Ketik disini

Selong

Air Tak Pernah Kering, Warga Rela Bayar Mahal

Bagikan

Saat musim kemarau seperti sekarang ini menjadi salah satu momen terberat bagi warga Jerowaru, Lombok Timur (Lotim). Kekeringan menghantui warga setiap tahunnya. Untungnya kecamatan itu memiliki Sumur Tutu, mata air yang seolah abadi itu menjadi penolong masyarakat. Merekapun rela membayar mahal untuk memperoleh air dari sumur yang satu ini.

***

SIANG itu, di sebuah pertigaan di Jerowaru tampak dua truk tangki tengah berbaris. Mereka menunggu giliran mengisi air dari sumur yang berada di tikungan itu. Truk air yang paling depan tampak sedang mengisi air dari sebuah selang diameter cukup besar.

Sumur Tutu, begitulah warga Jerowaru menyebutnya. Dari sanalah sumber air delapan desa sekitar mengalir. Entah dari mana asal air sumur itu, warga hingga kini belum bisa menjawabnya. Disaat kemarau seperti saat ini, jangankan mengharap air hujan, air sumur wargapun sudah kering sekering-keringnya. Jadilah Sumur Tutu sebagai penyambung kehidupan warga.

a�?a��Ini sumur ajaib,a�? kata Muhtar, salah seorang warga.

Ajaib bukan lantaran dikeramatkan ataupun dianggap ada penunggunya. Lebih penting dari itu. Sumur ini menjadi satu-satunya sumber air bersih bagi delapan desa di kecamatan terluar Lombok Timur itu. Wajar rasanya warga menyebutnya sebagai sumur ajaib.

Jika tidak, entah dari mana warga mencari sumber air bersih. Warga bukannya tidak berupaya. Mereka pernah menggali sumur hingga mengebor tanah demikian dalam. Namun air yang diimpikan tak kunjung ditemukan. Kalaupun menemukan air, sering kali rasanya payau bahkan asin.

Karena itulah warga rela membayar mahal untuk mendapatkan tetesan air dari Sumur Tutu. Air memang menjadi kebutuhan utama manusia. Bahkan mengalahkan sembako yang kerap diperbincangkan karena melonjaknya harga di pasaran.

a�?a��Kalau tak ada air ya mati,a�? kata Rizaldi, warga lainnya.

Setiap rumah harus mengeluarkan rupiah yang tak sedikit. Harganya berada di kisaran Rp 200 ribu hingga satu juta rupiah. Sebuah angka yang fantastis memang, mengingat itu dikeluarkan hanya untuk air. Namun apa mau dikata, alam dengan kemaraunya tak bisa dilawan.

Samiun, warga serewe menjalaskan, dalam sebulan, ia dan seluruh keluarganya bisa membeli air hingga tiga kali dari mobil tangki berkapasitas 4.000 liter. Setiap tangki dihargakan Rp 200 ribu. Jadilah ia membayar hingga Rp 600 ribu dalam satu bulan.

a�?a��Mau bagaimana lagi,a�? kata pria yang hanya berprofesi sebagai nelayan itu.

Ditengah musim kemarau yang semakin menjadi, nampaknya Sumur Tutu akan semakin jadi primadona warga Jerowaru. a�?a��Kalau bantuan air dari pemerintah Cuma dapat beberapa jerigen saja, cukupnya hanya untuk satu dua hari,a�? katanya menjelaskan. (Wahyu Prihadi/SELONG)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *