Ketik disini

Selong

Lihat Parang, Jantung Berdebar, Badan Gemetaran

Bagikan

Sengketa lahan antara Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dengan warga Bebidas, Lombok Timur (Lotim) hingga kini masih berlanjut. Kedua pihak masih ngotot saling klaim area ratusan hektare tersebut. Suasana mencekam dirasakan Lombok Post saat coba menerobos wilayah itu.

***

SEJUMLAHA�sepanduk seperti menyambut kedatangan koran ini memasuki kawasan Bebidas. Ini adalah desa yang berbatasang langsung dengan kaki Gunung Rinjani itu. Sepanduk yang dipasang pihak TNGR itu secara umum berisi imbauan agar warga keluar dari kawasan hutan taman nasional yang sedang dirambah. TNGR sebagai pengelola wilayah berpendapat area itu bukan untuk publik sehingga harus segera dikosongkan.

Dari kejauhan tampak satu demi satu warga keluar dari dalam area yang tertutup semak belukar. Lebatnya pepohonan membuat jarak pandang menjadi tak jelas. Entah dari mana orang-orang itu berjalan. Yang jelas, mereka sudah membawa sejumlah kayu yang sudah terikat rapi. Dengan tatapan tajam, tiga orang pertama yang saya temui memandang. Mereka terlihat begitu waspada.

a�?Kamu dari mana, polisi hutan bukan,a�? tanya seorang warga dengan nada sedikit membentak.

Mendengar pertanyaan jantung berdebar kencang. Betapa tidak, pertanyaan dilontarkan seorang pria berbadan tegapA� dengan parang terhunus di tangan kananya. Setelah menjelaskan asal, maksud dan tujuan kedatangan, tatapan penuh curiga itu tak sepenuhnya hilang. Saya masih harus menunggu beberapa saat. Sejumlah orang terlihat berdiskusi sebelum akhirnya memperbolehkan masuk.

a�?a��Kalau polisi hutan, kami pasti larang,a�? kata seorang pria yang menemani saya menuju kawasan sengketa, juga dengan membawa parang di tangan.

Pantas saja hingga kini TNGR memilih untuk tidak memasuki kawasan sengketa itu. Potensi pecahnya konflik yang tinggi membuat pihak mereka seolah menahan diri. Kendati bersenjatakan laras panjang, bukan berarti mereka bisa seenaknya menembaki warga. Terlebih warga dipastikan tak akan tinggal diam, bisa-bisa pertumpahan darah terjadi jika tak ada pihak yang mengalah.

a�?Kami menahan diri bukan karena takut parang, kami masih berfikir mereka itu rakyat juga,a�? kata Ramsjah, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah Dua.

10 menit berjalan menyusuriA� hutan, akhirnya kami tiba di area yang dipersengketakan. Berbeda dengan jalan masuk yang sangat rimbun bahkan lebat, kawasan ini begitu lapang. Pohon-pohon terlihat sudah banyak yang tertebang dan berserakan. Untuk ranting-ranting kecil, beberapa warga terlihat sudah mengikatnya menjadi sejumlah bagian. Sedang untuk yang besar siap diangkut dengan cara lain.

Di sana, warga bahu membahu menebang pohon-pohon yang ada. Mereka menganggap itu adalah haknya karena merupakan hak adat yang diwariskan secara turun temurun. Sambil terus melakukan pekerjaannya masing-masing, mereka sesekali memandang dengan penuh curiga. Tatapan yang membuat gemetaran.
Sulaiman, salah seorang pejuang tanah adat mengatakan mereka hanya mengambil apa yang sudah menjadi haknya. Setelah kawasan itu bersih, rencananya akan dijadikan lokasi pariwisata seperti halnya di Sembalun.

a�?a��Nanti kita kelola dengan baik,a�? jelasnya.

Untuk itu, warga sudah bahu membahu melakukan pembersihan dengan cara manual dan bantuan alat berat. Bahkan dengan apa yang dilakukan ini, ia mengklaim akan baik bagi perkembangan ekonomi di masa yang akan datang. (wahyu)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *