Ketik disini

Sumbawa

Pegawai Disnakertrans Diduga Tilep Asuransi TKW

Bagikan

SUMBAWA – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa, kemarin(26/8) dilabrak oleh keluarga almarhumah Eni Zuhra, seorang TKW asal Desa Kerato Kecamatan Unter Iwes yang meninggal dunia di Arab Saudi pada tahun 2013 lalu. Hal itu dikarenakan keluarga almarhumah menilai bahwa salah seorang staf di Disnakertrans telah lancang menandatangani penerimaan asuransi atau klaim kematian almarhumah senilai Rp 12 juta dari perusahaan Duta Wibawa Mandala Putra. Padahal, keluarga almarhumah sama sekali tidak menerima uang tersebut.

”Kita disurati oleh BPN2TKI bahwa klaim kematian atau asuransinya dibayar melalui Disnaker ini. Mereka seharusnya tidak boleh menandatangani itu kalau benar-benar uangnya tidak mereka terima,” ungkap Cindruang, salah seorang keluarga yang datang ke Disnakertrans mendampingi suami almarhumah, M. Dahlan.

Terkait hal itu, lanjut Cindruang, yang paling disayangkan adalah pihak Disnakertrans yang sama sekali tidak mengkomunikasikannya kepada keluarga almarhumah. Padahal, almarhumah ini masih memiliki keluarga sebagai ahli waris yang berhak mendapatkan klaim atau asuransi kematian itu.

Terlebih, staf tersebut juga mengatakan bahwa klaim atau asuransinya tidak bisa dikeluarkan, karena kematiannya sudah melebihi dua tahun.

”Itu alasan mereka, tapi kan buktinya kami disurati kalau dana itu diberikan kepada Disnakertrans. Nah kami sangat menyesalkan Disnakertrans ini tidak menghubungi kami keluarga. Intinya uang itu sudah keluar tapi tidak nyampai ke kami, itu makanya saya emosi,” kesalnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans, Zainal Arifin, mengatakan bahwa proses pencairan asuransi itu seolah-olah sudah diterima oleh keluarga almarhumah. Padahal sesungguhnya tidak. Dia juga mengaku baru mengetahui adanya persoalan tersebut, karena kejadiannya itu sebelum dia menjabat sebagai Kapala Bidang di Disnakertrans.

”Karena itu tadi saya juga minta maaf kepada keluarga almarhumah. Karena staf saya sudah menandatanganinya, seolah-olah sudah menerima uang Rp 12 juta itu, padahal uangnya belum ada,” katanya.

Dia mengklarifikasi, tindakan yang telah dilakukan oleh salah seorang stafnya itu merupakan bentuk pertanggungjawaban dalam melaksanakan tugasnya. Dengan maksud, menandangani penerimaan asuransi tersebut agar cepat bisa keluar dan diserahkan kepada keluarga almarhumah.

Dia juga mengakui bahwa hal itu adalah sebuah keteledoran dari pihaknya yang tidak mengkomunikasikan dengan pihak keluarga almarhumah.

”insya Allah besok (Hari ini, red) kami akan komunikasikan ke perusahaan Duta Wibawa Mandala Putra. Meski kantor cabangnya sudah bubar, tapi kantor pusat perusahaan ini masih aktif,” tambahnya.

Apakah Disnakertrans akan membawa kasus ini ke persoalan hukum? Menurut, Ifin, akrab Kabid disapa, belum ingin menempuh jalur hukum. Terlebih dulu pihaknya akan menyelesaikan kasus tersebut dengan cara koordinasi dengan perusahaan. Namun apabila perusahaan tersebut mangkir, maka mau atau tidak dia akan tetap menempuh jalur hukum.

”Kalau mereka mangkir dari situ, baru kita kan proses hukum. Biar bagaimana pun saya akan tetap melindungi staf saya. Karena setelah dikomunikasikan oleh staf saya ternyata kondisi, kronologisnya seperti itu,” bebernya. (ony/r9)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *