Ketik disini

Bima - Dompu

Bisa Sekolahkan Tiga Anak Hingga Sarjana

Bagikan

Sebagai tulang punggung keluarga, seorang bapak rela bekerja apapun. Hal itulah yang dilakukan Anwar, warga Desa Ntonggu, Kecamatan Palibelo. Bapak 45 tahun kesehariannya menjual Tape Singkong keliling.

Teriknya matahari sudah biasa bagi Anwar. Karena kesehariannya, pria yang akrab disapa Dae La One ini sebagai penjual tape singkong keliling.

Tidak heran, kulitnya terlihat lebih hitam karena setiap hari dibakar matahari. Bapak berkumis tipis ini telah belasan tahun melakoni pekerjaan sebagai penjual Tape Singkong keliling.

Setiap hari, mulai pukul 07.00 Wita Anwar sudah keluar dari rumahnya di Desa Ntonggu untuk menjajakan tape singkong keliling dari kampung ke kampung. Baik di Kabupaten Bima, Kota Bima hingga ke Kabupaten Dompu.

Jika dia jualan ke Kota Bima, dari rumahnya, Anwar harus membayar ojek Rp 20 ribu. Sementara keuntungan yang diperoleh dari dua ember Tape Singkong yang dijual maksimal Rp 100 ribu.

Tidak setiap hari dagangannya habis terjual. Kadang masih ada sisa. Bahkan kadang hanya laku Rp 20 ribu.

Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk jualan. Karena dia yakin, rezeki setiap orang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Sebagai ciri khas orang dari kampung, Anwar keliling menjajakan Tape Singkong dari rumah ke rumah, perkantoran dan lain-lain hanya mengenakan sarung dan sandal jepit.

a�?Capek sich sudah pasti. Kalau gak jualan anak dan istri saya mau dikasih makan apa,a�? kata Anwar pada Radar Tambora.

Dari hasil jualan Tape itu tidak seberapa. Keuntungan bersih sekitar Rp 50 hingga Rp 100 ribu.

Meski kecil, Anwar selalu sisipkan untuk biaya sekolah anak-anaknya. Karena dia ingin anaknya tidak mewarisi pekerjaan sebagai penjual tape singkong keliling. Tapi menjadi orang yang berhasil dan berpendidikan.

Kerja kerasnya selama belasan tahun membuahkan hasil. Dua orang anaknya kini sudah sarjana. Mereka telah bekerja sebagai guru di NTT, satu orang tenaga TU di salah satu SMP di desanya. Sementara si bungsu masih kuliah semester akhir.

Selama belasan tahun menjadi penjual keliling tentu banyak cobaan yang dihadapinya. Terutama disaat libur dan musim hujan, karena jarang ada pembeli.

Namun sosok Anwar tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah berhenti berusaha, apalagi sampai putus asa.

Di hati kecilnya, ingin mencari pekerjaan lain dengan hasil yang lebih besar. Namun dia sadar hanya tamatan SD.

Untuk menambah penghasilan, Anwar sesekali ia menjadi buruh tani sambil menjual tape singkong.

“Kalau musim panen, saya biasa jualan di sawah sambil menjadi buruh tani. Lumayan untuk tambah-tambah,” akunya.

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan anak-anaknya, satu keinginan dari suami Raodah ini yakni, ingin membeli sepeda motor.

Sepeda motor itu akan digunakan untuk keliling menjual tape singkong. Sehingga dia tidak lagi jalan kaki. (*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *