Ketik disini

Metropolis

Sengaja ya Buat Petani Rugi?

Bagikan

MATARAM a�� Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram I Gede Wiska mencurigai ada upaya sistematis untuk a�?menghabisia�? petani. Caranya dengan mempersempit lahan pertanian di Kota Mataram dan memuluskan para pengembang mendapatkan lahan untuk membangun usaha property, dan lainnya.

a�?Lihat saja seperti di jalan lingkar selatan, lahan pertanian kian sempit dan petani kerap gagal panen,a�? kata Wiska.

Dipaparkan, penyebab gagal panen, seperti yang disampaikan Dinas Pertanian Kota Mataram yakni genangan air akibat retaknya saluran irigasi. Tapi sampai saat ini, tidak ada upaya pemerintah memperbaiki saluran irigasi tersebut. Harusnya lanjut dia, meski saluran itu wilayah BWS, pemerintah dalam hal ini, Dinas PU bisa bekerja cepat menambal retakan-retakan yang ada. Sehingga petani tidak merugi terus menerus.

a�?Itu kan bisa diperbaiki dengan dana taktis, warga di sana juga sudah berkali-kali diberi janji,a�? imbuhnya.

Karena itu, pantas saja dirinya curiga, hal tersebut disengaja. Padahal persoalan itu, bertahun-tahun selalu saja terjadi. Warga, khususnya di lingkar selatan selalu mengalami gagal panen karena lahannya tergenang air.

a�?Kalau seperti itu, wajar dong orang curiga. Petani sengaja dibuat rugi. Sehingga suatu saat karena terdesak, petani akhirnya menjual lahannya pada pengembang,a�? tuding Wiska.

Ia juga mengkritik beberapa pedapat yang mengatakan hampir sebagian besar, lahan di kawasan lingkar selatan itu adalah tanah disewakan. Padahal, menurutnya tudingan itu belum tentu terbukti.

a�?Makanya, buktinya mana? Masih banyak petani yang garap lahan sendiri,a�? tandas Wiska.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli mengatakan, luas area yang gagal panen pada musim panen lalu, tak kurang dari 5 hektare. a�?Sebagian besar, gagal panen itu akibat genangan air dari Kokoq Daong yang melubar ke area persawahan warga,a�? ungkapnya.

Karena itu, untuk mendorong agar petani tidak rugi terus, mereka diminta bergabung dengan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Warga hanya diminta membayar Rp 37 ribu dari total biaya asuransi yang harus dibayar Rp 158 ribu setiap kali tanam padi. Sisanya, disubsidi pemerintah. Bila terjadi gagal panen, maka warga mendapat sekitar Rp 6 juta perhektare.

a�?Kita ajak petani untuk ikut AUTP,a�? tandasnya.

Sementara itu, saat coba dihubungi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Mahmudin Tura, belum memberi tanggapan, terkait rencana perbaikan Kokoq Daong. Sebelumnya, awal Maret lalu, dia berjanji memerintahkan kabidnya untuk mengecek kondisi ril saluran irigasi, di Mapak Indah itu. (cr-zad/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *