Ketik disini

Selong

Bertaruh Nyawa Demi Uang Receh

Bagikan

Di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur (Lotim) sejumlah anak dijuluki sebagai bocah koin. Itu lantaran mereka siap berenang di dekat kapal demi uang receh yang dilemparkan penumpang. Anak-anak ini seolah rela bertaruh nyawa demi uang yang tak seberapa.

***
a�?a��PAK, buk lempar koinnya,a�? teriakan sayup-sayup yang terdengar dari kapal fery yang koran ini tumpangi. Sesaat setelah bersandar di Pelabuhan Kayangan, suara itu makin keras. Sejumlah penumpang lain kemudian menoleh ke luar jendela. Ternyata ada sejumlah anak yang berteriak dari luar.

Mereka dengan santainya berenang di dekat kapal bermuatan ribuan ton tersebut. Padahal ini bukan tanpa risiko. Kapal dalam kondisi hidup menghasilkan gelombang dari baling-baling yang bergerak. Bukan tidak mungkin jika mereka tersedot ke dalamnya. Tapi tak terlihat takut sedikitpun pada wajah anak-anak yang umumnya masih duduk di bangku sekolah dasar itu.

Begitu uang dilemparkan, saat itu juga mereka berebut, berenang secepat mungkin ke arah uang. Beradu cepat menyelam bersama koin yang dilempar penumpang. Karena itulah mereka dijuluki bocah koin. Namun demikian tak sedikit pengunjung yang melempar uang kertas.

Berapa pemasukan bocah-bocah ini setiap hari? Tak ada ketentuan pasti. Jika sedang untung bisa mencapai puluhan ribu. Namun bisa juga tidak sepeserpun. Bergantung keahlian berenang dan keberuntungan saat itu.

Andi salah seorang bocah yang masih duduk di kelas lima mengatakan ia sudah melakukan hal itu sejak tiga tahun silam. Dia yang memang putra nelayan awalnya diajak teman bermainnya untuk mengisi waktu senggang. Karena ada uang yang didapat, bocah itu terus melakukannya hingga kini. Biasanya ia mulai menjadi bocah koin sehabis pulang sekolah. Tak jarang itu dilakukan hingga menjelang magrib. a�?a��Biasanya cuman dapat buat beli jajan saja,a�? jawabnya polos.

Soal risiko, bukannya tak ada. Temannya bahkan pernah mengalami patah tulang. Saat itu, ketika melompat dari jembatan dermaga, kakinya tersangkut dan membentur beton.

Lebih dari itu risiko kematian bisa saja dialami. Lautan tak bisa diterka begitu saja. Bagaimana kalau mereka tiba-tiba kram atau kehabisan nafas saat menyelam? Itu tantangan yang setiap saat harus dihadapi.

a�?a��Makanya kalau batuk pilek hampir tiap bulan,a�? jawab Ridwan, perenang lainnya.

Anak-anak memang tak terlalu peduli soal risiko. Kesenangan yang didapat serta tambahan uang jajan mengalahkan segalanya. (Wahyu Prihadi/Selong)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *