Ketik disini

Metropolis

BLH Pastikan Sampai Ke Perusahaan Pemusnah

Bagikan

MATARAM – Keraguan pihak Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTB akan penanganan limbah medik di Kota Mataram menggunakan jasa transporter ditanggapi Kasubid Amdal BLH Kota Mataram, Darwis.

Dijelaskan Darwis, keraguan tersebut merupakan hal yang wajar dan memang sudah sepatutnya dari pemerhati lingkungan. Namun, ia memastikan bahwa limbah medik Kota Mataram yang diangkut oleh jasa transporter limbah dipastikan tiba di perusahaan pemusnah yang ada di Bandung, Jawa Barat.

“Sampai tidaknya limbah itu akan tercatat di masing-masing manifest perusahaan. Baik di penghasil limbah, perusahaan transporter, perusahaan pemusnah, Kementerian Lingkungan Hidup dan pihak terkait,” jelas Darwis kepada Lombok Post.

Termasuk berapapun beratnya limbah medik tersebut. Jumlah yang dihasilkan penghasil limbah akan sesuai dengan jumlah yang dimusnahkan. Laporannya juga langsung diterima Kementerian Lingkungan Hidup.

“Ada tujuh lembar. Lembar ketiga ke penghasil dan nanti lembar ketujuh dari perusahaan pemusnah akan dikembalikan ke penghasil sebagai bukti bahwa limbah yang sudah dihasilkan telah dimusnahkan. Jadi tidak perlu khawatir kalau limbah tidak sampai ke pemusnah,” sambungnya.

Sebelumnya, Direktur WALHI NTB Murdhani mengatakan keraguannya atas penggunaan jasa transporrter untuk penanganan limbah Kota Mataram. Pasalnya, Murdhani merasa selama ini tidak ada pengawasan terhadap proses pemusnahan limbah.

“Apakah nyampai atau tidak, tidak ada yang tau. Karena kan tidak pernag diawasi langsung oleh pemerintah Kota Mataram,” jelas Murdhani.

Untuk itu, Murdhani meminta pemerintah menyiapkan solusi jangka panjang. Caranya dengan membuat incenerator terpadu. Mengingat, untuk mendatangkan perusahaan pemusnah di Kota Mataram masih belum memungkinkan dari segi ekonomi.

“Nanti kan biaya incenerator terpadu bisa juga dari biaya urunan yang dikeluarkan oleh penghasil limbah. Agar penanganan limbah medik Kota Mataram ini jelas dan terawasi,” jelas Murdhani.

Namun, terkait keinginan membuat incenerator terpadu, Darwis menjelaskan bahwa perlu dipikirkan limbah B3 hasil pembakaran. “Itu kan harus dipikirkan juga abu sisa pembakaran limbahnya mau dikemanakan. Karena abu bekas pembakaran limbah medik itu masuk kategori limbah berbahaya yang harus ditanam,” terang Darwis.

Dimana, biaya menanam abu sisa pembakaran tersebut cukup mahal. Satu drum dikatakan darwis memakan biaya penanaman sebesar Rp 8 juta. Jadi solusi yang bisa dilakukan untuk penanganan limbah medik saat ini adalah dengan menggunakan jasa transporter. Meskipun ini juga diakui BLH sebagai solusi jangka pendek.

“Untuk mendatangkan perusahaan pemusnah maupun penanam libah di NTB itu nggak mudah. Mereka melihat NTB masih belum sesuai dari sisi ekonomi. Karena limbah yang dihasilkan masih belum seberapa,” tandas Darwis. (ton/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *