Ketik disini

Ekonomi Bisnis Headline

Tidak Perlu Impor, Garam NTB Cukup

Bagikan

MATARAM – Potensi lahan pertanian garam di NTB cukup luas. Karenanya NTB siap menjadi penyangga garam nasional.

a�?Kita siap menjadi penyangga kebutuhan garam nasional, asalkan impor garam tidak lagi dilakukan pemerintah,a�? tegas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB Aminollah kemarin (1/9).

Ia menilai, potensi lahan pertanian garam di NTB mencapai tujuh ribu hektare (ha), sedangkan yang baru dimanfaatkan sekitar dua ribu ha tersebar di enam kabupaten/kota.

Untuk di Bima saja, luas lahan 4.068 ha dan baru tergarap 1.733 ha. Kemudian Sumbawa memiliki lahan seluas 3.555 ha, yang tergarap mencapai 102 ha.

Aminollah menyebutkan, produksi garam di Provinsi NTB terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2014 produksi garam mencapai 169 ribu ton lebih. Ini lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 78.107 ton.

a�?Nilai produksi ini disumbangkan Bima sebesar 126.257 ton, disusul Lombok Timur 22.881 ton,a�? jelasnya.

Aminollah mengaku optimis produksi garam tahun ini meningkat tajam. Selain ditunjang kinerja bagus, iklim pun sangat mendukung. Tidak hanya itu, bahkan ia merencanakan memperluas area lahan pertanian garam.

a�?Namun optimisnya kita ini seiring perhatian pemerintah pusat yang menunjuk NTB sebagai penyangga kebutuhan garam nasional juga meningkat,a�? ungkapnya.

Untuk mencapai target, pihaknya akan memperjuangkan dan meminta pihak Kementerian Perikanan dan Kelautan RI agar memberikan perhatian khusus terhadap petani garam yang ada di NTB.

Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah pusat untuk menghentikan impor garam pada tahun 2016.

Dengan demikian, petani garam di Provinsi NTB memiliki semangat untuk produksi garam sebanyak-banyaknya dalam menyuplai kebutuhan garam nasional,A�a�?Awal September akan ada pertemuan untuk Indonesia Timur di Surabaya. Terkait masalah garam.

Nanti, disana akan saya perjuangkan nasib petani garam, dan meminta impor di kurangi atau bila perlu dihentikan saja,a�? tegas Aminollah. (ewi/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *