Ketik disini

Sumbawa

Baju Berlogo PKI, Demonstran Diperiksa Polisi

Bagikan

SUMBAWA – Koordinator massa dari Front Keadilan Rakyat (FKR), Roni Yansyah alias Cempe Sastrawan, terpaksa digelandang oleh anggota Polres ke Polres Sumbawa. Pasalnya, pemuda ini mengenakan baju kaos yang memuat logo palu-arit, logo yang biasa digunakan oleh organisasi terlarang, Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebelumnya, massa FKR melakukan aksi unjuk rasa terkait melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar Amerika. Massa yang berjumlah sekitar 10 orang ini, awalnya melakukan orasi di kawasan Jam Gadang, di Pusat Pertokoan Sumbawa. Dalam aksinya, Cempe menggunakan baju kaos warna hitam. Pemuda ini menggunakan baju kaos yang dipojok kiri belakangnya terpampang logo PKI.

Setelah puas melakukan orasi, massa kemudian melakukan longmarch menuju Kantor Bupati Sumbawa. Ketika melintas di Jalan Hasanuddin, tepatnya di depan sebuah toko emas, pakaian yang dikenakan Cempe dirampas oleh salah seorang anggota polisi. Melihat hal ini, massa aksi lainnya sempat menarik rekannya itu. Sempat terjadi saling tarik menarik di lokasi tersebut.

Di Polres Sumbawa, massa langsung ditemui oleh Kabag Ops, AKP. Syafruddin. Dalam hal ini, Kabag Ops langsung menanyakan apa maksud dan tujuan dari koordinator aksi unjuk rasa itu mengenakan kaos berlambang organisasi terlarang itu.

“Nanti kami serahkan ke Reskrim, apa tendensinya menggunakan lambang itu,” ujar Syafruddin kepada massa aksi.

Terkait hal ini, salah seorang perwakilan massa, Gaviv menjelaskan, bahwa dia dan Cempe tinggal serumah. Baju yang dikenakan oleh Cempe adalah kain pel. Dimana baju itu pertama kali ditemukan di kos-kosan yang ditempatinya di Desa Krato, Kecamatan Unter Iwes pada 2010. Dia mengaku tidak mengetahui apakah logo itu terlarang.

Gaviv mengatakan, Cempe datang ke Sumbawa untuk melaksanakan KKL. Karena tidak mempunyai pakaian, dia lalu mengenakan baju kaos itu. Dia menduga, bahwa baju kaos itu adalah milik penyewa kamar kos sebelumnya.

“Persoalan logo itu diluar sepengetahuan kami. Logo itu ada menempel, kami juga tidak tahu. Kami baru tahu tadi,” aku Gaviv.

Setelah itu, Cempe kemudian dibawa ke ruangan Reskrim Polres Sumbawa untuk dimintai keterangan. Secara terpisah, Kapolres Sumbawa, AKBP. Karsiman mengatakan, untuk sementara, yang bersangkutan dimintai keterangan.

“Sekarang kita dalami untuk mengetahui tujuan pemakaian simbol seperti itu. Karena yang bersangkutan adalah mahasiswa, seharusnya yang bersangkutan tahu bahwa itu terlarang. Sampai saat ini belum ada pencabutan larangan itu. Nanti setelah interogasi baru kita tahu apa tujuan mereka pakai itu,” terang Kapolres kepada wartawan. (run/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *