Ketik disini

NASIONAL

Rupiah Terlemah Selama Reformasi

Bagikan

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali melemah. Kemarin siang rupiah sempat berada di level Rp 13.824 per USD pada pukul 12.00 WIB melemah dari pembukaan Rp 13.689 per dolar AS. Level tersebut merupakan level terendah dalam 17 tahun terakhir setelah sempat menyentuh level Rp 15.000 pada 1998 lalu.

Sementara itu,kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kemarin, terjun bebas 217 poin menjadi Rp 13.758 per USD dari perdagangan sehari sebelum nya (11/8) yang berada di level Rp 13.541 per USD.

Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah kali ini terutama disebabkan oleh perkembangan ekonomi global. Pasar masih bereaksi terhadap keputusan pemerintah Tiongkok yang melakukan depresiasi mata uang Yuan.

“Pelemahan rupiah akhir-akhir ini telah terlalu dalam (overshoot) sehingga telah berada jauh di bawah nilai fundamental (undervalued). Hal itu disebabkan oleh reaksi pasar atas keputusan pemerintah Tiongkok yang melemahkan Yuan,” ujarnya di Jakarta,kemarin.

Agus mengungkapkan bahwa keputusan pemerintah Tiongkok tersebut diambil lantaran pemerintah negeri tirai bambu tersebut ingin mempertahankan kinerja ekspornya yang menurun drastis mencapai 8,3 persen (yoy) pada Juli 2015.

“Penurunan tersebut merupakan yang terbesar dalam empat bulan terakhir,” tambahnya.

Secara global, lanjutnya, depresiasi Yuan akan member dampak pada negara-negara mitra dagang Tiongkok yang ekspornya mengandalkan sumber daya alam, termasuk Indonesia.

“Kebijakan depresiasi seperti ini pernah dilakukan pemerintah Tiongkok pada 1994 lalu yang juga berdampak pada perekonomian global kala itu,” katanya.

Sementara itu, perkembangan data terkini di AS seperti data ISM non manufacturing index, data tenaga kerja, menunjukkan tanda-tanda membaik sehingga menimbulkan ekspektasi dari pelaku pasar bahwa kenaikan suku bunga kebijakan AS (Fed Fund Rate) akan dilakukan lebih cepat.

“Akibat sentimen-sentimen tersebut, secara umum, hampir seluruh mata uang global mengalami depresiasi,” ujarnya.

Sebagai ilustrasi, mata uang Ringgit Malaysia melemah sebesar 13,3 persen (ytd), Korean Won melemah sebesar 7,9 persen (ytd) , Thailand Baht melemah sebesar 7,4 persen (ytd), Yen Jepang melemah 4,8 persen (ytd), Euro melemah sebesar 8,9 persen(ytd). Brasilian Real melemah 29,4 persen (ytd), dan Australian Dolar melemah sebesar 10,6 persen (ytd). Sementara rupiah dari Januari hingga minggu pertama Agustus 2015 melemah sebesar 9,8 persen (ytd).

Mantan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut mengungkapkan bahwa BI akan mengoptimalkan bauran kebijakan dan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah dan otoritas lainnya.

“BI akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan bahwa keputusan pemerintah Tiongkok untuk melemahkan Yuan bukanlah langkah currency war.

“Jangan pakai istilah itu (currency war). Tiongkok melakukan depresiasi sebesar 1,9 persen. Saya selalu bilang seluruh currency di dunia melemah terhadap dollar AS. Ada dua currency yang tidak melemah terhadap dollar AS yakni swiss franc dan poundsterling,” urainya.

Sedangkan, yuan yang notabene hanya mengalami sedikit pelemahan tersebut telah membuat barang produksi dari Tiongkok yang akan digunakan untuk ekspor menjadi mahal harganya dan kalah dengan pesaingnya. Hal tersebut akhirnya memaksa pemerintah Tiongkok untuk melemahkan yuan.

“Yuan hanya melemah sedikit sekitar 2,5 persen dan terkontrol. Saingan dagang Tiongkok seperti Korea dan
Jepang melemahnya lebih dalam. Jepang dalam 2,5 tahun melemah lebih dari 25 persen, dan Korea tahun ini sudah melemah 6 persen bahkan lebih. Mata uang di Eropa melemah 9 persen hingga 12 persen,” jelas Mirza. Kondisi tersebut diperparah oleh pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang kini sedang dalam tahap pemulihan.

Mirza menekankan bahwa untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, tidak perlu ikut-ikutan melemahkan mata uang rupiah seperti yang dilakukan pemerintah Tiongkok. Sebab, apabila dilihat sejak 2013, rupiah sudah melemah sekitar 30 persen.

“Rupiah sebagai mata uang sudah undervalue di bawah 100. Jadi kebijakan depresiasi tidak perlu diikuti oleh Indonesia,” tutur Mirza.

Dia juga meyakinkan bahwa kondisi pelemahan mata uang saat ini bukan merupakan perang mata uang. Sebab, perang mata uang hanya dipakai para spekulan untuk melakukan spekulasi.

“Tidak perlu khawatir ada pelemahan mata uang ini. Kami akan selalu menjaga stabilitas nilai rupiah di pasar keuangan,” katanya.

Direktur Utama BRI Tbk Asmawi Syam mengatakan dari hasil stress test atau simulasi yang dilakukan perseroan kepada sejumlah nasabah yang memiliki portofolio valuta asing menyatakan nasabah BRI aman dari dampak pelemahan rupiah.

“Pelemahan rupiah terhadap mata uang ini kan memang terjadi di semua negara terutama mitra dagang kita. Tapi yang jadi concern kami sejauh mana ketahanan nasabah BRI yang pertama natural hedge. Itu sudah kita lakukan stress test. Kami lihat bahwa semua aman,” katanya.

Risiko yang dialami oleh nasabah yang melakukan natural hedge cenderung kecil saat mata uang rupiah melemah. Pasalnya nasabah tersebut akan mendapatkan dan menghabiskan uang dalam mata uang yang sama. Hal tersebut juga sudah dilakukan oleh nasabah yang memiliki portofolio valuta asing (valas).

“Dia (nasabah) mendapat pendapatan tapi dia juga mengeluarkan biaya dalam mata uang yang sama artinya risikonya menjadi kecil karena mengeluarkan biaya dengan mata uang yang sama kemudian mendapatkan mata uang yang sama,” tutur Asmawi.

Langkah pemerintah Tiongkok yang melebarkan currency band Yuan sebesar 1,9 persen sehingga membuat mata uang rupiah semakin tertekan ini tidak berdampak pada kredit perseroan yang sebagian besar berada di ranah mikro.

Wakil Direktur Utama BRI Sunarso menambahkan stressed test yang dilakukan perseroan tidak hanya kepada nasabah yang memakai dolar AS.

“Tak hanya yuan, kepada mata uang asing yang punya portofolio pinjaman. Stressed test pendapatan dan biaya nasabah apakah kuat hadapi gejolak. Tapi kami tetap harus bekerja ekstrakeras agar dampak krisis tetap stabil,” ucapnya.

Sunarso menuturkan portofolio kredit perseroan pun dinilai masih aman. Pasalnya, sebagian besar nasabah dan debitur BRI merupakan pengusaha kecil yang jarang menyentuh kegiatan ekspor.

Menkeu Bambang Brodjonegoro mengakui bahwa depresiasi rupiah kali ini, cukup mengkhawatirkan. Dia menyebut, faktor utama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar adalah devaluasi Yuan. Dia membantah jika pelemahan rupiah tersebut terkait reshuffle.

Terkait devaluasi yuan, Bambang meyakini, the Fed akan berpikir ulang untuk menaikkan suku bunganya.

“Devaluasi China malah bisa membuat The Fed ragu-ragu untuk menaikkan suku bunga. Karena kalau dia
menaikkan tingkat bunga, makin kuat lagi dia terhadap semua mata uang. Dolar makin kuat itu juga bisa membuat Amerika berpikir dua kali,”papar Bambang di Kompleks Istana Kepresidenan, kemarin.

Mantan Wamenkeu tersebut mengakui, devaluasi yuan tersebut cukup mengejutkan. Namun, dia memastikan bahwa anggaran negara masih dalam posisi aman, sekalipun terjadi pelemahan yang cukup kuat terhadap rupiah.

“APBN sih aman ya,” katanya. Bambang mengakui dengan adanya depresiasi rupiah tersebut, pembayaran bunga utang bakal semakin membengkak.

Namun, hal tersebut masih bisa ditutup dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang juga akan meningkat. Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan BI untuk mengatur gejolak Surat Utang Negara (SUN).

“Kita juga bisa bersama BI mengatur gejolak di SUN. Dan tidak harus lewat stabilitation framework dulu. Itu kan yield-nya sudah pada tingkat tertentu. Jadi kita koordinasi terus,”imbuhnya.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara menambahkan bahwa ada kenaikan di penerimaan dari PNBP, akibat nilai dollar yang menguat. Meski begitu dia mengakui, harga komoditas ekspor Indonesia masih menurun, sehingga perolehan PNBP pun tidak signifikan.

“Harganya turun tapi nggak ada risiko kepada APBN seperti risiko waktu masih ada subsidi BBM,”paparnya

Ekonom Universitas Gadjah Mada yang juga Komisaris Independen Bank Permata, Tony Prasetiantono mengatakan, kesuksesan reshuffle terhadap penguatan rupiah ada pada Darmin Nasution dan Rizal Ramli. Sebab, jabatan Kemenko Perekonomian dan Kemenko Kemaritiman memberikan efek besar pada ekonomi Indonesia.

“Itu di luar dugaan. Saya kira presiden hanya memilih sala satu di antara mereka. Itu menunjukkan Jokowi ingin jabatan pentingnya dipegang oleh orang-orang yang punya kemampuan dipercaya oleh pasar,” katanya.

Khusus untuk Darmin Nasution, dia menilainya sebagai sosok yang suka terburu-buru. Sikap itu yang membuat suara sumbang muncul dengan menyentil kebijakan yang pernah dikeluarkan Darmin saat menjabat sebagai Gubernur BI. Ketika itu, dia dianggap tidak pro pasar modal karena enggan menaikkan bunga.

“Situasinya sudah berubah. Selain bukan lagi Gubernur BI, targetnya berubah. Semoga Pak Darmin lebih aware,” katanya. Dalam waktu dekat, para menteri baru harus bisa mendorong belanja APBN. Menurut Tony, itu kunci supaya pertumbuhan ekonomisa bisa mencapai kepala 5.

Kalau reshuffle itu diterima pelaku bisnis, rupiah disebutnya bisa menguat. Prediksinya, sampai akhir tahun mata uang nasional akan turun sampai dikisaran Rp 13 ribu. Kalau kinerja menteri ekonomi terus membaik, dia optimistis rupiah bisa menguat sampai Rp 12.500 di 2016.

“Tapi jangan berharap saat ini bisa langsung melesat karena ini bukan pekerjaan semalam. Yang penting, menteri baru ikut menumbuhkan harapan,” jelasnya. Menteri baru perlu bekerja keras karena kondisi saat ini sangat buruk. Kalau sampai terpeleset, rupiah bisa terus tergerus bahkan mencapai Rp 14 ribuan per USD 1.

Terkait kenapa respon reshuffle belum menunjukkan hal positif, termasuk masih merahnya IHSG, disebut Tony karena reshuffle di bawah ekspektasi. Devaluasi Yuan memang disebutnya bikin nervous. Tapi, efek yang terjadi harusnya tidak selama sekarang.

“Pasar punya ekspektasi terhadap reshuffle. Mereka merasa ada menteri lain yang layak diganti, tapi masih aman,” tuturnya. Dia yakin, tidak lama lagi pasar mulai merespon positif reshuffle sehingga terjadi rebound. Peluang itu cukup besar karena Tony menilai ekonomi Indonesia tidak terlalu buruk.

“Ini faktor sentimen. Presiden Jokowi mencoba untuk menaikkan sentimen, tapi tidak berhasil karena pasar menuntut lebih banyak (menteri yang diganti) lagi,” tandasnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Yugi Prayanto mengatakan banyak pelaku usaha yang terkena dampak pelemahan rupiah. Pasalnya, banyak industri nasional yang masih ketergantungan terhadap bahan baku impor.

“Seperti industri tekstil atau industri baja. Meskipun mereka ekpor tapi bahan baku banyak juga yang harus impor,” tegasnya.

Jika tidak segera distabilkan, maka pelemahan rupiah ini akan membuat biaya operasional perusahaan-perusahaan yang ketergantungan impornya tinggi semakin tertekan. Dikhawatirkan hal itu bisa membuat perusahaan tersebut gulung tikar.

“Kalau itu terjadi maka bisa memicu PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran. Kita tidak ingin itu terjadi,” tukasnya.

Dia menilai rupiah terus melemah adalah karena faktor global. Itu terjadi karena Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat berencana menaikkan suku bunganya. Termasuk karena Yuan Tiongkok sedang melemah dan pasar modal Tiongkok merugi tajam dalam tempo singkat.

“Itu faktor eksternal, kita tidak bisa ikut campur,” sebutnya.

Sebab, berdasar disekusi dengan Gubernur Bank Indonesia, lanjut Yugi, fundamental ekonomi nasional pada dasarnya masih cukup bagus. Namun selain faktor eksternal, ada juga faktor internal yang menyebabkan rupiah melemah.

“Kebutuhan dolar sedang meninggi di dalam negeri karena banyak yang lebih memilih dolar AS. Untuk kebutuhan proyek atau bayar utang luar negeri,” katanya.

Satu-satunya yang bisa dilakukan saat ini adalah mengurangi pengunaan dolar dan meningkatkan ekspor.

“Pemerintah perlu membantui dan memberikan insentif pada sektor-sektor yang mendorong ekspor. Beri permodalan kalau perlu. Kita sebagai warga negara juga jangan beli barang impor. Pelaku usaha juga sudah banyak yang mengurangi pemakaian dolar dan bahan baku impor,” sebutnya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudarjat menambahkan, sekitar 40 persen industri tekstil fokus menggarap pasar domestik. Mereka sangat terpukul akibat melemahnya rupiah.

“Karena mayoritas industri tersebut memiliki kandungan impor yang terbilang tinggi di atas 50 persen. Seperti pasokan bahan baku, bahan baku penolong, pelembut pakaian dan pembersih bakteri yang biasa diimpor dari Jepang, Eropa dan Korea,” cetusnya.

Terlebih, lanjut Ade, daya beli masyarakat terhadap tekstil yang termasuk kebutuhan sekunder, kian menurun. Pelaku usaha akhirnya tidak berani menaikkan harga. Sebab itu sama saja mematikan daya beli masyarakat yang sudah melemah.

“Susah kalau harga mau dinaikkan. Masyarakat beli kebutuhan primer seperti beras saja sudah ketar-ketir. Ini kalau harga tekstil naik, bisa-bisa tidak ada yang beli,” tambahnya.(dee/ken/dim/wir/ gen/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *