Ketik disini

Praya

Umur 11 Tahun Sudah Belajar Di Mekkah

Bagikan

Sosok pimpinan pondok pesantren (Ponpes) Munirul Arifin Nahdlatul Wathan (Yanmu NW) Praya, TGH Zainul Arifin Munir diharapkan bisa menjadi inspirasi kalangan muda.

***

TGH Zainul Arifin Munir merupakan sosok yang sederhana, kaya ilmu, kreatif dan inovatif. Kesuksesannya mengelola lembaga pendidikan membuat banyak kalangan belajar kepada dirinya.

Setiap tahunnya, dia terpaksa melakukan tes masuk yang cukup ketat bagi siswa yang mau menimba ilmu ke sekolah yang dibinanya. Terutama di tingkat SMP dan SMA. Jika tidak, jumlahnya tak bisa menampung ruangan yang tersedia. Dari siswa 11 orang diawal pengelolaan pendidikannya pada tahun 2000, hingga sekarang Yanmu menampung 1.160 orang.

Kualitas lulusan di lembaga pendidikannya tidak diragukan lagi. Kini, banyak alumni lembaga tersebut telah menempati ragam profesi di masyarakat. Sebut saja guru, dokter, tentara, polisi, dosen dan lainnya. Ini belum termasuk lulusan yang kini melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara.

Hasil ini tentu tidak datang begitu saja. Pola pendidikan yang diberikan, harus kuat. Dalam arti, kuat ilmu pengetahun, kuat ekonomi, kuat iman dan takwa. Lalu, dibarengi dengan sabar, tetap berikhtiar dan berdoa kepada sang maha pencipta.

Secara pribadi TGH Zainul Arifin hidup dalam lingkungan gemar menuntut ilmu. Di umur 11 tahun, tepatnya pada tahun 1975 dia diberangkatkan orang tua, untuk mengenyam pendidikan di Mekkah. Di negeri gurun pasir itu, dia belajar ilmu pengetahuan selama 10 tahun.

Selepas itu pria kelahiran 1964 ini mendaftarkan diri ke salah satu Perguruan Tinggi (PT) ternama di Inggris. Dia pun diterima. Sayang, orang tua tidak menyetujui. Kedua orang tuanya pun meminta agar dia melanjutkan pendidikan di Mesir.

Ditempat itu, dia pun kembali mengenyam pendidikan selama sembilan tahun. Total 19 tahun di negara orang untuk menimba ilmu. Waktu yang tidak bisa dibilang singkat. Mengejar ilmu itu sungguh-sungguh. Tidak boleh setengah-setengah. Itulah keyakinan yang membuatnya tidak lekas puas dengan ilmu yang didapatkan.

Dorongan ini juga yang membuatnya kembali mencoba peruntungan menambah ilmu di Eropa. Kali ini dia mendaftar di salah satu universitas di Prancis. Secara administrasi dia diterima. Sayang untuk kali kedua orang tuanya menolak.

“Tiba-tiba di pintu mes, ibu saya datang menjemput untuk pulang. Padahal, waktu itu saya tinggal menyelesaikan tesis. Saya pun dijanjikan akan diantar kembali ke Mesir. Malah, sebaliknya,” ujar TGH Zainul Arifin Munir sembari senyum.

Titah bunda tak bisa ditawar. Ia ikut pulang. Di tanah kelahirannya, dia pun diperkenalkan dengan sejumlah tokoh agama besar. Salah satunya adalah Maulana Syekh TGKH Muhamad Zainuddin Abdul Majid.

Awal perkenalan pada tahun 1988 itulah, dia mulai mendalami berbagai keilmuan Islam yang didapatkan di Mekkah dan Mesir.

“Semua tidak pernah terencanakan. Mengalir begitu saja. Saya tidak pernah bercita-cita ke Mekkah atau Mesir, begitu pula urusan pondok,” ujar TGH Zainul Arifin Munir sambil meneguk segelas kopi hangat.

Dia pun menekankan, cerita singkat yang terurai di Lombok Post ini, diharapkan dapat dijadikan inspirasi kalangan muda. Bahwa, dimana pun, kapan pun dan dalam kondisi apa pun, ilmu pengetahuan adalah pencerah kehidupan dunia dan akherat. Sehingga, harus dikejar.

“Semoga bermanfaat,” serunya.(Bersambung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *