Ketik disini

Bima - Dompu

BPNB Terus Fokus Lestarikan Budaya

Bagikan

BIMA – Dalam rangka mencatat dan menetapkan warisan budaya di Bima, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Denpasar mengadakan kegiatan seminar Pelestarian Budaya Takbenda. Kegiatan ini dihadiri langsung Ketua BPNG I Made Purna.

a�?Ini dilakukan sebagai upaya pelindungan dari kepunahan dan membangun kesadaran dalam pelestarian kebudayaan yang ada di Bima,a�? kata Made saat memberikan sambutan di acara yang digelar di museum ASI Bima itu, kemarin (8/9).

Hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bima, Drs Syafruddin H Ahmad. Serta sejumlah tokoh seni dan budaya se Kabupaten Bima.

Menurut Made, kegiatan perekaman data secara tertulis terhadap hasil pendaftaran budaya takbenda, nantinya akan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.

Seminar ini, sambung dia, mengawali pencatatan seluruh kekayaan budaya Indonesia khususnya yang ada di Bima.

Kata dia, negara asing sering melakukan plagiat dan a�?pencuriana�� atas warisan kesenian dan kebudayaan takbenda yang kita miliki.

Menurutnya pula, harus ada langkah konkrit dalam upaya melestarikan warisan kekayaan kebudayaan dan kesenian yang ada di negeri ini khususnya di Bima.

a�?Kita harus melestarikan sekaligus mempatenkan semua kesenian dan kebudayaan takbenda seperti tarian, batik atau rimpu (kerudung khas bima). Kita tak ingin lagi ada yang merampok budaya kita seperti kasus reog ponorogo,a�? ujar I Made Purna.

Ia menambahkan, Pemerintah melalui Balai Pelestarian Budaya Nasional sejak tahun 2009 lalu, sudah mencatat semua kekayaan budaya takbenda di negeri ini. Sesuai dengan Konvensi UNESCO tahun 2003, warisan budaya yang ada di masing-masing negara harus dipatenkan.

Ia pun menjelaskan, yang dimaksud dengan budaya takbenda adalah seluruh hasil perbuatan dan pemikiran yang terwujud. Baik itu dalam identitas, ideologi, mitolog dan ungkapan-ungkapan konkrit.

Bisa ungkapan dalam bentuk suara, gerak, maupun gagasan yang termuat dalam benda, sistem perilaku, sistem kepercayaan dan adat istiadat di Indonesia.

Tujuan pencatatan secara nasional (inventory national), sambung dia, sebagai syarat pengajuan nominasi WBTB untuk diakui oleh UNESCO.

a�?Kami akan menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam kegiatan pencatatan budaya takbenda. Hasil pencatatan, nantinya dijadikan sebagai warisan budaya nasional kita.

Ini syarat agar mendapat pengakuan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization),a�? terangnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi terhadap individu atau kelompok masyarakat yang telah berupaya melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat. (cr-gus/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *