Ketik disini

Metropolis

Demi Pawai, Rela Tidak Makan Siang

Bagikan

Budaya asli di Indonesia tak terhitung ragamnya. Mulai dari tarian, alat musik, hingga permainan tradisional. Itulah yang tergambar dalam pawai budaya nusantara anak usia dini, Sabtu lalu.

***

DI era globalisasi sekarang, jarang sekali ditemukan anak muda yang mau melestarikan kebudayaan daerahnya. Kebanyakan dari mereka lebih mengagungkan budaya luar. Jika dibiarkan, cepat atau lambat kebudayaan daerah bakal benar-benar punah.

Untuk mencegah hal tersebut digelar lomba pawai adat yang diikuti ratusan anak usia dini.

Acara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Mataram bersama SKB kota Mataram tersebut diikuti 1.300 peserta. 600 lebih peserta merupakan anak usia dini yang tergabung dari 28 PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kota Mataram. Sementara sisanya merupakan para penari dan pemain musik tradisional.

Acara yang dimulai pukul 16.00 wita tersebut menyita perhatian banyak orang. Satu jam sebelum acara, area sudah ramai dipadati penonton. Tak hanya penonton, antusias tinggi juga terlihat dari para peserta pawai. Mereka sudah berbaris memanjang sesuai urutan masing-masing.

H Ramiun, selaku ketua panitia sekaligus ketua SKB Kota Mataram menuturkan, acara tersebut sangat baik untuk pendidikan anak usia dini. Melalui acara ini, mereka ditanamkan nilai-nilai kearifan lokal serta seni dan budaya. Misalnya, budaya malu, tertib dan disiplin. Pada saat mereka dikumpulkan, mereka datang tepat waktu. Mereka dididik untuk merasa malu jika tidak berprestasi dan berkarya.

a�?Bagaimanapun hebat ilmu pengetahuan seseorang, tapi jika tidak berani tampil maka ia selamanya akan jadi orang di belakang,a�? tandasnya.

Melalui lomba tersebut, anak usia dini diajarkan untuk berani tampil di muka umum. Hal ini menjadi uji mental awal mereka. Selain itu, itu menjadi ajang pengenalan dan rasa cinta terhadap kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia khususnya NTB.

Meski baru pertama kali di gelar, Ramiun mengatakan antusias para orang tua dan anak-anak sangat tinggi. Para orang tua telah mempersiapkan anaknya sejak pukul 11.00 wita. Beberapa di antaranya bahkan rela tidak makan siang hanya untuk melakukan persiapan pawai.

a�?Cucu saya yang ikut pawai, berhias dari jam sebelas hingga jam setengah empat. Ia bahkan tidak makan siang saking senangnya ikut pawai,a�?pungkas Ramiun.

Lomba pawai tersebut menitikberatkan pada tiga aspek. Pertama, keberanian untuk tampil di muka umum. Mereka tidak boleh merasa malu untuk berada di depan orang ramai.

Kemudian, keserasian berbusana tradisional, dimana antara anak PAUD perempuan dan laki-laki harus mengenakan pakaian yang sesuai. Dan yang terakhir adalah harmonisasi ekspresi dari apa yang ditampilkan. Misalnya, memakai busana adat Sasak, anak harus pandai mengekspresikan sentuhan adat Sasak tersebut.

Menurut dia, menanamkan rasa cinta terhadap budaya harus gencar dilakukan sejak dini.

Banyak teknologi dan kemajuan peradaban yang mulai mengikis jati diri budaya. Sebagai antisipasi, Ramiun melakukan penanaman budaya melalui sekolah. selain itu, ia juga bekerja sama dengan orang tua dan lembaga-lembaga terkait lainnya. Di sekolah, ia menanamkan konsep dan pilosofi dalam sebuah permainan seni dan budaya. Mereka diajarkan tentang gotong royong, kejujuran dan bagaimana bersikap ketika kalah maupun menang.

a�?Konsep-konsep tersebut kita titipkan melalui lagu tradisional yang ada dalam sebuah permainan seni,a�?ujarnya.

Ia juga mengapresiasi pemerintah kota Mataram yang sudah mendukung penuh acara tersebut. seluruh dana yang dibutuhkan untuk acara tersebut berasal dari APBD kota Mataram. Hal ini menunjukkan perwujudan dukungan pemerintah sesuai dengan motto Mataram, Maju, Religius dan Berbudaya. a�?Semua dana untuk berhias, transportasi, makanan, biaya kesehatan ditanggung oleh pemerintah melalui APBD kota,a�?ungkapnya.

Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya dilakukan sekali dalam setahun. Sebab menurutnya, kegitan ini sangat baik untuk mengasah dan mengasuh bakat budaya anak-anak. Oleh karena itu, ia juga berharap para orang tua, SKB, pemerintah kota Mataram serta lembaga terkait lainnya lebih menyemarakkan kegiatan ini. Jadi, bukan hanya diikuti 28 PAUD saja, namun seluruh PAUD yang ada di kota Mataram.
(Ferial Fitria Ayu)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *