Ketik disini

Perspektif

Nyala Untuk YY

Bagikan

LIBUR panjang pekan lalu antara dua tanggal berwarna merah yang menandakan libur nasional. Kamis 5 Mei diperingati sebagai hari Kenaikan Isa Almasih oleh saudara kita umat Nasrani. Sehari setelahnya umat Islam merayakan Isra Mikroj Nabi Muhammad s.a.w. Karena jatuh pada Kamis dan Jumat, maka jadilah pekan ini libur yang panjang.

Kata liburan untuk sebagian orang selalu lekat dengan piknik, tempat wisata, mengisi waktu bersama keluarga dan lainnya. Daftar rencana bahkan sudah disiapkan semenjak jauh hari.

Tapi, saya memilih kesempatan liburan untuk turut serta dalam aksi solidaritasA� Nyala untuk YY, Nyala untuk anak Indonesia. Bergabung dalam satu aksi masyarakat peduli perempuan dan anak NTB.

Ramai pemberitaan media soal Yuyun (YY), 14 tahun, anak korban kekerasan seksual, pemerkosaan, pembunuhan oleh 14 orang pelaku yang dikabarkan sebagai orang-orang satu kampungnya di di desa Kasie Kasubun, Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu.

KasusA� ini terjadi pada 2 April dan menjadi isu nasional dua minggu setelahnya. Tak ada yang terlambat untuk bersuara, faktanya kasus ini seolah membalikkan ingatan kita pada serangkaian peristiwa kekerasan seksual, pencabulan, pemerkosaan bahkan yang ramai diberitakan media di NTB.

Lebih dari seminggu koran nasional dan koran di NTB, media cetak dan elektronik menyebarkan informasi, mengundang narasumber yang menyajikan data, fakta pada kasus-kasus serupa di negri ini.

Senada dengan itu, banjir tuntutan dari berbagai pihak baik di legislatif, menteri, bahkan presiden turut merespon kasus ini sebagai sikap dan kepedulian sekaligus perang terhadap tindak kekerasan.

Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang meminta agar pelaku dihukum keras, termasuk mendesak untuk segera dilakukan pembahasan dan pegesahan RUU tindak kekerasan seksual, dipandang sebagai langkah yang diharapkan dapat memebri efek jera bagi pelaku.Pun menjadi salah satu yang diusung dalam aksi damai, solidaritas Nyala untuk YY yang digelar di pelataran Taman Budaya Provinsi NTB.

Tak pernah ada kata terlambat untuk melakukan pembelaan, keberpihakan atau antisipasi pada tindakan predator yang mengancam masa depan generasi.

Meski selip dari itu semua suara-suara lain masih terdengar, sebagai pernyataan dan pertanyaan mengapa untuk kasus yang acap kali terjadi di daerah ini, justru kebanyakan kita diam?

Mendesak hal yang sama, atau pihak yang menyatakan kurang apa kita pada regulasi perangkat perundangan yang ada untuk melindungi anak dan perempuan? Kurang keras apa aparat penegak hukum kita menjatuhkan hukuman pada pelaku hingga sedemikian tak percayanya kita untuk memastikan mereka pun harus dijerat dengan hukuman setimpal, pada kasus YY banyak pihak yang meminta hukuman mati bagi pelaku.

Sedemikian kompleksnya realitas kita, bahkan dalam struktur masyarakat yang masih dominan dipengaruhi pandangan yang menempatkan manusia yang satu dengan yang lainnya sebagai objek, sebagai yang lemah bukan untuk dilindungi justru disakiti.

Dieksploitasi atas tindakan kejam bernama pemerkosaan, pelecehan seksual, pencabulan, pedofilia yang menyisakan begitu banyak kepedihan bahkan korban nyaris tanpa masa depan.

Menggarisbawahi kalimat acapkali korban yang nyaris tanpa masa depan, di sanalah letak kepedulian pada irisan nilai kemanusiaan. Mungkin jika hanya itu yang tersisa dari cara pandang kita pada konteks seruan penegakan hukum yang nyaris nampak sebagai dendam kesumat pada pelaku.

Alih-alih sebagai cara pandang memberi efek jera, kasus YY tidak serta merta berdiri sebagai soal menyoal penegakan supremasi hukum, yang justru terpisah dari kontrol sosial, kondisi kemiskinan di lingkungan dan daerah. Turut menjadi rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi soal-soal ini.

Soal YY, soal apa yang terjadi pada kasus pencabulan anak 5 tahun di kecamatan Jonggat, atau kasus pelecehan yang menimpa 14 orang siswa SD oleh oknum guru di kecamatan Peringgarata Lombok Tengah, atau kasus pemerkosaan ayah kandung terhadap anak yang masih di bawah umur yang menimpa siswi kelas III SD kota Bima. Dan , baru-baru ini dirilis media pelajar SMP di di Dompu yang diperkosa oknum tukang ojek.

Alih-alih berfokus pada tindakan kejam pelaku, tidak sedikit cara pandang yang berkembang di lingkungan kita pun ambil andil turut menghakimi korban dengan pernyataan dan pelabelan.

Bahkan seorang teman yang pernah mendampingi kasus pemerkosaan menceritakan, ada juga korban justru yang terusir dari lingkungannya, diberhentikan dari lingkungan pendidikannya karena menganggap mereka sebagai aib.Tindakan itu dilabeli pula demi nama baik keluarga dan masyarakat.

Sungguh betapa fakta ini menjadi catatan kelam dalam sejarah relasi sosial kita yang timpang. Alih-alih berempati justru garang memberi sanksi. Nyaris peristiwa demi peristiwa yang terjadi hanya lewat dan berlalu tanpa ada yang membekas. Seolah-olah kita yang merasa suci akan selalu aman dari segala tindak kekerasan dan pelecahan.

Dari gerakan solidaritas YY, selain menjadi gerakan refleksi kepedulian, ada ruang interupsi turut kita suarakan perlindungan sosial pada korban dan keluarganya.

PadaA� para Tuan dan Puan penyampai dan penyeru nilai moral, selain dapat mengimbau bagaimana perempuan dan anak-anak kita berpakaian sopan, akan lebih baik lagi untuk mengimbau bagaimana agar setiap orang dapat berpikir sopan untuk saling menghormati. (r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *