Ketik disini

Praya

Mengembalikan Pesisir Kuta Sebagai Ruang Publik

Bagikan

Penataan kembali kawasan wisata Pantai Kuta, Lombok Tengah (Loteng) beberapa bulan terakhir menjadi sorotan. Banyak pro kontra yang terjadi di masyarakat. Namun ada satu hal yang ingin dicapai pemerintah setempat dari relokasi ini. Mengembalikan fungsi pesisi tersebut sebagai areal publik dan lokasi rtual budaya masyarakat terutama di wilayah Pondok Senek-Benjon.

***

RITUAL Bau Nyale di laut selatan Lombok Tengah (Loteng) tentu tidak asing lagi didengar. Tradisi semacam itu dilaksanakan tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak setiap tahunnya. Lokasinya dipusatkan di pantai Seger dan sekitarnya.

Sementara di pantai Kuta, di sepanjang Pondok Senek-Benjon ternyata ada ritual tahunan yang dilaksanakan warga Desa Kuta dan Rambitan.

Ritual itu dimulai dari pembangunan perkemahan warga yang berjejer, dari ujung timur hingga barat Pondok Senek-Benjon. Ada yang terbuat dari bedek, terpal dan anyaman daun kelapa. Dibangun sederhana, yang penting terhindar dari terik matahari dan hujan.

Setelah semuanya siap, ritual tahunan itu pun dimulai. Kegiatan yang satu ini hampir sama dengan ritual bau nyale. Hanya saja, berbeda tempat dan waktu. Kalau bau nyale cukup satu hari saja. Tapi, ritual yang satu ini, membutuhkan waktu tiga hari dan warga harus menginap.

Kemah yang dibangun, ditempati ratusan kepala keluarga (KK), dari orang tua sampai anak-anak. Bagi mereka yang sedang mengenyam pendidikan, terpaksa diliburkan orang tua. Makna bermalam, adalah sebagai ungkapan mengenang perjalanan nenek moyang atau leluhurt terdahulu.

Sedangkan tiga prosesi yang harus dijalani dalam ritual tersebut dimulai dari mangan besedi atau makan di pesisir pantai. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur mereka, kepada Sang Maha Pencipta atas kemakmuran hasil pertanian dan perkebunan. Untuk melaksanakan ritual ini, para ibu kaum perempuan menjadi yang terdepan. Mereka berkewajiban ada di dapur, memasak kebutuhan konsumsi.

Berikutnya, ritual napung atau mandi di laut. Ritual semacam ini sebagai perwujudan mempersihkan diri, dari niat kotor dan jahat. Dengan harapan, perjalanan hidup kedepannya semakin baik dan lancar, tidak ada kendala apa pun.

Ritual yang satu ini, tidak membedakan usia. Yang penting, mereka wajib melakukan prosesi tersebut yang disesuaikan dengan kondisi alam atau petunjuk tokoh adat. Terakhir, ritual madaq atau mencari ikan disaat air laut surut. Nilai historisnya yaitu, semakin banyak tangkapan yang diperoleh, semakin besar pula rizki yang didapatkan dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Sehingga, mereka pun berlomba-lomba mencari ikan. Setelah tertangkap, maka menjadi lauk pauk bersama keluarga. Pesan penting dari ritual tersebut adalah, mempertahankan kebersamaan dan kekeluargaan antara mereka. Sayangnya, ritual itu tidak setenar bau nyale.

Kendati demikian, pemerintah mulai turun tangan menyiapkan perlengkapan, fasilitas, sarana dan prasarana pendukung ritual. Salah satunya, merelokasi pedagang, pemilik kafe dan restoran di sepanjang pantai Kuta. Karena, lahan sepanjang Pondok Senek-Benjon ditetapkan sebagai tanah adat, milik publik dan dilindungi negara.

Bagi yang ingin melihat langsung ritual itu, bisa datang antara September atau November tahun ini. Soal waktu, biasanya akan ditentukan melalui penanggalan Sasak yang dilakukan tokoh adat setempat.

“Lebih jelasnya, kita tunggu saja ritual penentuan waktu, yang disesuaikan dengan penanggalan Sasak,” ujar salah satu tokoh adat, sekaligus kepala Dinas Budpar Loteng HL Muhammad Putrie.(Dedi Shopan Shopian/Lombok Tengah)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *