Ketik disini

Selong

Sangat Indah, Tapi Minim Perawatan

Bagikan

Juni hingga Oktober adalah saat dimana Rinjani ramai dikunjungi. Saat musim pendakian seperti ini pesona gunung api tersebut menarikA� para pendaki dunia. Sayang jumlah pengunjung seperti berbanding lurus dengan sampah yang dihasilkan. Ditambah lagi dengan perawatan yang ada sangat kurang.

***

DARIA�arah selatan, sebuah mobil bak terbuka melaju kencang. Mereka membawa penuh muatan di bagian belakang. Bukan barang, tapi manusia. Bukan lokal tapi bule. Ya, mobil itu adalah angkutan dadakan para calon pendaki menuju Rinjani.

Mobil tersebut melepas para turis di pos Taman Nasional Gunung Rinjani A�(TNGR) A�Sembalun, Lombok Timur (Lotim). Mereka akan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki mendaki gunung api aktif ini.

a�?a��Setiap hari ada puluhan pendaki asing, bahkan kadang sampai ratusan,a�? kata Zulfahri, Kepala TNGR A�Sembalun.

Kelompok pendaki dari Prancis menjadi salah satu grup yang pertama kali tiba pagi itu. Total ada delapan orang yang siap menaklukkan gunung kaldera Danau Segara Anak tersebut. Mereka terlihat begitu antusias.

Renne Agustin, salah seorang diantaranya mengatakan ini adalah kali keduanya menuju Rinjani. Ia sengaja mengajak beberapa kawannya yang belum pernah ke kawasan itu. Alasannya sederhana, Rinjani menawarkan pemandangan eksotis yang sukar dibandingkan dengan kawasan lain.

Disamping itu beragam tantangan dari level ringan, sedang, hingga berat juga harus dilewati setiap pendaki yang hendak menaklukkan gunung api tertinggi kedua di Indonesia itu.

Di sepanjang perjalanan, beragam objek lain juga bisa ditemui, mulai dari mata air hangat hingga air terjun. Semua lengkap tersaji di Rinjani.

Belum lagi sejarah letusannya yang disebut-sebut terdahsyat dari seluruh gunung yang pernah meletus sepanjang peradaban manusia.

a�?a��Banyak hal yang menarik dari Rinjani,a�? kata pria berjanggut tebal itu.

Hal serupa diungkapkan Pablo, seorang pendaki profesional asal Spanyol. Ia sengaja datang ke Indonesia untuk menaklukkan sejumlah gunung. Setelah Gunung Batur dan Gunung Agung di Bali, kini giliran Rinjani yang dijajaki.

Sebagai orang yang keranjingan dengan aktifitas pendakian, ia mengatakan sudah mempelajari beragam hal tentang Rinjani. Semakin di dalami, ia mengaku semakin jatuh cinta.

a�?a��Target saya cukup satu hari pendakian, tanpa porter,a�? katanya.

Sayangnya dengan beragam keindahan yang ditawarkan, kawasan ini minim perawatan. Sejumlah pihak mengatakan sepanjang jalur banyak sampah terutama berbahan plastik yang dibiarkan berserak begitu saja. Tak ada perhatian untuk itu.

Di pos-pos pemberhentian fasilitas yang disediakan juga tak memadai. Toilet yang kotor dan tak terurus A�menjadi hal yang selalau dikeluhkan wisatawan. Padahal tahun lalu dari pendakian ini, uang lebih dari tiga miliar rupiah berhasil disumbangkan ke kas negara. Namun kondisi tak banyak berubah.

a�?a��Kita sudah bosan protes, keadaannya begini-begini saja,a�? kata Royal Sembahulun, salah seorang tokoh pemuda setempat.

Seandainya saja gunung ini lebih mendapat perhatian, ia yakin semakin banyak pelancong yang berdatangan. Efeknya tentu saja penghidupan warga sekitar kaki gunung yang lebih baik. Selain itu pundi-pundi rupiah yang masuk ke kas negara juga meningkat otomatis. Tapi inilah Rinjani kini, seperti gadis molek yang tak terurus. A�(Wahyu Prihadi/Selong)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *