Ketik disini

Oase

Sekat Tipis Kebutuhan dan Gaya

Bagikan

* Oleh: Siti Chotijah (Dosen Ilmu Komunikasi Unram)

***

PERGESERANA�nilai guna barang (use value) menjadi nilai tanda (sign value) dalam dunia posmodern sekarang ini dapat dilihat dari apa yang digunakan oleh anak-anak muda. Produk-produk fashion sampai dengan aksesoris seperti gadget adalah salah satu contoh bagaimana paradigma tersebut telah bergeser.

Akibatnya ada harga lebih yang harus dibayarkan untuk memenuhi apa yang dinamakan brand.A�Pakaian dalam berbagai perspektif memiliki arti yang berbeda. Kalangan tertentu menyebut pakaian adalah pelindung tubuh, kalangan yang lain menyebutnya sebagai penutup bagian tubuh yang sifatnya privat (aurat).

Paradigma lain menganggap pakaian adalah bentuk komunikasi, yang merepresentasikan si pengguna melalui apa yang digunakan. Tentu saja yang dimaksud disini bukan pada bentuk, model ataupun warna yang digunakan melainkan merk atau brand apa yang dipakai.

Anak muda, target pasar yang sangat potensial bagi berbagai brand fashion telah mengalami pergeseran paradigma tentang pakaian. Memang tidak semua anak muda berlaku demikian. Namun, mayoritas anak muda menjadi konsumen yang pasif terhadap terpaan media.

Brand ternama dari produk fashion (baju, celana, sepatu) dan aksesoris rela mengeluarkan biaya jutaan dolar hanya untuk beriklan.

Cerdik memang. Iklan saat ini tidak hanya menawarkan barang sesuai dengan fungsi namun lebih pada nilai yang menyerang psikologi dan emosi konsumen. Bahkan berbagai produk menggunakan pendekatan sosial dengan setting yang bermacam dalam beriklan.

Sebut saja brand ternama untuk produk sepatu dunia seperti Nike, Adidas dan Reebook. Jutaan dolar atau miliaran rupiah digelontorkan untuk iklan dan sponsorship. Iklan dilakukan melalui hal- hal yang pada era lalu tidak dilirik orang.

Sekarang ini iklan mereka hanya dengan menampilkan logo pada pakaian olah raga atau papan ultravison pada garis batas penonton pertandingan sepak bola. Iklan bukan lagi menampilkan produk. Logo yang ditampilakn telah merepresentasi produk, dalam hitungan detik konsumen mampu mengenali karena memang telah familiar.

Bayangkan saja logo brand ini muncul dalam pertandingan bola klub-klub ternama Liga Eropa, pertandingan tennis dunia, turnamen basket dan cabang olah raga lainnya.

Sekali melakukan sponsorship, media manapun akan meliput. Mulai dari jaringan TV Internasional, TV kabel, portal berita online atau media offline seperti surat kabar. Calon konsumen dikepung dari segala penjuru, hampir tak ada kesempatan menghindari terpaan media. Semacam jarum suntik pada akhirnya, tak kuasa untuk menolak.

Produk ini mengalami peningkatan angka penjualan, jutaan hingga miliaran dolar dibubuhkan sebagai nilai keuntungan. Konsumen terlebih anak-anak muda happy dan bangga menggunakan produk- produk mereka.

Seolah takA� ada masalah atau beban yang diderita dengan mengeluarkan biaya yang lumayan besar untuk sesuatu yang nilai barangnya tidak begitu besar.

Harga sepatu merk di atas kisaran Rp 800 ribu sampai dengan Rp 1 juta bahkan lebih. Kalau dilihat dari harga material bahan baku mungkin hanya 10% sampai dengan 20% dari nilai jual.

Ada margin keuntungan produsen yang cukup tinggi. Adakah yang bertanya berapa biaya promosi yag ditanggung oleh konsumen? Jutaan dolar biaya promosi tentu saja dibebankan kepada konsumen dengan memasukkannya sebagai salah satu item harga produksi. Hebat bukan hegemoni ini?

Sepatu dengan kualitas yang tidak jauh berbeda bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah. Namun, mereka enggan karena merk nya yang tidak terkenal.

Sepatu saya ini sama dengan merk sepatu bintang sepak bola Real Madrid Cristiano Ronaldo. Seolah-olah hal ini memberikan kemantaban dan menunjukkan hubungan emosional yang dekat antara pemakai dengan brand.

Prestise-lah, atau memiliki gengsi yang dapat menaikkan pamor si pemakai. Bisa saja tingkat kepercayaan diri pengguna sepatu akan melambung dan mengakibatkan emosi positif.

Bahkan untuk memenuhi rasa prestise itu sepatu yang fungsinya sebagai sepatu olah raga (running shoes) dipakai untuk sekolah yang hanya digunakan untuk aktivitas di kelas mengikuti proses pembelajaran. Pokoknya yang penting gaul, keren dan merk-nya terkenal.

Bahkan mungkin ada yang membutuhkan perjuangan ketika membelinya. Merengek kepada orang tua atau menyisihkan uang saku. Apapun akan dilakukan demi brand impian, bahkan tak jarang yang nekad membeli produk KW atau imitasi semata mata demi gengsi. Tidak perlu membeli di gerai resmi, online shop berjamur menawarkan harga yang kompetitif.

Tidak jauh berbeda dengan fashion lainnya, baju celana, tas bahkan kacamata. Merk tetap saja menjadi pertimbangan untuk melakukan pembelian.

Pergeseran ini juga terjadi pada pemilihan gadget. Ada joke yang membuat kita harus berfikir a�?be smart than your smart phonea�?.A� Penggunaan smartphone menjadi kebutuhan utama bagi anak muda seiring munculnya aplikasi sosial media. Smartphone selain sebagai pemenuhan kebutuhan komunikasi juga menjadi bagian dari fashion dan gaya anak muda. Tidak jarang pengguna smartphone tidak menguasai aplikasi atau tidak bisa memaksimalkan fungsi yang ditawarkan.

Setiap bulan ada ratusan smartphone dari berbagai merk yang dirilis dengan spesifikasi yang hampir sama. Beda merk tentu saja beda harga. Merk tertentu bahkan mencapai harga yang fantastis Rp 7-12 juta. Tidak heran jumlah pembeli ponsel rentang harga ini justru banyak, dan kebanyakan para siswa dan mahasiswa. Sudah dapat ditebak pasti pertimbangan merk, gaya dan fashion menjadi alasan kenapa memilih polsel tersebut.

Pergeseran nilai guna menjadi nilai tanda dalam fashion dan gadget memberikan gambaran bahwa masyarakat kita khususnya anak muda menjadi sangat lemah terhadap terpaan media. Paradigma apa yang dibutuhkan menjadi bergeser atas kepentingan yang sebenarnya tidak perlu dipaksakan.

Kegunaan barang yang utama bukan lagi pada kegunaan secara pemakaian barang tersebut melainkan pada nilai prestice untuk menunjang penampilan.

Penyakit massal ini sulit ditanggulangi karena lemahnya literasi media terkait iklan. Produk- produk berhasil melakukan branding tanpa memberikan ruang untuk product knowledge yang cukup.

Karakter kita sebagai konsumen yang pasif tidak melakukan filterisasi dengan informasi yang diterima. Semua terbunuh oleh rasa gengsi yang sebenarnya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemakai.

Rasionalitas tergadaikan atas keinginan untuk bergaya. Kalau sudah begini akankah kita menjadi konsumen yang cerdas, yang mampu memetakan apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan kita.

Bisakah kita menyaring dan memilah informasi yang kita terima? Rasionalitas dalam menentukan pilihan dimana kebutuhan yang menjadi faktor utama bukan saja pemenuhan terhadap gaya. Menjadi konsumen yang selektif akan banyak memberikan manfaat untuk lebih mengoptimalkan nilai uang yang kita gunakan. (r10)

 

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *