Ketik disini

Selong

Pemerintah Jangan Hanya Duduk Manis

Bagikan

SELONG – Pemerkosaan seorang gadis 19 tahun asal Sembalun, Lombok Timur (Lotim) oleh empat remaja tanggungg menggemparkan Lotim. Betapa tidak, hal itu terjadi di Sambelia, sebuah kawasan yang banyak dianggap terpencil dan jauh dari pengaruh negatif perubahan zaman.

a�?a��Makanya pemerintah jangan hanya duduk manis di belakang meja saja,a�? kata Triyati, Koordinator Program Mampu Lotim, LSM yang mengurusi persoalan gender.

Ia mengatakan kini pemerintah tak ubahnya macan ompong yang tak bisa berbuat. Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dibentuk tak banyak bekerja. Bahkan dapat dikatakan pihak-pihak yang berwenang sedang vakum dalam berkegiatan.

Sosialisasi dengan turun langsung ke pelosok-pelosok menurutnya perlu kembali digalakkan seperti tahun-tahun sebelumnya.

a�?a��Kalau sekarang saya belum lihat itu,a�? katanya.

Ditambahkan sebenarnya banyak LSM dan pihak swasta yang siap turun membantu. Sesuai programnya mereka bersedia melakukan sosialisasi, pengarahan, pencegahan, dan pendampingan pada korban tanpa di bayar sepeserpun. Namun karena kurangnya koordinasi dan arahan pemerintah, apa yang dilakukan secara parsial itu tak bisa berjalan maksimal.

a�?a��Kami siap membantu tanpa perlu diberi uang, cukup arahkan dan dampingi kami,a�? ketusnya.

Kepala Badan Pelayanan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Suroto yang bekerja sama dengan P2TP2A membenarkan kurangnya upaya yang dilakukan pihaknya. Hal itu menurutnya tak lepas dari minimnya anggaran yang ada. Merekapun hanya bisa melakukan sosialisasi dan pengarahan sesekali saja. Itupun sebatas dari kantor dan tak turun langsung untuk memetakan masalah.

a�?a��Itulah keadaan saat ini yang harus kita akui,a�? katanya.

Kejadian di Sembalun seolah membenarkan pernyataan Ketua DPRD Lotim, HM Khairul Rizal yang mengkhawatirkan kondisi moral saat ini. Jika daerah seperti itu saja bisa terjadi kasus yang sangat mengerikan, apa lagi di kawasan lainnya yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan.

Ia lantas menyarankan ada pengawasan ekstra pada anak-anak remaja Lotim Pemberlakuan jam malam bukan menjadi hal yang mustahil untuk diterapkan. Misalnya selepas magrib anak-anak dilarang keluar rumah, mereha diharuskan mengaji dan belajar untuk keperluan pendidikannya.

a�?a��Tidak harus menunggu peraturan resmi, hal semacam itu perlu dicoba,a�? tukasnya. (yuk/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *