Ketik disini

Feature

Sehari Sedot 20 Ribu Pengunjung, Rendang dan Sate Paling Diburu

Bagikan

Indonesia menawarkan pengalaman berbeda kepada para pengunjung World Expo Milano 2015, salah satu ajang terpenting di dunia. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Ahmad BaidowiA�yang saat ini berada di Milan.

******

MATA biru Thomas Wenisch berbinar-binar. Dua tangannya lincah mengguncang-guncangkan angklung. Senyum lebar mengiringi bunyi alat musik tradisional Sunda itu. Sejurus kemudian, tangannya pindah memainkan wayang golek. Kepalanya ikut bergoyang-goyang mengikuti gerakan wayang. Sesekali tawa kecil terdengar.

Thomas tampak bagai anak kecil yang bersukacita menemukan mainan favoritnya. “Saya kangen Indonesia,” ujar pria asal Prancis berusia 65 tahun itu. Suaranya lirih tercekat menahan rindu yang meraja di kalbunya.

Angklung, wayang golek, gamelan, kain batik, dan rempah-rempah yang tertata rapi memang membuat aura Nusantara begitu kuat memenuhi paviliun Indonesia di World Expo Milano 2015. Ingatan Thomas pun seolah dibawa kembali melayang ke era 1972 – 1975 saat dia tinggal dan berkarir sebagai arsitek di Jakarta.

“Indonesia itu indah,” katanya agak terpatah-patah dalam bahasa Indonesia.

Thomas adalah seorang di antara lebih dari 800 ribu pengunjung World Expo Milano 2015 yang sudah mampir dan menikmati eksotisme paviliun Indonesia. Sejak dibuka 1 Mei lalu, tren jumlah pengunjung paviliun Indonesia terus menanjak. Dari awalnya 4 ribu orang per hari menjadi sekitar 15 ribu per hari. Bahkan, pada 11 Agustus lalu sempat mencatat rekor 20.087 pengunjung per hari.

Sebagian pengunjung adalah orang-orang seperti Thomas yang memiliki ikatan batin dengan Indonesia karena pernah tinggal dan menikah dengan warga negara Indonesia. Meski, sejak 1975, Thomas sudah kembali ke Prancis bersama Dewi Fazrini, istrinya.

Sebagian yang lain adalah orang-orang yang pernah berkunjung ke Indonesia seperti Fabio Bracco. “Sepuluh tahun lalu, saya ke Raja Ampat dan Bali, dua tempat yang indah bagaikan surga,” ucapnya.

Pria asli Italia berusia 37 tahun tersebut datang dengan mengajak istri serta seorang anaknya yang berusia 6 tahun. Sambil menggendong anaknya, Fabio menceritakan keindahan Raja Ampat. Sesekali tangannya menunjuk-nunjuk Papua di peta Indonesia yang tertempel di dinding paviliun.

“Saya sering bercerita kepada teman-teman saya di Italia, Prancis, dan Jerman yang belum pernah ke Indonesia bahwa ada negeri indah di Asia Tenggara,” ujarnya penuh semangat.

Bagi yang belum pernah ke Indonesia, paviliun Indonesia memang bisa menjadi tempat yang tepat untuk mengenal Indonesia.

Budiman Muhammad, direktur paviliun Indonesia di World Expo Milano 2015, menyebutkan, kehadiran Indonesia dalam salah satu ajang terbesar di dunia itu merupakan langkah strategis untuk mengenalkan eksotisme kekayaan alam dan budaya Nusantara kepada dunia. “Terima kasih untuk Kang Didi Petet,” katanya lirih.

Kiprah Indonesia dalam World Expo Milano 2015 memang tidak lepas dari sosok almarhum Didi Widiatmoko atau yang lebih dikenal dengan nama Didi Petet. Melalui Koperasi Pelestari Budaya Nusantara (KPBN), aktor senior itulah yang tergugah untuk mengusung bendera Indonesia ke Milan. Didi-lah yang aktif menggalang dana sponsor karena tidak ada bantuan pembiayaan sama sekali dari pemerintah.

Artha Graha yang awalnya sebagai sponsor penyedia kuliner Indonesia akhirnya menjadi sponsor utama. Bos Artha Graha Tomy Winata mengaku tidak bisa menolak amanah yang sudah diserahkan Didi Petet sebelum meninggal. a�?

“Makanya, kami all-out memperbaiki paviliun Indonesia,” ungkapnya.

Budiman mengakui, kendala logistik membuat persiapan pembangunan paviliun Indonesia terganggu. Akibatnya, saat pembukaan 1 Mei lalu, paviliun yang didirikan di atas lahan 1.200 meter persegi tersebut kebanyakan masih kosong.

Itulah yang memicu suara-suara miring terkait dengan paviliun Indonesia. Bahkan, itu pula yang konon membuat Didi Petet tertekan, sakit, dan kemudian meninggal.

“Alhamdulillah, meski awalnya belum sempurna, sekarang sudah sangat baik. Tidak kalah dari negara-negara lain, bahkan kita lebih baik,” tegas Budiman.

World Expo ibarat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tapi dengan level dunia. Ada 147 paviliun negara dan organisasi internasional yang berdiri megah, menampilkan keunggulan dan keunikan masing-masing. Dengan tajuk “Feeding the Planet, Energy for Live” atau “Menyediakan Pangan untuk Bumi, Energi untuk Kehidupan”, masing-masing negara menampilkan kekayaan kuliner maupun inisiatif pengembangan di bidang pangan.

Karena itu, menarik minat pengunjung untuk mendatangi paviliun bukan hal mudah. Apalagi, harus diakui, paviliun Indonesia berada paling ujung di lokasi pameran yang membentang sepanjang 1,5 kilometer di atas lahan seluas 1,1 juta meter persegi.

Meski begitu, paviliun Indonesia tetap berhasil eksis di antara ratusan paviliun lainnya. “Buktinya, kita masuk daftar seleksi tahap pertama untuk 24 paviliun terbaik. Mudah-mudahan lolos seleksi berikutnya,” ucapnya.

Indonesia memang menawarkan pengalaman yang berbeda kepada para pengunjung. Kekayaan ragam rempah-rempah Nusantara yang sudah termasyhur di dunia sejak ratusan tahun lalu seolah menjadi magnet kuat yang menyedot ribuan pengunjung untuk berbondong-bondong menyelami eksotisme kuliner Indonesia.

Berkat CNN yang pada 2011 menobatkan rendang sapi sebagai makanan terlezat di dunia dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang sudah ikut memopulerkan sate ayam sebagai kuliner khas Indonesia, dua masakan itu paling banyak diburu pengunjung.

Antrean panjang selalu terlihat di kios makanan Indonesia. Dengan harga EUR 5 (sekitar Rp 75 ribu) per paket dengan piring aluminium foil atau EUR 20 (sekitar Rp 300 ribu) untuk prasmanan, makanan tradisional Indonesia memang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan makanan yang dijual di restoran-restoran di World Expo yang rata-rata berharga lebih dari EUR 50 (sekitar Rp 750 ribu).

“Masakan Indonesia yang kaya rempah-rempah sangat lezat,” ungkap Thomas Wenisch.

Bukan hanya kuliner. Konsep paviliun yang menonjolkan peran Indonesia sebagai salah satu pemasok pangan utama dunia dari zaman dahulu kala hingga nanti pada masa depan berhasil memantik rasa keingintahuan pengunjung. Selain rempah-rempah yang memicu ekspedisi koloni bangsa-bangsa Barat sejak berabad-abad silam, Indonesia termasyhur sebagai negara maritim dengan kekayaan laut yang melimpah.

Bahkan, ikan dari perairan Indonesia kini menjadi sumber penting pasokan di pasar dunia. Buktinya, ketika Indonesia mengumumkan “perang” terhadap kapal-kapal asing pencuri ikan, pasokan ikan di pasar dunia langsung goyah. Peran penting di sektor pangan dari laut itu juga menempatkan Indonesia di posisi strategis di pasar perikanan dunia masa kini maupun masa depan.

Budiman menambahkan, salah satu keunggulan paviliun Indonesia adalah memberikan pengalaman kepada pancaindra pengunjung. Mulai melihat kekayaan budaya, mendengar musik tradisional, merasakan lezatnya kuliner, serta menyentuh dan mencium aroma khas rempah-rempah.

“Silakan berkeliling, tak ada paviliun negara-negara lain yang memberikan pengalaman komplet seperti Indonesia,” katanya bangga.(*/c5/ttg/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *