Ketik disini

Selong

Tetap Semangat, Lakukan Apapun Untuk Bertahan Hidup

Bagikan

Apa jadinya jika nelayan tanpa sampan? Bagaimana mereka mengarungi lautan untuk menyambung hidup?A� M Amin salah satunya, meskipun sudah puluhan tahun menjadi nelayan, hingga kini ia tak pernah memiliki perahu sendiri. Namun ia tak pernah putus asa, segala hal dilakukan untuk menyambung hidup.

****
a�?NENEK moyangku seorang pelauta�? potongan bait lagu itu mungkin sudah sangat familiar bagiA� warga Indonesia termasuk diA� Lombok Timur (Lotim). DenganA� laut yang demkian luas, tak aneh rasanya jika banyak warga Lotim yang berprofesi sebagai pelaut.

Namun luas lautan dengan kekayaan isinya ternyata belum mampu mengangkat taraf hidup para nelayan. Kebanyakan dari mereka masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Tengok saja rumah-rumah mereka yang ada di sepanjang pesisir Lotim. Semua serba seadanya. Kalaupun sedikit bagus, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

M Amin salah satu contoh nyata bagaimana, laut belum bisa berpihak pada ekonomi para nelayan ini. Ia yang sudah hidup di laut semenjak belum bisa merangkak, hingga kini tak bisa membeli perahu.

Aneh memang, nelayan tapi tak memiliki perahu, namun itulah kenyataannya. Tak semua nelayan beruntung bisa memiliki perahu, apalagi kepal yang berukuran lebih besar.a�?a��Harga perahu itu puluhan juga, saya tak sanggup,a�? katanya polos.

Untuk menyambung hidup, ia kerap menumpang pada nelayan lain yang lebih beruntung. Lelaki asli Suryawangi itu harus rela menjadi semacam pesuruh bagi nelayan pemilik perahu.

Hasilnyapun tergantung pemberian orang yang diikutinya. Untuk menambah penghasilan, ia juga kerap menjaring di sekitar pinggir pantai.

Menggunakan ban lusuh yang membantunya mengapung, pria 45 tahun itu menebar jala, kemudian keesokan harinya diambil.

Dapat dibayangkan berapa rupiah yang bisa didapatnya di bibir pantai. Hasil yang tak seberapa itulah yang dijual oleh istrinya. Lewat jalan itu M Amin sekeluarga bertahan hidup.

Berulang kali ia mencoba peruntungan lain. Beberapa kali pria berkulit gelap ini merantau hingga ke negeri Jiran di Malaysia.

Sekali lagi nasib tak kunjung memihak dirinya. Dan kepada lautlah Amin kembali menyerahkan diri.a�?a��Ujung-ujungnya pasti kembali ke air,a�? katanya.

Namun dengan segala keterbatasan itu, ia menolak menyerah pada takdir. Itulah Amin, potret buram nelayan Lotim yang tak pernah bisa membeli perahu.

Kendati sudah berada di laut selama puluhan tahun. Selain dirinya, masih banyak Amin Amin lainnya yang bernasib sama bahkan lebih buruk darinya. Mereka hanya bisa terus berusaha dengan segala keterbatasan yang ada. (*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *