Ketik disini

Metropolis

Perusahaan Masih Cuek

Bagikan

MATARAM a�� Pemberdayaan perempuan di NTB dinilai belum maksimal. Semua pihak belum berpartisipasi secara aktif, terutama dari kalangan perusahaan atau korporat. a�?Korporat harusnya menyadari betul peran dan tanggung jawabnya untuk ikut serta memajukan negeri ini. Salah satu caranya melalui pemberdayaan perempuan,a�? kata Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK Duta Besar dr Sujatmiko di tengah rapat koordinasi pemenuhan hak, perlindungan dan pemberdayaan perempuan di Hotel Grand Legi, kemarin (17/5).

Ia mengkritik, banyak program Corporate Social Responsbility (CSR) yang dijalankan perusahaan tak maksimal. Program itu hanya bersifat seremonial dan tak pernah menyentuh program pemberdayaan perempuan. Perhatian korporat terhadap sumber daya manusia yang secara kuantitas mendominasi negeri ini sangat minim. a�?Perlu diingat, CSR itu adalah tanggungjawab perusahaan untuk mendorong keseimbangan pembangunan. Kalau pembangunan tidak seimbang akan rentan dan rawan gangguan sosial dan akhirnya merugikan perusahaan itu sendiri,a�? jelasnya.

A�Di satu sisi, ia mengakui bahwa perhatian pemerintah terhadap isu pemberdayaan perempuan juga masih rendah. Ini terlihat dari kebijakan anggaran di tingkat pusat maupun daerah yang belum responsif gender. Namun, ia menekankan bahwa kaitannya dengan pemberdayaan perempuan adalah tanggungjawab semua pihak. a�?Jadi memang tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja. Semua harus mendukung, termasuk pihak koorporat juga,a�? lanjutnya.

Bentuk dukungan itu, lanjutnya, bisa berupa penguatan modal untuk usaha. Perusahaan bisa mendampingi atau mendukung usaha yang dirintis oleh perempuan di sekitar mereka. a�?Intinya jangan cuek, bisa bantu dengan modal atau memberikan pelatihan dan pembekalan. Yang jelas tujuannya agar perempuan itu lebih berdaya,a�? lanjutnya.

Senada juga disampaikan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi NTB T Wismaningsih. Ia membenarkan bahwa partisipasi koorporat di NTB terhadap isu pemberdayaan perempuan masih minim. a�?Buktinya, sekarang kita mengundang perwakilan perusahaan, mereka pun tidak hadir. Jarang ada yang hadir ketika diundang,a�? kritik Wismaningsih.

Padahal, jumlah koorporasi atau perusahaan di NTB terus bertambah dan skalanya kian besar. Terutama yang bergerak di bidang pariwisata seperti perhotelan. Menurut Wismaningsih, para pelaku usaha itu seharusnya bisa menyisihkan sebagian keuntungan mereka untuk membangun daerah terutama dalam memberdayakan perempuan. a�?Setidaknya, lima persen dari keuntungan perusahaan bisa diarahkan untuk CSR pemberdayaan perempuan. Untuk bantuan modal ataupun pelatihan,a�? lanjutnya. (uki/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys