Ketik disini

Giri Menang

Mampir Dulu di Bali, Baru Tembus Luar Negeri

Bagikan

Kerajinan anyaman bambu tidak hanya diburu orang lokal. Tapi, hasil olahan tangan kreatif mereka tembus hingga ke luar negeri. Sayangnya, ekspor anyaman ini tak bisa langsung dari NTB. Tapi harus dari Bali.

***

SIAPA yang menyangka kerajinan anyaman bambu bisa tembus luar negeri. Dulu hal itu nyaris dipandang mustahil. Tapi, lihatlah kini. Benda-benda seni yang dibuat dengan tangan itu, kini mampu menjelajah negara adi daya, Amerika Serikat.
Bicara soal kerajinan anyaman ini, selain Desa Gunungsari, Desa Taman Sari, tetangga Gunungsari adalah juga jagonya. Tidak hanya dari luar daerah tapi pembeli dari Amerika, Australia, dan Jepang ikut tertarik dengan kerajinan tangan di dua desa itu.

Samiun, pengrajin anyaman bambu dari Taman Sari menuturkan, produk hasil kerajinannya selain diminati beberapa negara, juga diinati para pembeli dari berbagai daerah. Misalkan, Sumbawa, Bima, dan Bali.

a�?Tapi Amerika dan Australia menjadi pelanggan utama,a�? akunya.

Jenis kerajinan yang diminati dari luar negeri antara lain seperti meja dan kursi.

a�?Mereka sangat tertarik dengan jenis kerajinan itu,a�? akunya.

Jika ada pesanan dari luar negeri, Samiun harus mempersiapkan segala kebutuhan dari awal. Termasuk menghitung waktu. Untuk mengolah bambu menjadi satu set kursi dan mejanya, dirrinya menghabiskan waktu tujuh hari.

a�?Kami pasang harga sesuai dengan model pesanan yang diingikan pembeli,a�? jelasnya.

Biasanya, ia melepas satu set perlengkapan ruang tamu Rp 400 ribu hingga Rp 450 ribu. Setiap penjualan itu, dirinya hanya menarik keuntungan Rp 100 ribu.

a�?Permintaan pembeli dari luar negeri tidak hanya kursi dan meja, tapi kami mendapat pesanan tirai, hiasan lampu, dan lainnya,a�? bebernya.

Guna memasarkan anyaman bambu, para perajin harus menjual dulu ke Bali. Setelah mampir di Bali, kerajinan mereka baru bisa tembus ke luar negeri.

Penjual anyaman bambu belum memiliki jaringan untuk memasarkan langsung ke luar negeri. Selama ini, mereka harus menjajakan kerajinannya via pemerintah atau pembeli lokal.

Lalu, beragam jenis anyaman bambu itu dibawa ke Bali. Setelah itu, kerajinan tangan mereka ditawar dan dijual ke luar negeri.

a�?Ada juga bule yang datang beli langsung ke sini,a�? cerita pria yang sudah berpuluhan tahun mendulang rupiah dari anyaman bambu.

Untuk mempertahankan usahanya, Samiun mengandalkan kemampuan anyaman yang dimilikinya sejak kecil. Dulunya, kata dia, dirinya bekerja numpang pada pengusaha anyaman bambu lainnya.

Tapi, setelah memiliki modal sendiri, ia pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Modal awalnya hanya Rp 1 juta.

a�?Dengan modal itu usaha saya berkembang dan bisa menyekolahkan anak,a�? ujarnya. (r12/Islamuddin/Giri Menang/*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *