Ketik disini

Bima - Dompu

Isi Hari Tua, Modal Rp 10 ribu

Bagikan

Gila. Kata-kata itu yang sering didengar Agus Jaya Wiraja. Diusianya 67 tahun, kakek 10 cucu ini justru berkeinginan kuat menjelajah nusantara dengan jalan kaki.

***

KORAN ini dikagetkan dengan kehadiran Agus Jaya Wiraja di Redaksi Radar Tambora, Jalan Soekarno Hatta, BTN P Pabri, Kelurahan Monggonao, kemarin (8/9).

Didampingi Komunitas Pecinta Alam (Kopa) Mbojo, pria berambut gondrong dengan jenggot diikat ini sengaja datang untuk silaturrahmi. Memperkenalkan diri sebagai penjelajah nusantara dengan jalan kaki.

Dia pun memperlihatkan buku tebal, berisi tanda tangan dan stempel sejumlah daerah yang pernah dikunjunginya selama lima tahun terakhir.

Dari cerita yang meluncur dari mulut pria blasteran Jerman ini, telah melakukan perjalanan ke sejumlah daerah di Indonesia sejak tahun 2005 lalu.

Namun untuk jalan kaki keliling nusantara dimulainya tanggal 10 Oktober 2014 lalu. Keluar dari rumahnya di Bandung hanya dengan modal uang Rp 10 ribu dan satu bungkus rokok kretek Gudang Garam Merah.

Dengan tas ransel berisi pakaian, sepatu, kelengkapan makan dan mandi.

Keinginannya untuk jalan kaki menjelajah Indonesia terinspirasi oleh Andreas Lawalata, penjelajah Indonesia pertama. Dia pernah melihat Andreas saat duduk dibangkus kelas lima SD.

Dari rumahnya di Bandung, pria yang akrab disapa Pak Agus ini jalan kaki ke Surabaya, terus ke Makassar, Belitung, Talaut Sulawesi utara, Morotai, Raja Empat. Waemena (Irian Jaya), Sota, Maluku Selatan, Alor, Ende, Sumbah, Komodi.

Dua hari lalu, pria kelahiran Bandung ini tiba di Kota Bima. Rencananya, Rabu (9/9) hari ini akan melanjutkan perjalanan ke Dompu, Sumbawa, Mataram hingga Bali.

Dari Bali akan nyeberang ke Pulau Selayar (Makassar), terus ke Buton, Kendari, Tolitoli, Buton. Kemudian ke Utara menuju Kalimantan, Sumatera.

Dari Sumatra, Agus akan melanjutkan perjalanan ke pulau Jawa. Meski tiba di tanah kelahiran, dia belum berhenti. Masih akan keliling pulau Jawa dan Madura. Akan mengambil rute ke timur melalui jalur selatan dari Bandung, Yogyakarta, ke Banyuwangi kemudian menyeberang ke Madura.

Dari daerah produsen garam Agus melanjutkan perjalanan melalui jalur Pantura ke arah. Petualangannya ini ditargetkan tuntas selama tiga tahun.

Selama menjelajah nusantara, banyak pengalaman yang dia peroleh. Tapi pada umumnya kata pria yang pernah bekerja di Sumatera ini, sambutan warga cukup baik.

Sebelum mengetahui Agus sebagai penjelajah. Warga pada umumnya menilai dia sebagai orang gila, dicap sebagai teroris. Tapi paling sering katanya, dianggap orang gila.

Dia punya pengalaman pahit saat di Jember. Ketika akan masuk warung makan, pemilik langsung tutup pintu warung. Dia pun tidak ngerti kenapa seperti itu. Tapi di daerah lain, tidak pernah mendapatkan pengalaman seperti itu.

Tidak hanya itu, kejadian unik pernah dia alami saat di Poso. Saat ke Kantor Polres setempat dia dianggap teroris yang membawa bom, karena menggunakan rangsel besar. Sejumlah polisi saat sudah menodongkan senjata.

Selama menjelajah tidak sedikit warga yang membantu. Walau sekedar memberikan tempat istirahat, makan dan minum. Kebaikan yang diterimanya itu menurut dia menunjukkan, orang Indonesia itu baik.

Bahkan saat di Kota Bima mendapat tawarkan Komunitas Pecinta Alam Kopa Mbojo untuk istirahat.

Dia akan berhenti berjalan ketika bertemu rumah warga. Di rumah penduduk ini dia beristiratat. Termasuk menginap di kantor polisi dan TNI.

a�?Saya tidak mau merepotkan anak dan cucu saya. Selama saya masih mampu berjalan,a�? akunya. (Febrianto Niko S/Bima)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *