Ketik disini

Selong

Lalu Nasib Tegur Nelayan Pemburu Hiu Tanjung Luar

Bagikan

SELONG – Tak kurang dari 1300 nelayan Tanjung Luar, Lombok Timur (Lotim) menyaksikan pertunjukan wayang kulit Sasak yang dimainkan dalang HL Nasib AR, Senin (10/8)A� malam lalu. Acara tersebut digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dermaga setempat. Dalang kondang ini hadir denganA� pesan khusus yakni terkait larangan penangkapan ikan hiu dan pari.

a�?a��Kita prihatin dengan keadaan yang terjadi saat ini,a�? kata sang dalang usai pementasan.

Kegiatan itu merupakan rangkaian acara dari sosialisasi mengenai aturan penagkapan hiu dan pari. Kegiatan ini diprakarsai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB bersama Wildlife Conservation Society (WCS) itu.

Beberapa materi sosialisasi tersebut antara lain mengenai jenis hiu dan pari yang dilindungi dan tidak boleh di tangkap. Ada juga penjelasan terkait jenis hiu dan pari yang diatur perdagangannya atau boleh ditangkap dengan aturan tertentu. Serta jenis hiu dan pari yang masih dapat dimanfaatkan berdasarkan aturan pemerintah.

a�?a��Jadi tidak semua dilarang, tapi tidak semua hiu dan pari juga boleh ditangkap,a�? kata Ruspono, pemateri dari DKP NTB.

Nelayan juga diingatkan mengenai aspek penegakan hukum dan sanksi jika terjadi pelanggaran aturan. Materi ini disampaikan Kabag Ops Polres Lombok Timur, Kompol M. Hutagalung. Sementara itu, Kepala DKP Lotim,A� M Tasywiruddin mengatakanA� sosialisasi ini sangat penting dilakukan. Dengan metode pendekatan yang tepatdan menyentuh langsung, ia berharap informasi yang hendak disampaikan bisa meresap secara utuh pada seluruh nelayan Tanjung Luar dan Pulau Maringkik.

a�?a��Kita ingin nelayan mengerti, cara ini semoga bisa ngefek,a�? katanya.

Tanjung Luar sebagai pelabuhan perikanan terbesar di Lombok memang menjadi sorotan banyak pihak terkait aktifitas penangkapan hiu dan pari yang dilindungi. Dalam satu hari, sedikitnya setengah ton hasil tangkapan ikan didaratkan, termasuk berbagai jenis hiu dan pari.A� Tercatat 260 unit perahu motor 3-60 GT, 800 unit perahu motor tempel dan 40 unit perahu tanpa motorA� yang beroperasi di lokasi ini. Dari jumlah itu, 60 diantaranya merupakan kapal penangkap hiu dan pari.

a�?Kita miris dengan data yang ada,a�? katanya menambahkan.

Dia berharap nelayanA� kedepannya bisa mendukung usaha pemerintah dalam melakukan perlindungan terhadap hiu dan pari yang kini terancam punah. a�?a��Semoga anak cucu kita masih bisa melihat kedua jenis ikan yang terancam punah itu,a�? harapnya. (yuk/r14)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *