Ketik disini

Metropolis

Dari Lomba Sepak Bola dan Lari, Lahirlah Festival Tahunan

Bagikan

Sekolah, mulai SD sampai SMA, plus kelompok seni menjadi senjata andalan revitalisasi egrang di Purwakarta. Berguna melatih fisik dan mental.

*** 

PEMUDA dengan “kaki” menjulur panjang itu tiba-tiba bagaikan roboh ke samping kanan. Sontak, teriakan kaget terlontar dari kerumunan yang memadati salah satu ruas di Jalan Jenderal Sudirman, Purwakarta, Sabtu malam (8/8), itu.

Tapi, kekagetan tersebut cuma sebentar, lantas bersulih menjadi tepuk tangan dan gelak tawa. Sebab, Reynanda Gumilang, si pemuda itu, “batal” roboh. Dia ternyata hanya jongkok dan sejurus kemudian bergoyang bak penyanyi dangdut.

“Ini memang cara kami untuk semakin meningkatkan pamor egrang, dengan memainkan berbagai trik,” kata Reynanda.

Ya, kaki tambahan yang membuat Reynanda sukses memancing tawa para pengunjung Festival Egrang di Purwakarta tersebut adalah jejangkungan. Itu adalah salah satu jenis egrang yang dikenal di kota yang dipimpin Bupati Dedi Mulyadi tersebut. Lainnya adalah egrang pegangan yang dilengkapi pijakan kaki dan tongkat tempat tangan bertumpu.

Baik jejangkungan maupun pegangan, keduanya sangat populer di Purwakarta. Kabupaten di Jawa Barat berpenduduk lebih dari 845 ribu jiwa itu boleh dibilang sangat sukses menghidupkan lagi permainan tradisional yang di banyak daerah lain sudah amat sulit ditemui tersebut.

Festival Egrang Purwakarta telah rutin digelar sejak 2012. Selain itu, di hampir semua sekolah, mulai SD sampai SMA, plus kampung, egrang kini menjadi permainan yang sangat diakrabi.

Semua berawal ketika Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang memerintah sejak 2008 ingin membuat egrang kembali menjadi permainan yang menghiasi kehidupan warga. Awal 2012, setelah penggodokan berulang-ulang, akhirnya hampir semua instrumen pendidikan, mulai SD hingga SMA, dipilih sebagai senjata andalan untuk merevitalisasi permainan tradisional yang memiliki beragam nama di berbagai daerah itu.

“Guru sekolah, terutama guru olahraga, digerakkan untuk memperkenalkan egrang,” ujar Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Sukatani, Purwakarta, Iwan Kartiwan.

Sekolah lantas dipasok peralatan permainan berbahan bambu yang sangat menuntut keseimbangan itu. Para murid mulai menjajalnya pada jam olahraga atau waktu istirahat.

Iwan menuturkan, sekali dua kali menjajal, bisa dipastikan akan jatuh dan sedikit luka di sana-sini. “Tapi, begitu mulai bisa berjalan dengan egrang, susah berhenti. Di situ asyiknya egrang. Menghibur sekaligus melatih fisik dan mental,” kata Iwan.

Hanya dalam bilangan bulan, dari semula mengandalkan peralatan di sekolah, yang belakangan juga banyak hilang karena dibawa pulang para siswa, tak sedikit yang memilih membuat sendiri di rumah. Kebetulan, cara pembuatan egrang terbilang sederhana.

Mengutip Ensiklopedia Indonesia, dibutuhkan dua bilah bambu masing-masing sepanjang 2-3 meter plus dua lainnya dengan ukuran lebih pendek, 20-30 cm, sebagai pijakan kaki. Kemudian, bambu yang panjangnya 2-3 meter tersebut diberi lubang kira-kira 30 cm (atau bisa lebih tinggi/pendek) dari bawah. Tujuannya, memasukkan bambu yang berukuran pendek tersebut yang lantas diikat dengan tali sampai kuat hingga bisa dijadikan pijakan kaki.

Namun, kalau hanya berhenti sebagai permainan, lama-kelamaan tentu bakal bosan juga. Karena itu, setelah egrang semakin digemari, pemerintah dan tokoh masyarakat Purwakarta mulai memutar otak untuk memberikan tantangan lebih besar.

Akhirnya, diadakanlah kompetisi. Ada dua jenis lomba yang diadakan, yakni sepak bola egrang dan lari 100 meter dengan egrang. Jurus itu terbukti jitu karena antusiasme pada egrang di kalangan anak-anak dan para remaja terus terdongkrak.

“Asyik main egrang apalagi kalau untuk main sepak bola,” ungkap Adrian Yusuf, siswa SDN 11 Kaler, Purwakarta.

Adrian mengaku sudah lebih dari empat tahun memainkan egrang. Karena itu, beragam trik telah pula dikuasainya. Bersama tim sekolah, dia juga pernah memenangi perlombaan sepak bola egrang.

Adrian juga mengakui, egrang membuatnya tak gampang jatuh. “Dulu awal belajar sering jatuh karena tak bisa menjaga keseimbangan. Sekarang jatuh karena ditekling pas main sepak bola egrang. Lama-kelamaan sudah biasa. Habis jatuh ya main lagi,” tuturnya.

Antusiasme seperti yang ditunjukkan Adrian itu menjalar ke semua pelosok kabupaten yang dikenal dengan sate maranggi-nya itu. “Lama-kelamaan dibutuhkan sebuah acara yang lebih besar untuk menampung kegairahan terhadap egrang. Jadilah, pada 2012 digelar Festival Egrang untuk kali pertama. Saat itu ada 40 ribu orang yang jadi peserta,” ujar Koordinator Pengawas Olahraga Dinas Olahraga Pemkab Purwakarta Didin Syafruddin.

Di Indonesia, egrang sejatinya tersebar luas, tak hanya di Jawa. Hanya sebutannya yang berbeda-beda. Misalnya, tengkak-tengkak (Sumatera Barat), ingkau (Bengkulu), batungkau (Kalimantan), dan tilako (Sulawesi).

Seperti halnya di Purwakarta, variasi permainannya pun macam-macam. Di Sulawesi, misalnya, permainan egrang dilakukan dengan cara memukul-mukulkan kaki bambu hingga lawan terjatuh. Yang paling lama bertahan di atas bambu menjadi pemenang.

Tapi, di seluruh Indonesia, barangkali hanya Purwarkarta yang rutin menggelar festival egrang dengan skala masif. Dan, itu terwujud tak cuma karena partisipasi aktif pemerintah melalui sekolah, tapi juga berkat peran besar kalangan seniman.

Kelompok Seni Sesingaan Kampung Cimaung, misalnya, merupakan salah satu komunitas yang selalu memanfaatkan egrang saat tampil di hadapan khalayak. Tentu dilengkapi dengan berbagai trik seperti yang ditunjukkan Reynanda yang kebetulan juga anggota komunitas tersebut dalam Festival Egrang Sabtu malam lalu.

Menurut pemuda 18 tahun itu, tidak lengkap kalau sebuah kelompok seni di Purwakarta bermain tanpa egrang. Terutama, egrang jejangkungan yang menuntut keterampilan lebih tinggi.

Dengan manggung dari acara ke acara, di kampung dan kota di pelosok Purwakarta, para seniman tradisional akhirnya pun turut menularkan kegemaran pada egrang. Apalagi, seperti lazimnya kesenian tradisional, jarak antara pelaku dan penonton sangat cair.

“Di kelompok kami ada empat orang yang sudah terbilang mahir main egrang. Makin mahir otomatis makin menjadi perhatian,” kata Reynanda.

Festival yang dihelat Sabtu lalu sudah terbukti menyambut hangat Reynanda yang begitu terampil memainkan egrang, permainan tradisional yang kini kian jadi bagian dari kehidupan kontemporer Purwakarta. Ratusan ribu pengunjung, baik dari dalam maupun luar kabupaten seluas 971,72 kilometer persegi tersebut, hadir menjadi saksi.

Otomatis, ekonomi Purwakarta pun turut tergerak karena festival tahunan yang berhulu pada keinginan melestarikan permainan yang nyaris punah itu. Hotel-hotel di sana sudah penuh di-booking jauh-jauh hari. Sektor kuliner otomatis ikut menikmati kue.

“Egrang kini tidak hanya menjadi tradisi, tapi sekaligus sedikit banyak turut membantu ekonomi masyarakat Purwakarta melalui penyelenggaraan festival,” ujar Didin. (Ilham Wancoko/Purwakarta/c5/ttg/r2)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *