Ketik disini

Headline Selong

Banyak Pedagang Mainkan Timbangan

Bagikan

SELONG – Sejumlah pedagang diduga memanipulasi timbangan untuk menakar barang yang dijualnya guna memperbesar keuntungan. Hal tersebut disinyalir terjadi merata hampir di seluruh pasar tradisional di Lombok Timur.

a�?Walaupun tak semua, tapi jumlahnya juga tidak sedikit,a�? kata Sekretaris Dinas ESDM Perindag Lotim, Andika Wijaya pada koran ini.

Cara mengakali timbangan yang dilakukan para pedagang nakal sebenarnya cukup sederhana. Pada timbangan duduk misalnya, mereka mengurangi kadar batu pemberat yang digunakan untuk mengukur berat barang yang dibeli. Cara lain adalah dengan menambah pemberat ekstra pada sisi penimbangan barang. Batu timbangan yang tak dipindahkan dari tempatnya kendati tak sedang menakar barang menjadi indikasi adanya kecuangan.

a�?a��Kalau emang niat jahat, timbangan emaspun bisa dimanipulasi,a�? jelasnya.

Praktik curang tersebut jelas merugikan pembeli. Karena itupemerintah kini sedang mengebut pengerjaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Metrologi. Tugas dari satuan kerja dibawah Dinas ESDM Perindag iniA� mengurusi persoalan timbangan. Mulai dai pasar tradisional, timbangan emas, hingga takaran bahan bakar di SPBU. Termasuk juga timbangan untuk gabah hasil panen petani.

Saat ini kantor Metrologi yang berlokasi di Pancor sedang dalam tahap pengerjaan pondasi. Diperkirakan bangunan akan rampung akhir tahun dan mulai bisa digunakan. Anggaran Rp 2,4 Miliar dari Dana Alokasi Khusus sudah disiapkan untuk pengerjaan fisik bangunan. Hingga rampung 2016 mendatang, diperkirakan akan memakan anggaran hingga Rp 4,2 Miliar.

a�?a��Petugasnya sudah ada, mereka sudah ditraining, tinggal tunggu kantornya saja,a�? lanjut Andika.

Hal itu mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Nuriah salah seorang masyarakat yang rutin berbelanja di Pasar Tanjung mengharap dengan adanya lembaga yang mengurusi takaran itu, tak ada lagi praktik kotor permainan timbangan.

a�?a��Baguslah, biar tak rugi kita,a�? katanya.

Langkah tersebut ternyata juga mendapat tanggapan baik dari pedagang. Hj Warni seorang pedagang sayur di Pasar Tanjung mengatakan yang rugi dari praktik itu bukan hanya pembeli. Dalam banyak kasus, pedagang sebenarnya juga merugi. Sebagai pedagang yang berada di level tengah, ia mengatakan pengurangan itu terjadi sejak dari pedagang di atasnya. Pedagang sepertinya tentu tak memiliki banyak pilihan selain ikut mengurangi takaran. a�?Kita beli tomat satu karung, bisa kurang sampai lima kilo, ya kita ikut mengurangi juga saat jual,a�? katanya.

Dalam kasus lain, pedagang juga kerap merugi karena timbangannya tak presisi tapi justru dalam posisi lebih bukan kurang. Dalam kasus itu, pedaganglah yang merugi, karena saat menjual barang yang ditakar lebih dari seharusnya. a�?Bagus itu, biar sama-sama enak dan jujur,a�? ujarnya. (yuk/r14)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys