Ketik disini

Metropolis

Di Sana Terang, Di Sini Gelap

Bagikan

MATARAM – Jika wali kota saja geram oleh persoalan Penerangan Jalan Umum (PJU) yang belum a�?seragama�� menyala (di sana terang tapi di sini gelap), apalagi warga. Seperti, kesaksian sejumlah warga yang tinggal di kawasan jalan TGH Faisal misalnya. Mereka sempat mempertanyakan lampu jalan yang belum lama ini diperbaharui.

a�?Iya pernah itu beberapa malam padam, padahal itu kan (lampu) baru ya?a�? kata, seorang warga bernama Marta.

Selain karena PJU yang hidup-mati, ternyata persoalan lain yakni instalasi PJU juga belum merata. Inilah yang mendorong aksi pemasangan PJU ilegal kerap dilakukan warga.

Mereka nekat a�?mencuria�� daya, melalui jaringan listrik. Terutama yang masuk ke perkampungan.
Fakta hasil penelusuran tim gabungan dari PLN dan Dinas Pertamanan Kota Mataram memperlihatkan, sampai kemarin ada sekitar 146 titik PJU ilegal.

a�?Jumlah ini, kemungkinan bertambah. Ini data sementara,a�? kata Manajer PLN Rayon Ampenan, Aditiya Darma.

Wajar saja, kalau PLN jadi mencak-mencak. Dari 146 titik itu, terakumulasi kerugian yang didera mencapai ratus juta rupiah lebih. Ia lantas menuding Pemerintah Kota harus bertanggung jawab, terkait ulah warga kota, hingga membuat PLN rugi besar.

Meski demikian, Aditya memastikan, jika ada PJU yang sampai hidup-mati, itu bukan karena masalah dari PLN. Sejauh ini PLN tidak pernah melakukan pemutusan sambungan secara sepihak.Ia menduga, jika itu terjadi, mungkin karena unit penerangan lampu yang dipasang bermasalah.

a�?Kalau (suplai) tegangan listrik, kami tidak pernah putus. Apalagi setahu kami, Pertamanan tidak pernah menunggak (bayar listrik) ya. Kecuali memang pernah sekali (nunggak) tahun 2015. Perkiraan kami, mungkin di unit PJU-nya yang ada masalah,a�? imbuh Aditya.

Namun, lebih jauh Aditya enggan berkomentar. Baginya persoalan itu sudah domain Dinas Pertamanan. Tapi sekali lagi, PLN tidak pernah melakukan pemutusan sepihak, hingga dampaknya jalan gelap gulita. Terlebih PLN mengklaim, persoalan devisit daya sudah tidak dialami lagi.

a�?Kita sudah tidak alami lagi, devisit daya. Kita aman. Sebaiknya untuk persoalan PJU hidup-mati, ditanyakan langsung pada Dinas Pertamanan,a�? kata Asisten Manager Pelayanan dan Administasi, Ridwan Maulana.

Ridwan lebih memilih menyoroti tingginya angka pemasangan PJU ilegal. Sampai saat ini, pihaknya masih mentolelir dan memberi kesempatan pada pemkot, bertanggung jawab pada aksi liar yang dilakukan warga kota.

a�?Iya kita masih tunggu kebijakan pemerintah. Kalau dari sisi kami, kami sudah rugi oleh aksi-aksi pencurian ini. Tapi kalau tidak, ya kita akan tertibkan, cabut semua lampu ilegal itu,a�? imbuhnya.

Risiko tentu harus ditanggung pemkot. Jika nanti akhirnya harus ada penertiban terhadap lampu-lampu liar itu, pemerintah harus siap, dituding sebagai biang keladi pemutusan PJU dan menerima semua kekecewaan warga. PLN lanjut Ridwan, tidak mau lagi dijadikan a�?kambing hitama�� atas persoalan ini.

a�?Warga yang pasang PJU (secara Ilegal) kan biasanya tujuannya baik ya, karena tempat itu gelap atau rawan (kejahatan), sekarang pilihannya tinggal di Pemerintah Kota, mau diilegalkan atau dilegalkan (PJU), itu saja,a�? tandasnya.

Sebelumnya, pihaknya juga pernah menerbitkan surat imbauan pada Pemkot Mataram, agar mengalokasikan anggaran sebesar Rp 30 Miliar dalam tiap tahun, untuk bayar listrik. Dalam hitung-hitungan di atas kertas, setiap bulan, Dinas Pertamanan membayar Rp 2,2 sampai 2,3 miliar setiap bulannya untuk bayar listrik. Itu artinya dalam setahun bisa mencapai Rp 30 miliar.

a�?Jadi itu cuma surat imbauan saja, agar tidak terjadi keterlambatan bayar listrik seperti tahun 2015 lalu. Karena itu kita memang minta pemkot sediakan 30 Miliar setiap tahun, artinya untuk jaga-jaga, kalau memang ada lebih (dari 30 Miliar), ya di kembalikan dong,a�? ulasnya.

Ia juga menanggapi pernyataan Kepala Dinas Pertamanan, H Kemal Islam yang sempat mengaku heran dengan tagihan PLN. Bukannya turun, tapi malah naik. Padahal Kemal mengklaim, telah berhemat sedemikian rupa. Diantaranya dengan mengganti lampu konvensional dengan jenis LED hemat energi.

a�?Memang kita lihat ada langkah (penghematan) itu, tapi kalau jumlah titik lampu bertambah dari sebelumnya, meski diganti semua, tetap saja, penambahan daya terjadi kan? Belum lagi, tidak semua lampu sudah diganti LED, masih ada yang jenis lama. Seperti di depan ini (jalan Langko),a�? tandasnya.

Sebelumnya, Kemal Islam mengatakan, jika pihaknya saat ini sudah menyiapkan anggaran mencapai 2,5 miliar untuk mengganti lampu dari konvensional ke LED. Selain itu juga menambah titik PJU di Kota Mataram.

a�?Kami siapkan anggaran 2,5 miliar untuk memasang dan mengganti sekitar 1000 lampu LED,a�? jawab Kemal.Pembelian lampu, sepenuhnya melalui sistem pengadaan e-katalog. Saat itu, sudah ada beberapa perusahaan menawarkan produk.

Namun, belum diputuskan karena masih membandingkan efisiensi hemat daya. a�?Kita cari yang benar-benar hemat energi, philips sudah coba menawarkan, tapi masih kita pertimbangkan,a�? bebernya.

Tak hanya soal hemat daya, beberapa perusahaan dikatakan menawarkan paket PJU murah. Kemal mencontohkan, jika pada lampu konvensional satu paket PJU pengadaan mencapai 1,5 juta sampai 1,9 juta rupiah.

a�?Nah sekarang, paket PJU hemat energi, berani menawarkan 1,2 juta, sekarang pabrik-pabrik mulai bersaing (memenangkan tender),a�? ulasnya.

a�?Ini upaya kami berhemat, makanya sangat mengherankan jika PLN lantas menagihkan ke kami Rp 30 miliar. Jadi sia-sia dong langkah kami berhemat,a�? keluhnya.(cr-zad/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *