Ketik disini

Selong

Masih Ada Masalah Yang Belum Terpecahkan

Bagikan

Dibalik potensinya yang sangat menjanjikan, kentang Sembalun menyisakan permasalahan. Ada hal yang mengganjal petani untuk meningkatkan kapasitas usahanya. Mereka berharap pemerintah mau membantu.

***

PERUSAHAANA�yang bekerja sama dengan petani Sembalun siap menampung sebanyak-banyaknya hasil produksi kentang. Namun hingga kini produksi maksimal ada dikisaran 4.000 ton saja. Padahal, semakin banyak kentang terjual, tentu penghasilan petani juga meningkat.

Lantas mengapa angka 4.000 ton itu sangat sukar bertambah sejak 2005 silam? Jawabannya ada pada dua persoalan utama. Yang pertama keterbatasan lahan tanam. Maret hingga Juli merupakan masa tanam kentang. Dan masa panennya dari Juni hingga Desember. Diluar itu mereka tak bisa menanam karena persoalan air yang tak lagi ada, alias musim penghujan yang belum datang. Memang belum semua lahan di Sembalun menanam kentang. Namun petani lain tak bisa sembarang menanam jika mereka belum terikat dengan perusahaan sebagai pembeli. Bisa-bisa saat panen, hasil mereka tak diserap.

a�?Jadi perlahan kita harus ekspansi lahan, memikirkan soal air, dan mendorong petani yang belum untuk bergabung,a�? H Minardi salah seorang penggagas penanaman kentang di Sembalun.

Masalah krusial kedua adalah terkait bibit. Hingga kini belum ada teknologi yang memungkinkan bibit dibudidayakan di Sembalun. Tak hanya Sembalun, di seluruh Indonesia bahkan bibit Atlantik belum bisa dikembangkan. Ekspor menjadi satu-satunya cara. Bibit didatangkan dari penjuru dunia, mulai Australia hingga Skotlandia.

Berbicara ekspor, tentu ada saja kendala yang menghampiri. Yang sering terjadi, saat musim tanam sudah dimulai, bibit belum datang sepenuhnya. Itu membuat tanam perdana mundur, dan otomatis mempengaruhi hasil. Tak jarang petani yang sudah bersiap menanam harus gigit jari dan beralih pada tanaman lain karena kehabisan bibit.

a�?Itu PR kita kedepan, supaya bibit bisa tetap ada dan banyak,a�? katanya

Ada juga masalah pada sistem kemitraan petani kentang dengan perusahaan pembeli sejak awal 2000an lalu ternyata belum jelas. Tak ada hitam di atas putih yang menjadi dasar kerja sama terjalin. Salah satu implikasi tidak adanya perjanjian tertulis itu adalah harga kentang yang stagnan sejak 2002 lalu di angka Rp 2000 rupiah. Kenaikan signifikan baru terjadi 2015 lalu menjadi Rp 4.800 perkilogramnya.

Hal itu setelah sejumlah petani bersuara dan dilakukan penghitungan ulang terkait nilai kekinian. Di sisi lain, perusahaan lain agak sulit untuk masuk, lantaran perusahaan yang kini memonopoli pembelian hasil petani sanggup memasok bibit.

a�?Dia kirim bibit, setelah panen dibeli. Kalau perusahaan lain maunya hanya beli saja,a�? kata Surdian tokoh Sembalun menjelaskan keadaan.

Padahal hitung-hitungan petani, harga ideal ada dikisaran Rp 7.000 perkilogram. Hal itu juga yang menyebabkan menurunnya jumlah luasan lahan tanam, yang kini hanya mencapai 100 hektar saja. Sebagian memilih beralih pada cabai dan bawang yang lebih tinggi nilainya saat ini. Namun tetap ada yang bertahan karena jaminan hasil panen yang jelas pembelinya.

a�?Kelebihan kentang itu, jelas pasarnya, walaupun harga tak tinggi-tinggi amat,a�? katanya.

Kalau saja masalah-masalah tersebut bisa teratasi, tingkat ekonomi petani akan makin terkerek naik. Makin banyak beralih ke kentang, dan pemerintah bisa memutar roda ekonomi daerah lebih cepat lagi. (Wahyu Prihadi/selong r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *