Ketik disini

Feature

Honor Habis Dipakai Beli Bahan Membatik

Bagikan

Anggota Pol PP diidentikkan dengan sosok pegawai berbadan tegap, dan menjadi ujung tombak penertiban.

Seringnya pemberitaan tentang aksi Pol PP yang mengobrak abrik lapak pedagang kaki lima (PKL), menertibkan bangunan liar, dan bentrok fisik dengan warga memengaruhi persepsi jika Pol PP sosok sangar.

Tapi beda dengan Kusman Jayadi, anggota Pol PP Kabupaten Lombok Timur. Di balik sosok tegasnya, dia juga memiliki jiwa seni, dia salah satu pelopor kerajinan batik sasambo.

Pakaian kebesaran Pol PP masih melekat di tubuh Kusman Jayadi saat Lombok Post berkunjung di kediamannya di Dusun Kedondong, Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, kemarin siang. Sepulang dari kantor, dia belum sempat berganti pakaian.

Dia kedatangan tamu di rumahnya. Menemani tamu mengobrol, Kusman menjelaskan batik sasambo yang dipajang di salah satu ruangan rumahnya.
Satu persatu Kusman menyebutkan nama-nama motif batik sasambo itu.

Ada motif ares, lumbung padi, segara anak, mandalika. Dia menjelaskan setiap proses pembuatan motif itu. Mulai proses pemilahan kain, menggamar desain motif, mewarnai, mengecat. Termasuk juga menjelaskan teknik batik cap, batik kombinasi, dan batik tulis. Semua penjelasan Kusman, ditangkap oleh tamunya itu.

“Yang paling mahal harganya batik tulis,’’ kata Kusman.
Awalnya wartawan Koran ini heran dengan penjelasan Kusman yang begitu lancar. Seorang anggota Pol PP begitu fasih menjelaskan tiap detail batik yang dipajang. Sementara istrinya Sa’iyah tidak terlalu banyak bercerita. Kusman lebih banyak mendampingi tamunya.

“Yang paling rapi hasil membatiknya ya Kusman,’’ celetuk Kamarudin, tetangga Kusman yang ikut menemani.

Kamarudin meyakinkan berulang kali kalau yang paling bagus hasil membatiknya di kampung itu adalah Kusman. Bahkan usaha batik sasambo “Jaya Abadi” di desa itu, Kusman sendiri yang mendirikan. Boleh dibilang dia adalah salah seorang pelopor batik sasambo di awal-awal tenarnya nama batik khas NTB yang diambil dari singkatan suku di NTB, sasak, samawa, mbojo (sasambo) ini.

Ya. Kusman, seorang anggota Pol PP Lombok Timur dengan posisi komandan regu ini adalah perajin batik. Sosoknya yang tegas di lapangan ketika menegakkan peraturan daerah (perda) bertolak belakang dengan kelembutannya ketika membatik. Dua profesi ini, dilakoni Kusman bertahun-tahun, dan tak banyak yang tahun. Dia “mendadak” terkenal setelah Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi meresmikan usaha batik sasambo di kampungnya itu pada tahun 2010 lalu.
“Kalau teman-teman sesama perajin batik tidak tahu kalau saya ini anggota Pol PP,’’ kata Kusman tertawa.

Usaha batik sasambo “Jaya Abadi” yang dirintis Kusman saat ini berdiri sejak tahun 2007. Saat itu batik sasambo belum terlalu populer. Kusman membatik menggunakan motif-motif yang sudah biasa. Dia mengembangkan tenun motif batik. Produksinya terbatas. Dia membuat sendiri.

Pagi sampai siang hari dia masuk kantor sebagai anggota Linmas di Bakesbangpol, sore sampai malam dia membatik. Semua dilakoninya sendiri.

Begitu juga ketika pindah ke Pol PP, Kusman tetap membatik. Ketika naik pangkat menjadi komandan regu, Kusman masih membatik. Bahkan dia kini mulai mengembangkan usahanya. Mengajak dan mengajar tetangga sekitar. Membuka lapangan pekerjaan bagi warga.

“Saya memang suka menggambar, ketika pernah dilatih membatik, saya melihat ini peluang,’’ kata Kusman menuturkan asal muasalnya mulai menggeluti batik.

Dia mulai serius menekuni batik setelah mendapat pelatihan. Saat pelatihan itu, Kusman masih berstatus pegawai honorer. Karena ditahu bisa menggambar, dia diutus pelatihan motif batik. Di pelatihan itu ternyata potensi Kusman terlihat. Hasil praktek membatik, Kusman yang paling rapi. Dia dinobatkan sebagai peserta terbaik. Sejak saat itulah semangat Kusman mengembangkan batik makin kuat.

“Ketika masih honorer, gaji saya Rp 200 ribu per bulan. Saya habiskan gaji dua bulan untuk membeli kain dan bahan membatik. Hanya dua lembar saat itu,’’kenang Kusman.

Karena sudah terlanjur memakai gaji dua bulan, Kusman harus segera menyelesaikan batiknya agar bisa dijual. Sepulang ngantor, dia langsung menyentuh bahan-bahan membatik. Hingga akhirnya dua lembar kain batik pertama karyanya itu bisa terjual. Kusman merasa puas, walaupun saat itu keuntungan tidak terlalu besar dari modal yang dikeluarkan.

Kusman terus mencoba motif-motif baru. Dia juga mulai mengenalkan diri di teman-temannya bahwa dirinya memiliki usaha batik di rumah. Teman-temannya yang mendengar tidak mencibir, malahan mereka mendukung. Kusman semakin bersemangat. Teman-temannya juga mau membeli batik karyanya. Lalu menyebarlah dari mulut ke mulut, seorang anggota Pol PP jago membatik.

Kusman juga mulai aktif mempromosikan karyanya. Dia mengenalkan ke sekolah, kantor-kantor di lingkup Pemkab Lombok Timur. Rekan kantornya juga membantu mempromosikan lewat cerita.

“Pesanan memang banyak dari sekolah dan kantor,’’ katanya.
Karena mulai banyak pesanan, Kusman menjalin mitra dengan para tetangganya. Tapi Kusman ketat soal kualitas. Agar menjaga kualitas semua perajin mitranya, dia membuat bengkel kerja di rumahnya. Perajin mitranya harus membatik di bengkel kerja itu. Tidak boleh membatik di rumah.

“Lebih mudah saya kontrol kualitasnya kalau kumpul di satu tempat,’’ ujarnya.

Kini dalam sebulan Kusman dan teman-temannya mampu memproduksi 50 lembar batik dalam sebulan. Jumlah yang cukup banyak untuk ukuran usaha rumah tangga. Apalagi Kusman juga harus membagi waktu dengan tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Selain mengembangkan batik, rupanya Kusman juga melihat ada potensi kerajinan tangan lainnya yang dimiliki para pemuda di desanya. Kusman kemudian memfasilitasi pengembangan usaha kerajinan tangan. Saat ini cenderamata yang dihasilkan miniatur sepeda motor. Kusman menunjukkan contoh hasil kerja itu.

“Masih kasar, kami terus mencoba agar hasilnya lebih bagus,’’ katanya.
Selain mengajak para tetangganya usaha batik, Kusman juga tetap aktif di kegiatan sosial. Dia membangun madrasah diniyah, TBM, majelis taklim, raudatul atfal (RA) dan TPQ. Kegiatan sosial ini dilakoni bersama teman-temannya, semuanya masih berusia muda. Kusman sendiri saat ini belum genap berusia 30 tahun.

“Rezeki dari penjualan batik kami pakai untuk kegiatan diniyah,’’ katanya.
Madrasah diniyah adalah sekolah informal yang fokus mengajarkan pelajaran agama. Sekolah informal ini dimulai sore hari. Selain mengaji, siswa siswinya yang masih duduk di bangku SD diajar amalan-amalan ibadah.

“ Sekarang kami mau bangun musala biar lebih refresentatif untuk belajar diniyah. Mudah-mudahan barang kami lebih banyak laku,’’ ujarnya. (fat)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *