Ketik disini

Metropolis

Hasil UN SMA Mengecewakan

Bagikan

MATARAM – Hasil ujian nasional (UN) tingkat SMA/SMK/MA/SMALB di NTB mengecewakan. Banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah nilai rata-rata, yakni 5,5. a�?Ya, hasil UN yang kami terima dari pusat, masih banyak siswa yang nilainya di bawah lima,a�? kata Kabid Dikdas Dinas Dikpora NTB H Aidy Furqan, kemarin (6/5).

Dikatakan, siswa yang memperoleh nilai di bawah lima, belum memenuhi syarat lulus UN. Namun, itu tidak menjadi syarat kelulusan bagi siswa. a�?Lulus tidaknya siswa, yang menentukan sekolah,a�? tandasnya.

Dengan hasil ini, maka siswa bisa mengikuti ujian nasional perbaikan (UNP). Rencananya, UN perbaikan akan dilaksanakan akhir Agustus mendatang. a�?UNP informasinya dimajukan,a�? imbuh Aidy.

Dia meminta siswa yang belum lulus UN bisa mengikuti UN perbaikan. Sehingga, nantinya siswa bisa meraih nilai lebih baik dibandingkan sekarang ini.

Meski demikian, banyak juga siswa yang memperoleh nilai di atas lima. a�?(Nilai) di atas tujuh yang sedikit,a�? ungkapnya.

Aidy tidak menyebutkan rangking NTB dalam peraihan hasil UN. Ia mengklaim hanya menerima hasil UN saja.

Integritas UN pun, kata dia, belum diumumkan. Menurutnya, integritas UN bisa saja diumumkan setelah ada hasil UN tingkat SMP. Bahkan, rangking hasil UN juga akan diumumkan pada saat itu. a�?Kalau sekarang belum ada rangking atau sekolah yang berintegritas. Pusat hanya memberikan skor hasil UN saja,a�? ucapnya.

Disinggung soal beberapa kabupaten/kota yang telah mengumumkan beberapa menjadi sekolah berintegritas, Aidy mempertanyakan sumber datanya. Karena pusat hanya melansir hasil UN saja. Sementara sekolah yang mendapat predikat berintegritas belum diumumkan. a�?Datanya dari mana, saya saja tidak tahu,a�? sebutnya.

Kepala Dinas Dikpora NTB H Rosiady Sayuti mengatakan, nilai UN masih banyak di bawah 5,5 terjadi karena siswaA� kurang bersemagat belajar. Siswa santai mengahadapi UN.

a�?Mereka tidak menyadari nilai UN tetap peting untuk ke depan. Terutama mereka yang bisa masuk ke lapangan kerja dan kampus menjadi persyaratan,a�? katanya.

Saat ini, pihaknya masih menunggu indeks integritas UN. Integritas tinggi, mencerminkan murni pencapaian belajar. Sebaliknya, jika integritasnyaA� rendah, berarti masih terjadi kunci jawaban beredar yang salah atau palsu. a�?Dua kemungkinan ini yang harus keluar guna menjadi pertimbangan dari hasil UN ini,a�? katanya.

Dikatakan, nilai UN rendah bisa diperbaiki dengan mengikuti UN perbaikan. A�a�?Paling tidak bisa mendapat nilai 5,6 lah,a�? ujarnya.

Sementara itu Pengamat Pendidikan Muharrar Iqbal mengatakan, banyaknya siswa yang mendapat nilai di bawah 5,5 tidak lepas karena fungsi UN.A� UN yang dulunya menjadi penentu kelulusan, memotivasi siswa untuk lebih giat belajar. Para guru pun bahu membahu melakukan persiapan menghadapi UN. Bahkan berbagai ritual juga dilakukan guna menghadapi UN.

a�?Namun kini berbeda, siswa tidak terlalu fokus dan serius mempersiapkan UN. Mereka latah. Dimana, kelulusan UN ditentukan sekolah atau guru,a�? katanya.

Karena sekolah yang menentukan kelulusan ini membuat adanya sistem lobi di sekolah. Siswa yang tidak lulus bisa melobi sekolah agar mereka bisa lulus. a�?Ini akan sangat berbahaya bagi kualitas pendidikan,a�? kata pria yang juga menjadi guru ini.

MestinyaA� lanjutnya, pemerintah mempersiapkan sistem kelulusan dengan meningkatkan kualitas lulusan. Sekolah di NTB belum siap menjadi barometer kelulusan. Dimana, sekolah sendiri masih belajar. Tidak semua guru bisa mengatakan tidak, jika ada lobi dari siswa dan orang tua terkait kelulusan. a�?Apalagi kalau sudah membawa andang-andang,a�? sindirnya.

Ia mengatakan, dibutuhkan penguatan mental bagi guru. Barulah bisa melaksanakan sistem kelulusan dari sekolah. Penguatan mental ini tak lepas dari kesejahteraan guru. Lihat saja sekarang guru PNS harus berebut jam mengajar untuk memenuhi sertifikasi. Jika tidak maka sertifikasinya terancam tak dibayarkan. Ia mengatakan, guru juga banyak yang tidak fokus mengajar. Karena mereka nyambi menjadi pengojek, berbisnis, dan lainnya. a�?Ini tak lepas dari ketidaksejahteraan,a�? katanya.

Menurutnya, jika ingin kualitas pendidikan tetap meningkat, maka UN harus dikembalikan fungisnya. Nilai UN harus menjadi bagian dalam menentukan kelulusan. a�?Jangan diserahkan semua ke sekolah,a�? sarannya. (jay/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *