berat dalam sejarah: Paris-Roubaix.

Sehari sebelumnya, peserta dari Jakarta sempat iseng meng-Google rute santai pagi untuk pemanasan. Ternyata, terlihat Velodrome Roubaix. Mereka pun nekat ke sana, lalu kembali sebelum jam makan pagi berakhir dan program resmi bersama Rapha dimulai.

Ingin ikut melihat, peserta Surabaya yang selesai di kelompok terdepan Rabu lalu ingin merasakan yang sama. Edo Bawono, dari Kelapa Gading Bikers (KGB), bersedia menjadi pemandu.

Lima orang pun berangkat petang itu. Targetnya 45 menit sampai di Roubaix, lalu foto-foto, lalu 45 menit lagi balik ke Kortrijk. Pukul 21.00 sudah harus balik hotel, supaya bisa bergabung makan malam terakhir bersama seluruh peserta dan kru dari Rapha.

Pukul 21.00 juga ditarget karena setelah itu matahari terbenam dan jalanan menjadi gelap (plus dingin).
Ternyata, hanya dalam 42 menit, kami sampai di Roubaix. Walau sudah petang, velodrom kuno outdoor itu masih dibuka, dan banyak warga setempat yang berlatih di sana. Ada yang bersepeda keliling, ada yang lari di bagian dalamnya.

Kami pun berfoto dengan berbagai pose. Masing-masing juga keliling sekitar lima putaran.

“Miringnya serem. Kalau pelan, sepeda justru terus turun ke bawah,” komentar John Boemihardjo dari Surabaya Road Bike Community (SRBC).

Puas menikmati Roubaix, kelompok kecil kami mampir dulu ke sebuah restoran cepat saji. Minum orange juice, ngemil chicken nuggets, lalu hajar lagi kembali ke Kortrijk. Beruntung ada tail wind, angin yang mendorong dari belakang. Kami pun sampai di hotel dalam waktu tak sampai 40 menit.

Sempat makan malam bersama yang lain, dan saling mengucapkan perpisahan. Kru Rapha memberikan suvenir lagi botol minum Team Sky, menambahi jersey special edition Team Sky yang sudah diberikan saat di Prancis. Sebagai balasan, peserta menghadiahi para kru Rapha dengan berbagai cenderamata “wayang” dari Indonesia.

Tidak tertinggal memberikan jersey Happy Wednesday Jawa Pos dan jersey Indonesia untuk para kru multinasional tersebut (ada yang dari Inggris, Amerika, Italia, dan Belgia).

Malam itu, para kru Rapha langsung sibuk mengepak sepeda-sepeda kami. Sebab, besok paginya, Kamis pagi (31/7), kami sudah akan kembali ke Paris, bersiap pulang ke Indonesia, Malaysia, atau Singapura.

Di antara seluruh peserta, yang merasa paling bahagia dari seluruh rangkaian mungkin adalah Cipto S. Kurniawan dari One Mille Pasuruan. Ini merupakan trip keduanya bersama Rapha, kali pertama pada 2013 lalu ke Colorado, Amerika Serikat.

Pertama, dia bisa melihat idolanya, Chris Froome (Team Sky), menjadi juara Tour de France. Lalu, mampir ke markas tim tersebut. Plus, bertemu lagi langsung dengan Froome (pertama di Colorado), mendapatkan tanda tangan pada artikel koran yang memuat berita kelahiran putranya awal tahun ini (dia namai Michael Froomey Wang).

Dan yang utama, tegasnya, bisa bersepeda bersama teman-teman yang asyik. “Kalau teman-teman tidak asyik dan tidak kompak, tentu tidak bisa enjoy. Rasanya cycling trip ini perfect buat saya,” pungkasnya. (Azrul Ananda/Yudy Hananta/Kortrijk)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *