Ketik disini

Headline Metropolis

Buka Mata, Jaga Anak-Anak!

Bagikan

Kasus kekerasan terhadap anak-anak makin mengkhawatirkan. Karenanya orang tua harus terus melek. Menjaga anaknya agar tidak menjadi korban.

A�***

Di Mataram kasus kekerasan yang menimpa anak, termasuk kasus kekerasan seksual cukup banyak terjadi. Dari data Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, seiring waktu kasus kekerasan terhadap anak di Kota Mataram semakin meningkat.

“Beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan anak di Mataram memang meningkat. Untuk tahun 2014 kasus anak di Kota Mataram itu sebanyak 32 kasus. Sedangkan tahun 2015 ada 37 kasus anak. Itu pun yang hanya ditangani LPA saja,” kata Nyayu Ernawati, Pembina LPA Kota Mataram.

Sedangkan untuk tahun ini, terhitung dari Januari hingga April lalu, LPA Kota Mataram mecatat tiga kasus kekerasan seksual. Untuk itu, Nyayu meminta orang tua untuk tetap waspada. Menjaga dan melindungi anak-anak yang ada di sekelilingnya. Bukan hanya anak sendiri melainkan juga anak tetangga dan semua anak yang ada di dekatnya. Mengingat kejahatan saat ini bisa terjadi di mana saja dan mengancam anak-anak Kota Mataram kapan saja.

Ada beberapa langakah yang bisa dilakukan masyarakat dan orang tua untuk menjaga anak-anak. Yang terpenting menurutnya yakni komunikasi dalam keluarga.

“Orangtua harus menjadi teman bagi anak. Sehingga anak-anak bisa merasa nyaman di rumah. Anak-anak harus dibekali pengetahuan agama yang cukup,” jelasnya.

Orang tua juga dituntut harus tahu dengan siapa anaknya bermain. Selain itu, orang tua juga harus memberi pemahaman tentang alat reproduksi pada anak. Sehingga mereka tahu dan menjaga alat reproduksinya.

Terkait hukuman bagi pelaku tindakan kekerasan seksual, Nyayu berharap pemerintah bisa memberikan hukuman seberat-beratnya. a�?Hukuman yang pantas itu hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Agar tidak ada lagi anak-anak yang jadi korban,a�? tegas Nyayu.

Selain kasus kekerasan seksual, kasus lain yang melibatkan anak di Kota Mataram adalah kasus pencurian dan narkoba. Azhar Zaini, Direktur Yayasan Gagas yang juga bergerak di bidang Perlindungan anak mengungkapkan ada beberapa alasan tingginya kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kota Mataram, NTB maupun Indonesia.

a�?Kasus ini terus terjadi karena tidak ada perhatian lebih, maupun keseriusan menindak lanjuti kasus ini,a�? katanya.

Buktinya, Azhar menjelaskan, data dari Komnas perlindungan anak, NTB berada di urutan 10 besar kasus kekerasan seksual terhadap anak. Bukan hanya bagi anak perempuan tapi juga anak-anak laki-laki yang kerap jadi korban kekerasan para homoseksual. Untuk itu ia berharap semua elemen masyarakat peduli terhadap anak-anak yang ada di sekitarnya dan memberikan perhatian lebih.

Kondisi ini sesungguhnya menunjukkan pengawasan terhadap anak belum maksimal. Bahkan termasuk pengawasan oleh orang tua. Karenanya dia berharap, para orang tua lebih menjaga anak-anaknya agar tidak menjadi korban kekerasan, apalagi menjadi korban kekerasan seksual. Yang tak kalah pentingnya, masyarakat juga harus berpartisipasi melakukan pengawasan dengan cara melaporkan kekerasan yang menimpa anak kepada pihak terkait.

a�?Intinya jika menemukan adanya kasus kekerasan yang menimpa anak, jangan didiamkan,a�? ajaknya.

Dia menambahkan, selama ini, baik legislatif maupun eksekutif dinilai lalai memberi perlindungan kepada anak. Buktinya, Undang-Undang anti kekerasan seksual seolah terkesan disepelekan karena belum juga disahkan. Dimana rancangannya sudah dibahas lama namun belum masuk prolegnas karena belum dianggap priorotas. Baru setelah terjadi beberapa kasus, semua pihak kemudian lantas bergegas bertindak. Langkah prefentif di sini terasa tidak ada sama sekali.

“Kasus kekerasa seksual bukan hanya bagi anak perempuan, tapi anak-anak laki-laki juga kerap jadi korban kekerasan para homoseksual,” bebernya.

Terpisah, Ketua Komisi IV Kota Mataram H Muhir mengatakan, DPRD Kota Mataram sudah berkoordinasi dengan LPA Mataram untuk segera melakukan sosialisasi demi menekan kasus pelecehan seksual terhadap anak. a�?Kami akan terjun ke sekolah dan ke masyarakat langsung untuk mensosialisasikan perlindungan terhadap anak. Karena selama ini memang kita akui sosialisasi kurang gencar dilakukan di Mataram,a�? jelas Muhir.

Menurutnya, masyarakat saat ini masih berpikir kalau kekerasan seksual hanya terjadi di luar daerah. Padahal, kekerasan terhadap anak-anak ada di depan mereka sendiri dan nyata terjadi di Kota Mataram. Dengan adanya pengalaman-pengalaman yang terjadi di daerah lain ini, Mataram diharapkan bisa mengambil hikmah dan belajar agar kasus serupa tidak menimpa anak-anak Kota Mataram.

a�?Kita bersyukur masyarakat kita lebih religius dibandingkan dengan daerah yang ada di luar. Tapi kasus kekerasan seksual terhadap anak ini juga harus diketahui masyarakat sudah sampai ke Kota Mataram. Untuk itu semua orang harus terbuka matanya,a�? pinta Muhir.

Ia juga meminta pihak Keluarga atau masyarakat jangan sampai ada yang menyembunyikan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Agar hal ini bisa mendapat respon dari pemerintah dan pihak berwenang sehingga bisa cepat ditindak. Agar tidak ada lagi menimpa anak lain. a�?Media juga harus bisa terus mensosialisasikan agar orang tua memberikan perhatian lebih bagi anak-anak mereka,a�? katanya. Mengingat, trend di Kota Mataram ini dari tahun ke tahun sudah mulai menunjukkan grafis peningkatan kekerasan terhadap anak.

a�?Kami juga akan panggil Dikpora dan Dinas Sosial agar ikut bergerak,a�? sambung Muhir. Selain langkah prefentif, A�langkah kogkret yang akan dilakukan dewan menggandeng LPA. Yakni membantu LPA dalam bidang advokasi atau masalah hukum serta penganggaran.

Terkait hukuman bagi pelaku kejahatan kekerasan seksual terhadap anak, yakni hukuman kebiri, Muhir menyatakan dukungan. a�?Malah kalau bisa yang lebih berat lagia�? pungkasnya. (ton/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *