Ketik disini

Ekonomi Bisnis Headline

Greenback Tingkatkan Efisiensi Pasar Remitansi

Bagikan

MATARAMA�-A�Proyek Greenback dinilai mampu meningkatkan efisiensi pasar remitansi di tanah air. Hal ini disampaikan tim World Bank saat menemui Gubernur NTB TGH ZainulA� Majdi. Rombongan World Bank didampingi Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yusri dan Kepala KPw Bank Indonesia (BI) Prijono.

Kepala Biro Humas dan Protokol H Yusron Hadi menuturkan, proyek dilatarbelakangi dari hasil kajian World Bank. Bahwa setiap tahun tercatat lebih dari USD 400 miliar remitansi mengalir ke negera berkembang termasuk Indonesia. Sehingga menjadi penting sebagai sumber pendapatan keluarga maupun nasional.

Di sisi lain, tingginya biaya transaksi atau rata-rata 7,36 persen dari nilai yang dikirim dan ke tidak efisiensi lainnya seringkali menjadi masalah. Serta menimbulkan dampak negatif pada pekerja migran dan keluarga mereka.

a�?Proyek Greenback diharapkan dapat mendorong pengembangan pasar remitansi yang transparan dan efisien dengan cara meningkatkan kesadaran para pekerja migran dan keluarga,a�? katanya, kemarin.

Selain itu, sambungnya, manfaat layanan keuangan yang teregulasi, juga diharapkan dapat mengedukasi pekerja migran dan keluarganya mengenai akses layanan keuangan yang lebih baik. Sehingga pada akhirnya dapat mendukung peningkatan kesejahteraan mereka.

Sebagai lokasi pertama proyek Greenback, kata dia, akan terfokus pada sisi penerima remitansi tertinggi di NTB mencakup Kabupaten Lombok Timur.A� Rencananya, implementasi proyek ini akan menggunakan pendekatan inovatif. Dengan memberi penjelasan kepada masyarakat di desa terpilih tentang bagaimana sesungguhnya keunggulan memiliki akun sendiri, dan bagaimana manfaat utama layanan transfer dana melalui rekening sendiri.

Kepala OJK NTB Yusri menambahkan, proyek ini rencananya akan secara resmi diluncurkan 25 Mei mendatang di Mataram. Adapun pemilihan lokasi uji coba di Kabupaten Lombok Timur, lanjutnya, karena terdapatA� lebih dari 2000 rumah tangga menjadi TKI. Sebagian besar mereka sekitar lebih dari 80 persen masih belum menggunakan layanan bank, meskipun mereka menerima remitansi secara rutin.

Padahal, rumah tangga TKI rata-rata menerima kiriman remitansi sebesar Rp 3 juta per bulan atau Rp 10 hingga 15 juta per kwartal.A� Bahkan, di desa lain yang merupakan asal TKI, agen melayani 200 hingga 1000 transaksi per hari dengan total transaksi Rp 50 hingga 100 juta.

a�?Untuk itu, dengan adanya proyek ini, Lombok Timur sebagai daerah perintis diharapkan dapat meningkatkan akses dan penggunaan produk layanan keuangan yang teregulasi,a�? katanya.

Gubernur pun menyambut baik dan sangat mendukung program ini. Serta berharap program ini dapat merubah pola pemanfaatan uang dalam masyarakat. Ia juga berharap OJK dapat mengambil peran dalam memberi edukasi kepada masyarakat tentang metode pengelolaan keuangan yang baik.

a�?Jangan hanya menghabiskan uang tanpa diinvestasi ke hal yang produktif,a�? harap gubernur.

Lebih lanjut, ia berharap program ini bisa berhasil dan ke depannya semua perangkat daerah dapat ikut terlibat dan mendukung program ini, mulai dari elemen terkecil di tingkat desa, atau kader posyandu.

a�?Kader posyandu, dapat didayagunakan untuk membantu sosialisasi tentang manfaat menabung, mendayakan uang, termasuk memiliki rekening tabungan sendiri.A� Saya yakin, kalau dasarnya sudah diberi informasi dan pemahaman, tentu akan dengan sendirinya timbul kesadaran di masyarakat,a�? tandas gubernur. (ewi/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *