Ketik disini

Feature

Bangga Bisa Berjalan di Red Carpet dalam Usia 22 Tahun

Bagikan

Budaya Jawa yang menjadi benang merah karya-karyanya merupakan bagian dari upaya Wregas Bhanuteja agar film Indonesia punya identitas. Lembusura, karya yang membawanya ke Berlin dan Hongkong, hanya berbiaya Rp 30 ribu.

***

DURASINYA hanya 10 menit. Tapi, kesan yang dihadirkan Lembusura masih menancap benar di benak Riri Riza. Sutradara papan atas Indonesia itu menyebut film pendek karya Wregas Bhanuteja yang sudah ditontonnya lebih dari setahun silam tersebut memiliki kelebihan dalam kekuatan budaya yang jelas dan kental.

“Sangat menarik, segar, dan memiliki tema, gagasan, serta latar belakang yang lengkap. Lembusura mampu menyerap fenomena budaya di sekitarnya,” ujar sutradara yang namanya mulai dikenal lewat film Kuldesak (1998) itu.

Bukan Riri seorang yang terkesan. Lembusura juga telah mengantarkan Wregas ke perhelatan bergengsi: Festival Film Internasional Berlin.

Di luar Academy Awards, festival tersebut termasuk tiga besar paling prestisius di dunia selain Festival Cannes dan Venice.

Otomatis, tidak gampang untuk bisa menembusnya. Lembusura menjadi satu di antara 443 film dari 75 negara yang terpilih berkompetisi dalam festival yang rutin dihelat sejak 1951 tersebut. Istimewanya lagi, Wregas, yang baru berusia 22 tahun, tercatat sebagai sutradara termuda yang karyanya ditarungkan dalam ajang yang berlangsung Februari lalu tersebut.

Dua bulan berselang, Lembusura juga diundang untuk berkompetisi di Hongkong International Film Festival. “Dulu saya pernah bermimpi, kapan ya bisa berjalan di red carpet sebuah festival terkenal. Apa harus menunggu sampai berumur 40-an tahun ?Eh, tahunya bisa tercapai dalam usia 22 tahun,” ungkap Wregas.

Dan, impian itu terwujud lewat sebuah film yang lahir dari spontanitas dan hanya menghabiskan biaya Rp 30 ribu. Uang sejumlah itu digunakan untuk biaya topeng yang dibuat Wulang Sunu yang kemudian dikenakan Yohanes Budyambara.

Keduanya adalah rekan Wregas di Komunitas Studio Batu, Jogjakarta. Komunitas yang dibentuk teman-teman SMA-nya tahun lalu tersebut menampung para seniman atau pekerja kreatif dari berbagai disiplin seni, mulai film, musik, fotografi, sampai seni rupa.

Wregas yang sehari-hari bekerja di Miles Production meminta Yodi -sapaan akrab Yohanes Budyambara mengenakan topeng tersebut sembari menari. Lantas, dia memadukannya dengan rekaman hujan abu yang mengguyur Jogjakarta pada pagi, 14 Februari 2014.

Malam sebelumnya, sekitar pukul 22.30 WIB, Gunung Kelud yang terletak di antara Kediri dan Blitar, Jawa Timur, meletus dan abunya terbawa angin sampai ke Kota Gudeg.

Lembusura pun menggabungkan footage hujan abu sebagai situasi sebenarnya dan footage tarian yang dibawakan Yodi sebagai visual realitas sehari-hari. Jadilah sebuah film eksperimental yang terinspirasi karya klasik Edwin S. Porter, The Life of an American Fireman (1903).

Mitologi Lembu Sura berkisah tentang seorang pemuda bernama sama berkepala lembu yang dikhianati seorang putri Kerajaan Majapahit, Dyah Ayu Pusparani. Pusparani merupakan putri Raja Brawijaya yang memerintah Majapahit pada abad ke-15.

Lembu Sura memenangi sayembara merentang busur Kyai Garudyeksa dan mengangkat gong Kyai Sekardelima yang diadakan untuk mencari suami buat Pusparani. Tapi, bukannya mereka menepati janji, Lembu Sura malah dikubur hidup-hidup di puncak Gunung Kelud saat membuatkan sumur dalam waktu semalam seperti yang diminta sang putri.

Dari dalam “kuburannya”, Lembu Sura mengeluarkan kutukan yang intinya setiap dua windu sekali dia akan merusak seluruh wilayah Prabu Brawijaya. Karena itu, sampai kini, setiap Sura (salah satu bulan dalam kalender Jawa), warga sekitar Kelud mengadakan larung sesaji sebagai simbol Condro Sengkolo alias penolak bala.

Menurut Wregas, pesan besar dari Lembusura adalah cara orang Jawa menyikapi bencana. Bahwa musibah tak harus selalu ditangisi. “Waktu gempa Jogjakarta 2006, tetangga saya menjadikan rumahnya yang roboh sebagai guyonan (bercandaan, Red),” kata pria kelahiran Jogjakarta, 20 Oktober 1992, itu.

Sinema Jawa. Demikian Wregas menyebut benang merah karya-karyanya yang akan terus berusaha dipertahankannya. Itu merupakan bagian dari upaya dia memperkenalkan film dengan “identitas” Indonesia.

Identitas harus diberi tanda kutip karena dalam konteks Indonesia spektrumnya sangat luas dan beragam. Jawa, yang dipilih Wregas, hanyalah salah satunya. Dia memilih Jawa karena merupakan latar belakangnya, bagian dari kesehariannya.

“Jawa itu sendiri saja sangat luas maknanya, apalagi Indonesia. Dan, itu kekayaan kita. Jadi, tidak perlu diseragamkan,” tegasnya.

Secara keseluruhan, dia sudah melahirkan 20 film pendek. Tapi, selain Lembusura, baru tiga lainnya yang diikutkan festival. Yakni, Hanoman (2011), Senyawa (2012), dan Lemantun (2014).

Hanoman masuk nominasi dalam Ganesha Film Festival di Bandung. Senyawa pernah berkompetisi dalam Jogja Netpac-Asian Film Festival 2012, Festival Sinema Prancis 2013, dan mendapat penghargaan sebagai Best Short Film di Freedom Film Festival, Malaysia. Sedangkan Lemantun menang sebagai Film Pendek Fiksi Naratif Terbaik dan Film Pendek Pilihan Penonton dalam XXI Short Film Festival 2015, Jakarta.

Sejak di Hanoman, Wregas sudah menyelipkan budaya Jawa. “Saat itu masih dibuat identik dengan wayang orang, batik, dan gamelan,” tuturnya.

Namun, sejak Lemantun, pengagum Asrul Sani itu mencoba melepaskan atribut budaya Jawa di dalamnya. Wregas belajar bahwa sebuah budaya tidak harus ditunjukkan secara “kasatmata”.

Lewat empat karyanya yang difestivalkan itu, Wregas menguji apa yang dia sebut sinema Jawa. Seperti yang terlihat di Berlin, warna Jawa tersebut ternyata bisa melintas budaya, dapat dinikmati mereka yang bahkan sama sekali tak mengenal budaya Jawa, apalagi bicara dalam bahasanya.

Mengutip Deutsche Welle Indonesia, dalam sesi pemutaran untuk kalangan pers, film berbahasa Jawa dengan subtitle bahasa Inggris mampu membuat penontonnya hanyut dalam cerita. Juga, turut tertawa lepas pada kelucuan yang ditampilkan.

Wregas pun memperlakukan film-filmnya itu sebagaimana kesenian tradisional Jawa yang berjalan nyaris tanpa skenario.

“Semua perasaan tercurah, tanpa sebuah batasan. Ini menjadi sebuah eksperimen. Percaya saja film yang kamu anggap benar dan bagus,” jelasnya.

Wregas mulai intens dalam pembuatan film pada kelas 2 SMA. Muffler, karyanya saat masih duduk di kelas 2 SMA, masuk nominasi Festival Confident, Jakarta. Dia lantas memperdalam ilmu di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta.

Sejak awal membuat film, dia selalu menanamkan prinsip untuk tidak menuntut dan berekspektasi terhadap karya yang dihasilkan. Misalnya, harus ditonton banyak orang.

“Bagi saya, film pendek itu bentuk ekspresi dan karya seni,” tegasnya.

Ketegasan sikap dalam berkarya itu pulalah yang membuat Riri dengan yakin menyebut anak muda yang turut membantunya memproduksi Sokola Rimba (2013) tersebut sebagai sutradara yang patut diperhitungkan pada masa kini dan masa depan.

“Asal, tentunya tetap bekerja keras dan disiplin,” kata Riri. (Lusia Arumingtyas/JAKARTA)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *