Ketik disini

Praya

Jalani Hidup Mengalir Seperti Air

Bagikan

Sejak usia dini, TGH Zainul Arifin Munir ingin sekali menjadi tukang bangunan. Tidak pernah terlintas menjadi pimpinan pondok pesantren (Ponpes) atau tokoh agama.

***

BAGI TGH Zainul Arifin tukang bangunan memiliki filosofi tersendiri. Mereka bisa menyulap lahan kosong, menjadi satu bangunan yang bisa dihuni manusia. Pekerjaan itu, menurutnya cukup mulia dan tidak sembarangan orang memiliki keahlian semacam itu.

Atas dasar itulah, dia ingin sekali menjadi tukang bangunan. Sayangnya, Sang Maha Pencipta berkehendak lain. Dia justru diminta kedua orang tua berangkat mencari ilmu ke Timur Tengah selama 19 tahun. Sepulang dari menuntut ilmu, dia tidak pernah berfikir untuk menjadi apa-apa.

Karena, dia masih punya tanggungan menyelesaikan tesis S2 di Mesir. Namun, kedua orang tuanya melarang kembali ke negeri gurun pasir itu. Belakangan dia justru dibawa ke sejumlah tokoh agama besar di Pulau Lombok, salah satunya Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid di Pancor.

Titik ini membawanya berbagi ilmu di Lombok Timur. Dia diangkat sebagai seorang pendidik. Sampai kemudian menjadi seorang pimpinan Ponpes dan dijuluki sebagai tokoh agama besar di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Lagi-lagi, perjalan hidup semacam itu, tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

a�?Kesimpulan dari perjalanan hidup saya adalah, mensyukuri apa pun yang diberikan Allah SWT. Kita hanya merencanakan saja, tapi yang berkehendak diatas semuanya adalah Sang Maha Pencipta,a�? ujarnya.

Atas dasar itulah, perjalanan hidup tokoh yang satu ini mengalir saja. Dia mengaku tidak pernah ngotot atau berambisi untuk menjadi sesuatu. Karena, dimana pun diberikan kehidupan, harus disyukuri dan disenangi. Manusia, menurutnya hanya menjalankan proses hidup, yang menentukan hasilnya Allah SWT.

Berbekal kemampuan ilmu pengetahuannya. Kini, dia menjadi seorang dosen negeri di IAIN Mataram. Dia terjun di dunia kampus pada tahun 1999. Kendati sibuk dengan Ponpes dan organisasinya, dia tetap menjalankan kewajiban Tri Dharma perguruan tinggi (PT). Caranya, tetap mengedepankan profesionalitas.

Filosofi tukang bangunan tetap dipegangnya. Karena, semua perjalanan hidup dimulai dari nol. Saat ini, dia bercita-cita ingin melebarkan sayap, mengembangkan dunia pendidikan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Termasuk, pengembangan di Praya dan beberapa kabupaten/kota lainnya di Pulau Lombok.

Di KLU, dia sudah menyiapkan lahan, tinggal persiapan pembangunannya saja. Begitu pula di Praya.

a�?Semua yang saya dapatkan ini adalah keberkahan kedua orang tua saya. Alhamdulillah,a�? ujar pria lima orang anak tersebut.

Baginya perjalanan hidup tidak ubahnya seperti lautan lepas, terkadang dihantam ombak besar. Kadang melaju mulus dalam arus yang tenang. Tinggal, bagaimana menyikapi perputaran dan perubahan tersebut.

a�?Apa pun yang diberikan Allah SWT kepada kita, maka itu adalah yang terbaik. Tinggal bagaimana kita menjalankan dan mensyukurinya,a�? ujarnya.(Dedi Shopan Shopian)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *