Ketik disini

Headline Metropolis

Penutupan Pasar Beras Tidak Ganggu Pasar Burung

Bagikan

MATARAM – Keinginan Penjabat Wali Kota Mataram untuk menutup pasar beras menuai pro dan kontra. Meski banyak yang mendukung, namun ada juga masyarakat yang menolak. Dikarenakan, beberapa warga khawatir aktivitas perekonomian di sekitar akan mati total jika pasar beras ditutup.

Namun Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi H Akhsanul Khalik menyatakan penutupan pasar beras bukan penutupan untuk merubah pasar beras dari aktivitas ekonomi masyarakat. Apalagi kemudian muncul opini bahwa pasar beras ditutup lalu akan dibangun perkantoran atau rusunawa.

“Yang menjadi fokus dari perhatian pemerintah Kota Mataram adalah penutupan aktivitas pelacuran. Karena aktivitas pelacuran di kompleks pasar beras ini adalah penyakit sosial yang mencederai religiusitas Kota Mataram,” terangnya kepada Lombok Post.

“Sekali lagi titik tekannya adalah menutup aktivitas pelacuran,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan untuk melaksanakan hal itu, maka dilakukanlah kajian-kajian dan formulasi langkah-langkah yang akan diambil. Mulai dari persiapan, pelaksanaan dan pasca penutupan aktivitas pelacuran. Penutupan nantinya akan mengajak semua pihak yang terkait. Mulai dari masyarakat di sekitar lokasi, ormas seperti, MUI, FKUB, LSM dan juga Forum Komunikasi Pimpinan Daerah serta Pihak DPRD.

“Proses itu juga tidak serta merta dilakukan, karena ada kajiannya,” ujarnya.

Untuk itu ia kembali menegaskan tidak benar jika penutupan pasar beras adalah menutup dan memindahkan pasar burung yang sekarang ada di lokasi tersebut. Semua masih dalam kajian dan semua usulan yang ada masih ditampung. Misalnya usulan Camat Cakranegara yang meminta kepada penjabat wali kota untuk dibangun kantor UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Cakranegara di lokasi pasar beras. Karena kantor UPTD Pendidikan Cakra yang sekarang diusulkan menjadi kantor Lurah Karang Taliwang.

“Itu baru sebatas usulan karena berkembang juga pendapat kalau dibangun perkantoran maka tidak akan menyelesaikan masalah pelacuran yang menjadi fokus utama dari masalah yang mau ditangani secara tuntas,” bebernya.

Termasuk keinginan membangun rusunawa. Kalu tempat itu menjadi kompleks terpadu pedagang kaki lima yang tersebar di beberapa sudut kota di satukan di sana, semua itu masih dalam kajian. Bahkan, dikaji juga bagaiman tempat ini tetap dijadikan pasar burung dengan konsep pasar burung yang indah lebih bersih dan rapi. Kemudian malam harinya menjadi sentra ekonomi seperti pedagang kaki lima yang prinsipnya ada aktivitas pada malam harinya sehingga memperkecil ruang gerak pelacuran.

“Jadi penutupan pasar beras jangan isunya dibiaskan ke mana-mana bahwa pasar burung yang ada mau digusur dan tempat itu disulap jadi kantor atau rusunawa atau kompleks pedagang kaki lima. Semua itu butuh proses dan kajian mendalam,” ungkapnya.

Sekarang fokus pemerintah Kota Mataram adalah bagaimana menutup aktivitas pelacuran. Itulah sebabnya Penjabat Wali Kota Mataram memerintahkan Sat Pol PP utk melakukan penjagaan dan pemantauan di lokasi pasar beras pada sore sampai malam harinya.

“Jadi pedagang burung yang ada dilokasi pasar beras saat ini tidak perlu risau dan cemas bahwa isu mereka akan digusur dan dipindahkan dr sana sama sekali tidak benar,” kata mantan staf ahli wali kota ini.

Meski demikian, dari pantauan Lombok Post kemarin malam sekitar pukul 12.00 Wita, masih ada beberapa perempuan berpakaian minim berkeliaran di area pasar beras. Bahkan, dipinggir jalan secara terang-terangan dilakukan aktivitas perjudian dan penjualan minuman keras. (ton/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys