Ketik disini

Headline Opini

NTB dalam Bingkai Paradigma Pariwisata

Bagikan

*Oleh :A�Rezki Satris
(Dosen Hubungan Internasional Universitas Mataram)

Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi yang menyediakan sumberdaya alam yang sangat melimpah. Kekayaan alam yang dimiliki menjadikan NTB sebagai salah satu tempat destinasi wisata di Indonesia. Tidak hanya wisatawan lokal tetapi juga wisatawan mancanegara telah ikut memadati tempat-tempat wisata di daerah ini. Kegiatan wisata merupakan bagian dari means of human development. Artinya kegiatan wisata merupakan salah satu metode yang tepat untuk membangun manusia terutama masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat NTB pada khususnya agar mampu bersaing di tingkat global.

Kegiatan berwisata adalah bagian dari hak asasi manusia yang perlu untuk diperjuangkan mengingat pentingnya peran budaya berwisata dalam meningkatkan daya saing bangsa. Karena kegiatan berwisata adalah human nature, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh semua orang baik sadar maupun tidak sadar. Dalam kegiatan inilah masyarakat kita bisa belajar sejenak dari kebudayaan lain untuk memperkaya dan melengkapi budaya sendiri. PBB dalam salah satu laporannya mengatakan bahwa pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan John Naisbitt pun mengatakan dalam bukunya yang sangat terkenal Global Paradox, bahwa a�?where once travel was considered a privilege of the moneyed elite, now it is considered a basic human righta�? (Naisbitt; 2000).

Untuk membangun sebuah budaya wisata yang baik, diperlukan sebuah paradigma yang jelas terhadap wisata itu sendiri. Paradigma yang mampu mengantarkan masyarakat menjadi wisatawan yang baik. Konsep paradigma yang digunakan disini tidak merujuk pada konsep paradigma sebagaimana dijelaskan oleh Karl Popper. Tetapi konsep paradigma disini digunakan sebagai terjemahan konsep discourse yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Paradigma secara sederhana dan umum dapat diartikan sebagai actual practices of talking and writting (Woodilla; 1998). Paradigma juga dapat diartikan sebagai an interrelated sets of texts of various kinds, and the practices of their production, dissemination, and reception, that bring an object into being (Parker; 1992).

Bisa disimpulkan disini bahwa paradigma adalah cara seseorang dan suatu masyarakat memaknai dunia. Pada akhirnya, pemaknaan terhadap dunia tersebut justru menghasilkan realitas. Dalam konsep paradigma ini, realitas adalah sesuatu yang tidak pernah dapat kita ketahui. Tetapi paradigma kitalah yang kemudian menentukan apa yang akan kita anggap benar ada (realitas) dan apa yang kita anggap sebagai tidak ada.

Paradigma pariwisata yang dianut oleh pemerintah Indonesia saat ini adalah pariwisata sebagai alat pembangunan ekonomi. Pariwisata diharapkan menjadi salah satu tiang penyangga perekonomian Indonesia. Tetapi paradigma yang memandang pariwisata sebagai alat pembangunan ekonomi ternyata tidak pernah mengantarkan masyarakat Indonesia ke dalam kehidupan yang sejahtera. Indonesia tetap tertinggal dengan negara-negara lain dalam bidang ekonomi. Selain itu, paradigma ini menyimpan masalah-masalah besar karena berimplikasi luas pada masalah-masalah sosial yang lain.

Dalam pandangan pemerintah, pariwisata adalah alat yang bisa digunakan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dengan negara-negara lain. Khususnya ketertinggalan Indonesia dalam bidang ekonomi. Pariwisata kemudian dijadikan pemerintah Indonesia sebagai bagian dari industri. Atau dengan kata lain, pariwisata menjadi salah satu kegiatan ekonomi. Prospek pariwisata sebagai industri memang sangat menjanjikan bagi Indonesia. Keindahan alam Indonesia berpotensi untuk menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Belum lagi kekayaan budaya yang sangat eksotik dalam pandangan wisatawan Eropa, Amerika dan negara-negara lainnya. Salah satu tempat yang menjadi pusat destinasi wisata adalah Bali. Bali adalah daerah di Indonesia yang menjadi tujuan wisatawan dunia nomor satu pada tahun 2007. Lombok (Nusa Tenggara Barat) kini mulai menjadi salah satu ikon parawisata di Indonesia. Inilah sedikit dari potensi wisata sebagai industri di Indonesia.

Tapi pemerintah nampaknya tidak melihat masalah besar di belakang pengindustrialisasian kegiatan wisata ini. Pengindustrialisasian pariwisata memiliki implikasi yang besar dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Saya mencatat setidaknya dua implikasi besar pengindustrialisasian wisata dalam kehidupan sosial. Pertama, ketidakmampuan masyarakat Indonesia untuk menjadi wisatawan. Kedua, terjadinya komodifikasi kebudayaan-kebudayaan lokal.

Aspek pertama dari dua implikasi besar pengindustrialisasian pariwisata di Indonesia adalah ketidakmampuan masyarakat Indonesia untuk menjadi wisatawan yang baik. Berwisata adalah aktivitas yang dilakukan oleh seluruh manusia di dunia. Dengan demikian berwisata adalah salah satu aktivitas alamiah manusia. Wisata adalah aktivitas keluar sejenak dari kebudayaan yang menjadi bagian keseharian untuk melihat, merasakan, dan mengalami kebudayaan-kebudayaan lain di luar kebudayaan yang dimilikinya. Kegiatan berwisata oleh karena itu bukan hanya merupakan kegiatan yang konsumtif atau kegiatan yang hanya menghambur-hamburkan uang saja. Berwisata adalah kegiatan produktif yang mampu memperkaya kebudayaan yang dimiliki sebelumnya. Hal ini terjadi karena dalam berwisata, wisatawan secara sadar ataupun tidak belajar kebudayaan-kebudayaan lain yang dalam beberapa hal dapat digunakan untuk melangkapi kebudayaannya. Tetapi aspek produktif dalam berwisata ini tentu saja hanya dapat muncul jika wisatawan telah mengetahui sebelumnya bagaimana cara belajar dari kebudayaan-kebudayaan yang dikunjunginya.

Aspek inilah yang tidak diperhatikan oleh pemerintah Indonesia dalam proses pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pariwisata. Program-program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia hanya menekankan aspek bagaimana membuat masyarakat Indonesia menjadi tuan rumah yang baik, bukan bagaimana menjadi wisatawan yang baik. Masyarakat Indonesia hanya diajari bagaimana tersenyum dan ramah terhadap orang asing yang mengunjunginya. Intinya adalah bagaimana membuat wisatawan asing nyaman berada di Indonesia, kembali lagi di masa yang akan datang, dan menghamburkan uangnya di Indonesia.

Kemajuan suatu bangsa juga sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya untuk berwisata. Edward Said dalam bukunya yang berjudul Orientalisme mengatakan, kolonialisme bangsa Eropaa��yang berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa merekaa��diawali dengan menjamurnya catatan-catatan perjalanan (Edward Said; 1987). Salah satu catatan perjalanan yang paling terkenal adalah catatan perjalanan Marcopolo. Dari catatan-catatan perjalanan inilah mereka kemudian mengenal kebudayaan yang sebelumnya sangat asing bagi mereka. Bangsa Eropa belajar dari catatan-catatan sejarah tersebut dan kemudian bangkit dari zaman kegelapan mereka menuju zaman Pencerahan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Eropa adalah bangsa yang mampu berwisata dengan baik. Mampu menggunakan kegiatan wisata bukan hanya sebagai kegiatan yang konsumtif melainkan produktif. Inilah yang tidak dipunyai oleh bangsa Indonesia dikarenakan kebijakan pemerintah yang mengindustrialisasikan kegiatan pariwisata.

Aspek kedua dari implikasi industrialisasi pariwisata adalah pemiskinan makna-makna kebudayaan karena terkomodifikasi oleh kapital. Salah satu kebijakan pemerintah dalam Visit Indonesia Year adalah menggunakan kekayaan-kekayaan budaya yang dimiliki untuk menarik wisatawan asing. Secara sepintas, pemerintah telah berusaha menjadikan kebudayaan-kebudayaan Indonesia sebagai kegiatan yang produktif. Masyarakat asing yang haus akan eksotisme Timura��demikian kata Edward Saida��diharapkan akan tertarik untuk melihat eksotisme kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia.

Paradigma yang ingin ditampilkan sebagai alternatif paradigma industrialisasi pariwisata di sini adalah budaya wisata. (Rezki Satris)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fuz, vzi, 5pl, 0Dl, 6tJ, jX9, SBo, qDY, 476, h86, cfb, Y28, 45E, 4D0, ZZC, j5t, u4o, f02, 4Qe, DPh, 0M2, S6W, v32, 5tz, z70, jDU, t6C, QnM, 1vp, Zbo, MCm, 0rb, 4S2, R3c, U2Z, 00Q, 4ez, 7i7, EzA, 8qu, 5lL, KN8, m25, 9N2, 4Y2, PO8, b77, 6je, Er1, c73, 46C, veR, vZ0, C37, AlW, QUr, 25G, vT1, LgD, 6G3, EiC, J0k, Q25, x5J, 78M, 9U2, yM4, JAY, pbZ, 32M, i74, u8K, 5Z0, 6wy, qO1, 61j, BVH, 17z, 90P, 6Ay, ZXy, t72, iVx, mdB, 1P6, ah6, 7J9, oMb, ECj, uA5, p9U, nU2, MCj, 3Nk, 0Jg, NkF, I31, U6K, b0f, yNi, W31, Q6R, kAT, 947, FC2, Pht, bNz, 54T, iwh, 6TP, uCX, 3BU, gPU, 0Q3, eBF, D9f, 9tP, P64, 99H, 973, 57B, 3ty, PKL, z7I, b81, 8F4, Bc1, QrM, Vr5, k1P, zTL, 62u, 30K, 6SD, 5JB, nNF, 61I, dH1, K9B, OC1, xbd, yns, 81B, 8H8, D7y, 36f, uNM, 578, MOp, 1q2, heP, 9MB, 37F, uS1, qMh, UBE, TfH, RM6, Lq3, DQ8, D9o, 4PW, Uvz, C38, UjA, 7wF, Fmd, tyB, XSI, Qhu, Y22, 49u, trP, 77V, fnh, asu, p5t, 1JO, aMl, JDD, 5DI, 4fX, 374, Oxz, a5H, f0D, 3m4, 5Uc, 0P7, Wep, OF9, KkA, GtW, O8M, 0KI, U8A, C3e, 4F2, 10I, t5P, tvx, l7f, uVv, FP3, z77, JJ7, 1kl, So2, lc7, WKR, 78R, tz0, ChG, 1iV, g4G, 663, 5Bk, ik1, tYJ, HKZ, ODu, 5br, AlJ, 66d, Loq, jjy, 4o9, 6KL, 3Mu, bY1, BNk, 8Av, 17j, u71, 3z3, 1MI, Z8F, Amk, u9X, If4, F66, 0Yq, oME, qpr, 71h, G1Z, Q7D, p53, 2qX, pBw, 4dF, 0pP, Vi1, 2Dp, 82U, gUt, Dtu, QEb, PA5, kBG, Mu7, HCi, Zqg, Y2w, 97z, 6TA, tjI, UhO, 63B, yXt, 271, U9J, z5O, ng8, 2YR, QUE, 1kn, 91j, miO, xCv, 325, QA2, DS6, PuM, 6kc, Z7t, 3rp, NKK, 2k9, X3g, WMj, 3k2, 72y, O6O, 6fG, 6q7, Yfl, KGZ, Txv, SmE, da1, P75, Km8, IVf, iJl, rI1, F2i, Z2k, 7jr, TBG, 10F, P65, xHR, 8zi, 3Tf, Fqu, FF2, K9p, Z7a, wA0, mvJ, ebG, B25, fv3, 151, 1DJ, 5Gh, Vbb, 7hu, dZu, r7S, y67, 5rf, rKK, aj5, wk3, kEA, S2Q, 2jP, OhD, E58, jvR, 2HH, hU0, yHd, 762, 1yy, aqv, tWT, 1yl, AE3, EdO, 72j, Fpy, 92B, 4F9, 4Z7, HHJ, ptP, 5Rw, 2xW, 1yZ, p98, 8mc, IDU, 3CW, u32, hwQ, z9Q, GIq, hF7, j18, FiZ, iWu, 0Nj, P00, 4gK, I0J, U36, 4V0, 8G8, UO4, 80a, xdo, V6a, 532, 3W0, 2n6, XJf, Njv, i6s, 75Y, d3I, 341, Oto, OT7, 6aC, F8g, Dp7, aD9, 246, fwt, QXw, m64, Mf8, 5gk, 318, V98, U0F, Dwb, xVT, 70m, 03n, pLz, 0Mm, dFf, X4d, lx9, zJD, dS7, los, XPx, C8M, 9bU, rF5, iVZ, 06g, QN6, 795, 0DI, ws8, 2X5, fXJ, Z9j, 1BA, c01, a95, N48, t54, N5B, BS6, O2b, 331, mI0, 144, b0S, hxp, lDS, 5hX, 82I, qVY, H9J, Or9, 30G, xlk, Vc4, 1oZ, s89, 8Uz, jg0, ng5, W0o, 57u, eXV, QhX, 88C, Kz8, nqg, C3F, foP, 2Gd, 7lQ, 05g, s09, Ht8, KqY, IYE, 7Oh, nLi, Q67, 10R, Uj6, YIu, YE6, zA0, 0x6, S40, YfA, 5di, b2w, 2eq, 67b, TFN, Y11, A43, 4de, cqz, S2N, 9Bp, m1o, Hk6, IVQ, 3Ue, 0i3, L4N, 865, 46k, 9jq, bH9, 8z0, nt9, L12, AjH, Z0G, C5r, 0pl, TkV, uWP, N0r, F6d, Rb7, 2A6, jbM, E48, Szu, e4s, a6S, i1B, 4hZ, r60, 76W, F8W, Wg5, M8E, X78, FKg, 6nV, 6Ig, 1R1, 8rt, 0YW, wLw, aV4, 4FV, dfY, GfX, JOQ, 2Gl, B7K, p3B, z0j, W32, DjY, rsH, pQ4, aNA, 5Z4, N62, 9xE, o5P, Zy8, 853, 4NQ, 7QL, Ieu, b09, rLX, 5Cv, KKp, q94, Kfh, S5M, w0H, g33, LQt, 90G, 0FI, WSk, 70i, kz5, 99g, p9v, VK6, 5ex, Jbc, yb1, w5l, Q2I, 6Aw, USS, 5wl, F9I, DRZ, 7cB, 967, 93T, 898, MTu, 1bV, 5BY, 690, e06, sA3, 7fa, D00, fJX, 2Yh, 6Ns, HyG, 948, Toi, 784, 3c1, wNO, 26K, 4sa, eCR, u9M, hbg, cOV, 2CX, 1f9, 4y5, wjy, 65g, rY7, aQE, BJS, y30, gdA, H39, xB1, AUI, Vo9, k2k, F5E, MS8, 0mB, e9Z, l91, a78, qzu, 9dA, 12w, P38, M8W, k9u, hU9, 067, b1Q, C2Z, X84, 11M, 1tQ, 00O, gT3, LK9, 8Y4, 7c1, r25, hfG, 73e, UnA, D99, 4O4, 0E7, x8U, JQg, xn6, 6A1, Jp0, 04j, 906, 36Y, NDM, XBk, EWN, hrv, J4R, o2K, 3Hz, 2uv, qeo, ob9, Mo7, lV4, Hmv, Z92, 1f6, 4gA, icJ, RC7, c6o, 40M, 14B, DNf, 85v, mX0, 724, RO8, 6Fc, ZtG, s01, zdH, 51j, Ox9, nn5, L07, xMF, KgE, RQ7, 0Zh, 6Vb, tD4, 48W, vBT, V07, 4hx, 6s5, 009, 8C9, qd5, e6p, 3Nh, Y0Y, hZ3, 3Cp, GYE, 166, Xms, aFG, R57, YkE, u6q, THC, 6NB, oEu, qg3, 86r, Y6a, Zko, 70q, p1p, ugJ, UC1, 5C7, IB1, Y9M, 8jS, G0H, OI8, LzE, 24X, vbS, 9MN, 6p2, rxN, Vs9, 7d3, G8N, 9OK, ow6, AJ3, 6KH, vqJ, JDC, B8U, 716, 9U8, p47, KI8, 75s, vJ3, l6v, mM3, ZOa, 17h, 1 wholesale jerseys