Ketik disini

Headline Metropolis

Wisata atau Setor Nyawa

Bagikan

Ajal memang urusan Yang Maha Kuasa. Tapi, kematian beruntun para pelancong di sejumlah destinasi wisata NTB semenjak April lalu, telah menjelma menjadi horor paling menakutkan. Kematian itu membuka mata, betapa risk management destinasi wisata NTB belumlah memadai. Akibatnya nyawa menjadi begitu murah kalau di destinasi. Kendati begitu, menghindari kematian juga haruslah menjadi prioritas para pelancong.

***

KAWASAN RINJANI tengah berselimut duka. Semenjak akhir April lalu, setidaknya tiga nyawa telah melayang di sana. Duka dibuka dengan meninggalnya Andi Irawan, seorang karyawan bank swasta asal Jakarta.

Pemuda 26 tahun tersebut didapati warga dalam keadaan sudah tak bernyawa di Air Terjun Mangku Kodek, Sembalun. Itu adalah air terjun di kaki Rinjani, salah satu destinasi yang kerap dikunjungi para pelancong.

Andi yang tengah berenang bersama rekannya di air terjun itu tewas tenggelam. Saat itu, korban yang baru tiba di lokasi langsung berenang menuju tengah air terjun. Sejak itu, dia tak pernah kembali, hingga ditemukan terapung sudah tak bernyawa.

Kejadian memilukan itu belum hilang, kala kabar duka berikutnya datang menyapa. Nahas menimpa Andy Rahmat, juru masak di sebuah restoran Bali. Sabtu (30/4) lalu, ia bersama seorang rekannya mengunjungi Air Terjun Madu di Dusun Birak, Desa Bilok Petung, Sembalun. Tak lama berenang, dia tewas tenggelam.

Korban sempat berteriak minta tolong. Namun, rekannya tak kuasa membantu. Warga sekitar pun berhamburan, dan akhirnya jenazah Andy bisa dibawa ke tepi dan dibopong bersama menuju jalan raya.

Sepekan berselang, berita kematian datang lagi. Minggu (8/5) Ike, wisatawan asal Palembang, Sumatera Selatan ditemukan tewas di di pemandian air panas dekat Danau Segara Anak, di kaldera Rinjani.

Pendaki 26 tahun itu hilang sejak sehari sebelumnya. Semenjak itu dia dicari oleh rekannya. Dan baru ditemukan esoknya. Nahas dia tak selamat.

****

Cerita kematian para wisatawan di destinasi wisata bukan hanya milik kawasan Rinjani semata. Awal 2015, kala masih suasana liburan tahun baru, tiga Warga masing-masing Lalu Lukman, 50 tahun, Nurdin, 40 tahun dan Baiq Erma, 15 tahun, tewas tenggelam setelah terseret ombak Pantai Mawun. Korban yang merupakan satu keluarga, tengah menikmati liburan tahun baru di pantai pesisir selatan Lombok itu kala musibah mendera.

Pada 7 Mei 2015, tiga wisatawan juga ditemukan tewas di Pantai Tanjung Bloam, Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. Di lokasi wisata yang dekat Pantai Pink tersebut, ketiga wisatawan meninggal setelah terjatuh ke laut dan diterjang gelombang tinggi.

Mereka adalah Lalu Sukma wardana, 30 tahun, warga Setanggor Kecamatan Sukamulia, Juhain, 33 tahun, warga Pohgading Kecamatan Pringgbaya. Keduanya adalah anggota SAR Lombok Timur.

Sedangkan satu korban lagi adalah Fatwa, 24 tahun asal Samarinda, Kalimantan Timur. Nyawa mereka melayang di tengah asyik aksi swafoto atau selfie dan kemudian terjatuh ke laut.

Sementara itu pada 19 Juni 2015 kembali di Lombok Tengah, pada Okamoto Michifumi, wisatawan asal Jepang tewas setelah terempas ombak ketika berselancar di Pantai Gerupuk, Pujut. Hari masih pagi, saat wisatawan berusia 37 tahun tersebut dipanggil Sang Pencipta, setelah digulung ombak saat berselancar.

Sementara itu, di pengujung tahun 2015, Prancis Roman Didier Pierre, wisatawan asal Perancis meninggal dunia saat melakukan aktivitas diving (menyelam) di kawasan wisata tiga Gili di Lombok Utara. Di sana, kasus kematian tidak hanya menimpa Roman. Beberapa kasus wisatawan meninggal dunia saat diving pun sempat terjadi.

****

Sederet peristiwa itu, mengingatkan betapa saban tahun, selalu saja ada cerita kematian di destinasi wisata NTB. Pada tahun 2014, sejumlah kematian juga terekam. Banyak pula kasus tahun itu terjadi di Rinjani. Kabar kematian itu telah mengiringi perjalanan industri pariwisata NTB yang kini tengah booming dan menggeliat.

Hanya saja, yang namanya kematian, tetaplah tragedi. Kalau sudah soal ini, menjadi tak penting berapa jumlah kasus. Sebab, satu nyawa tentulah sangat berharga. a�?Ini membuka mata kita soal bagaimana risk management di destinasi wisata yang kita punya,a�? kata Kepala Bappeda NTB H Chairul Mahsul, pekan lalu.

Dia memastikan, kematian-kematian itu tentulah tak pernah diinginkan. Baik oleh pemerintah, terlebih oleh para wisatawan. Para pendaki misalnya. Kata Chairul selalu ada doktrin bagi mereka. Bahwa mendaki itu tujuannya bukanlah menaklukkan puncak sebuah gunung seperti Rinjani. Tapi, tujuan utamanya adalah selamat sampai pulang ke rumah.

Diakui pula oleh pejabat yang juga gemar mendaki gunung ini, kasus-kasus kematian di destinasi wisata haruslah ditekan.A� a�?Sebab, kalau terus terjadi, ini masalah. Dinas Pariwisata tentu tak bisa mempromosikan destinasi wisata kita,a�? imbuhnya.

Itu sebabnya, khusus di Rinjani, kata Chairul kini sudah mulai dirumuskan sejumlah langkah untuk menekan angka kecelakaan yang berujung kematian. Gunung api tertinggi kedua di Indonesia yang menjadi surga para pendaki ini haruslah bisa meminimalisir tragedi berujung kematian. a�?TNGR rencananya akan memasang sejumlah cctv di pos-pos pendakian,a�? kata Chairul.

Paling penting sebetulnya adalah prosedur dan fasilitas pertolongan pertama. Sebab, di area pendakian yang berisiko, ketepatan aksi dalam pertolongan pertama, bisa menjadi cara dan ikhtiar untuk menyelamatkan nyawa demi nyawa.

Kesiapan pengelola kawasan juga menjadi keharusan. Dalam kejadian terkini di Rinjani, masyarakat adalah pihak pertama yang turun membantu. Sebelum akhirnya otoritas pemerintah yang menangani bencana tiba di tempat kejadian.

Sementara dalam kasus ketiga yang berada di kawasan Danau Segara Anak, proses evakuasi juga berlangsung alot. Sulitnya medan membuat tim evakuasi gabungan yang beranggotakan 12 orang dari SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur (Lotim) harus bahu membahu menuruni medan terjal Gunung Rinjani. a�?Kita terkendala alam,a�? kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Lotim M Takdir Ilahi, kemarin.

Dalam kasus ketiga tersebut, ketidaksiapan Tracking Organization (TO) alias pihak yang mengatur perjalanan pendakian paling disorot. Saat korban hilang kontak pertama kali, tak ada upaya TO menghubungi otoritas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Repotnya lagi, data menunjukkan keberangkatan Ike bersama 23 rekan lainnya melalui jalur tak resmi. Tanpa mendaftar di pos TNGR, mereka dibawa mendaki melalui jalur tikus di Dapur Belek. a�?Sedang kami dalami, kalau memang melanggar, bisa saja menuju ranah hukum,a�? tegasnya.

Wisatawan Tak Siap

Terlepas dari ketidaksiapan, ketidaksigapan dan fasilitas pertolongan pertama minim, banyak pula tragedi yang bermula dari kelalaian para wisatawan sendiri.

Kerapkali bahkan banyak kejadian yang berawal dari ketidaksiapan wisatawan, sehingga berujung musibah.

Di bulan April di Rinjani misalnya telah dilakukan dua kali evakuasi pendaki. Beuntung mereka yang dievakuasi ini tak kehilangan nyawa.

Mereka yang dievakuasi tak bisa lagi melanjutkan pendakian sehingga harus ditandu menuruni lembah dan bukit-bukit Rinjani menuju Sembalun. a�?Yang pertama perempuan, yang kedua laki-laki,a�? ujar Kepala Seksi Pengelolaan (KSP) TNGR Wilayah Dua, H Ramsjah.

Dijelaskan, kejadian pertama menimpa mahasiswi 20 tahun asal Makassar. Dia yang kala itu mendaki bersama dua rekan prianya, terpeleset jelang puncak Rinjani. Akibatnya, perempuan berkaca mata itu terkilir dan tak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Bahkan dugaan awal terjadi patah tulang, namun belum bisa dikonformasi karena memerlukan pemeriksaan intensif dokter.

a�?Dia terpeleset, jatuh, tak bisa gerak, keluhkan sakit kaki dan pinggul,a�? jelasnya.

Pendaki yang berangkat Kamis (14/4) itu mengalami kejadian nahas setelah sehari berada di Rinjani. Esoknya, dia langsung dijemput sejumlah tim penyelamat.

Kasus kedua terjadi pada Sabtu (16/4). Kali ini menimpa pendaki Malaysia berusia 19 tahun. Ia tak bisa lagi melanjutkan pendakian lantaran keseleo dan mengeluhkan kram pada pergelangan kaki hingga pangkal paha. Tak ada riwayat apakah pemuda itu sempat terjatuh lebih dahulu atau lantaran insiden lain.

Menurut Ramsjah dua kejadian itu tak berkaitan sedikitpun dengan kondisi keamanan jalur di Rinjani. Dia mengatakan hal itu semata karena ketidaksiapan pendaki yang masih pemula. Dia memastikan, pihaknya sebenarnya sudah mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Salah satunya dengan pemasangan sejumlah plang pengumuman yang melarang pendaki dengan sejumlah keluhan penyakit semisal jantung dan diabetes. Pendaki juga diminta menyiapkan keadaan fisik jelang pendakian dan mempelajari medan.

Hal itu dibenarkan Kepala Resor TNGR Aikmel Zulfahri yang bertahun-tahun memimpin TNGR Sembalun. Dia yang baru pindah tahun ini mengatakan kasus-kasus yang ditemukan umumnya terjadi pada pendaki pemula yang minim persiapan dan kemampuan mendaki.

Untuk itu dia menyarankan pendaki selalu membawa pemandu, menyiapkan fisik dan mental, serta pengetahuan memadai, plus perbekalan yang cukup. a�?Ini bukan soal Rinjaninya, tapi pendaki yang kurang mengerti,a�? ujarnya.

Abai Sejak Awal

Soal ketidaksiapan wisatawan ini, tak cuma masalah di Rinjani. Masalah serupa juga mendera kawasan wisata tiga Gili di Lombok Utara. Salah seorang pengusaha jasa diving di Gili Trawangan, H Malik mengungkapkan, biasanya wisatawan yang terkena musibah memang ada indikasi abai sejak awal.

Dia mengatakan, kadang wisatawan meremehkan hal-hal yang mereka anggap tak penting. Misalnya kewajiban mengisi beberapa informasi pribadi seperti riwayat penyakit, jam terbang diving, dan sudah berapa lama tidak melakukan diving. a�?Ini informasi penting. Tapi kadang ada yang tak memberitahukannya,a�? kata dia.

Alhasil, beberapa kasus wisatawan yang meninggal saat diving ternyata lantaran wisatawan tersebut menderita penyakit yang cukup berbahaya untuk melakukan aktivitas menyelam. a�?Setelah terjadi baru keluarganya menjelaskan jika korban ternyata memiliki penyakit jantung,a�? katanya.

Perbuatan wisatawan yang seperti ini memang sangat membahayakan. Malik menilai ini dilakukan wisatawan karena memiliki keinginan besar untuk menyelam. a�?Kami selalu meminta wisatawan untuk jujur sejujurnya tetapi ya ada saja yang nakal seperti tadi,a�? tandasnya.

Malik yang mengelola jasa diving Blue Marlin ini menjelaskan setiap perusahaan jasa diving di Trawangan sebetulnya sudah memiliki aturan keselamatan yang baku. Setiap instruktur dituntut untuk menerapkan aturan tersebut. Apa yang harus dilakukan instruktur saat dalam keadaan emergency pun sudah ditentukan. a�?Dalam menyelam itu ada kode-kodenya mulai dari aman hingga bahaya ini selalu dipegang dan diterapkan saat kegiatan,a�? paparnya.

Bahkan agar wisatawan asing mudah menerima dan mencerna instruksi dari instruktur beberapa perusahaan diving memilih mempekerjakan tenaga asing.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, Muhadi mengakui kalau saat ini di Lombok Utara belum ada aturan soal standar operasional prosedur bagi perusahaan jasa menyelam. Namun, diakuinya SOP masing-masing perusahaan sebetulnya sudah bagus.

a�?Tapi dalam waktu dekat pemerintah berencana untuk menerbitkan aturan yang menyangkut safety wisatawan saat melakukan aktivitas di kawasan wisata tiga gili,a�? tandasnya. Aturan itu setidaknya akan berupa Peraturan Bupati.

A�Sarana Kurang

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB HL Mohammad Faozal tak menampik jika sejumlah tragedi yang berujung kematian di destinasi wisata itu bukan cuma akibat kelalaian manusia belaka. Tapi, minimnya standar keselamatan di obyek wisata juga menjadi penyebab.

Pamor beberapa destinasi wisata yang melejit rupanya belum diimbangi oleh penataan obyek wisata itu sendiri. Banyak destinasi wisata baru yang dibanjiri wisatawan sementara sarana prasarananya masih minim. Khususnya yang berkaitan dengan keselamatan dan keamanan.

Alhasil kata dia, wisatawan yang berlibur ke sana pun ada yang tertimpa musibah. Liburannya berujung nahas karena harus merenggang nyawa.

Kendati begitu, belakangan soal fasilitas keselamatan yang belum lengkap ini juga diakui menjadi masalah di destinasi wisata lama yang sudah punya nama.

Sebut saja misalnya kawasan tiga gili, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) ataupun Senggigi. Fasilitas atau petunjuk keselamatan di sana masih sukar ditemukan.

Misalnya saja petunjuk berupa batas kedalaman di pantai atau titik-titik yang rawan atau bahaya untuk aktivitas seperti snorkling, diving, atau berenang.

a�?Pada dasarnya, petunjuk keselamatan kita memang masih minim. Baik itu di darat maupun laut,a�? kata Faozal.

Untuk itu, Disbudpar NTB pun berjanji tahun ini akan lebih memaksimalkan berbagai sarana prasarana keselamatan tersebut, terutama yang kaitannya dengan petunjuk atau warning di lokasi wisata.

Dengan begitu, akan ada petunjuk keselamatan dan mengarahkan wisatawan biar lebih aman.

Selain itu, kesiapan dari pelaku wisata sendiri juga harus lebih dimaksimalkan. Sehingga, mereka yang berada di sekitar destinasi bisa lebih tanggap ketika ada jatuh korban. Disbudpar NTB pun dalam waktu dekat akan melakukan capacity building, melibatkan semua pemangku kepentingan.

Melalui capacity building itu, pelaku wisata diberikan pemahaman seputar penanganan kasus-kasus kecelakaan di obyek wisata. a�?Misalnya, soal pertolongan pertama dan lain-lain,a�? kata Faozal.

Mereka yang akan dibekali ilmu tersebut mulai dari pengelola wisata hingga kelompok sadar wisata.

Di Rinjani, porter dan pemandu diarahkan untuk paham standar memberikan pertolongan pertama. Apalagi, layanan kesehatan biasanya jauh dari pusat kesehatan. Jadi, pemberian pertolongan pertama itu sangat penting agar penanganan korban tidak terlambat.

Di samping itu, kesadaran dari wisatawan sendiri juga menjadi hal yang tak kalah pentingnya. Terutama dalam mematui aturan keselamatan di destinasi wisata. Sehingga tidak membahayakan dirinya sendiri maupun wisatawan lainnya.

Faozal sepakat, peningkatan pemahaman seputar standar keselamatan ini sangat penting. Sehingga, tidak ada lagi wistawan yang menjadi korban.

A�Jangan Asal Selfie

Untuk alasan keamanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah mengingatkan bahwa pesisir selatan Lombok selain indah memang ada titik-titik yang membahayakan. Itu sebabnya, wisatawan asing dan domestik kata dia diingatkan agar mewaspadai titik-titik rawan ombak laut dan tebing perbukitan.

a�?Alhamdulillah untuk tahun 2016 ini tidak ada kejadian. Mudahan aman-aman saja seterusnya,a�? kata Kepala BPBD Loteng Sahabudin.

Umumnya mereka yang mengalami musibah karena nekat berswafoto di tempat rawan dan membahayakan. a�?Padahal, sudah diingatkan dengan berbagai petunjuk tertulis. Tapi, tidak mempan juga,a�? katanya.

Bahkan, kini pihaknya telah memasang peringatan permanen di beberapa titik. Harapannya, tak ada lagi wisatawan yang mengabaikannya.

a�?Para wisatawan asing biasanya menyukai hal-hal yang menantang dan menakutkan. Ini yang sulit kita larang,a�? kata Kepala Dinas Budpar HL Muhammad Putrie menambahkan secara terpisah.

Dia membeberkan titik-titik destinasi dengan ombak berbahaya itu antara lain di Pantai Gerupuk, Pantai Aan, Seger, Mawi dan Pantai Tunteng-Unteng Lancing. a�?Yang berlangganan menelan korban jiwa adalah, Pantai Mawi Desa Meker Sari. Mohon waspada,a�? ingatnya.

Sedangkan, tebing perbukitan rawan longsor atau ambruk, kata Putrie ada di Batu Kotak Tanjung Aan, Tebing Mawun, Batu Payung, perbukitan Lancing, Gunung Jogok dan Bange Montong Ajan. Di beberapa tempat itu, tidak sedikit wisatawan terjatuh, begitu mereka nekat swafoto di tempat berbahaya. a�?Kalau wilayah utara Alhamdullah aman,a�? katanya.

A�Andalkan Pokdarwis

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Djunaedi mengaku bersyukur, dalam dua tahun terakhir, tidak ada tragedi berujung kematian di wilayah Lombok Barat. Dia memastikan, keselamatan wisatawan menjadi prioritas utama pihaknya. Terutama di destinasi wisata yang menjadi andalan Pemkab Lombok Barat.

Di Senggigi misalnya. Kata dia, bekerja sama dengan Polda NTB, Dispar Lobar membangun sebuah menara pantau. Berdiri tepat di pinggir pantai. a�?Kita serahkan ke Pol Air untuk pengelolaannya,a�? kata Ispan.

Menurut dia, fungsi menara pantau amat vital. Menara ini amat membantu petugas kepolisian yang berjaga untuk penyelamatan bila terjadi kecelakaan.

Menara serupa juga rencananya akan dibangun di Sekotong, pesisir selatan Lombok Barat yang juga memiliki destinasi wisata tak kalah menarik. Melibatkan Universitas Mataram, rencananya pos pantau akan dibuat di sepanjang pantai di Sekotong.

Ke depan, penguatan rencananya juga dilakukan pada kelompok sadar wisata di tiap destinasi. Mereka juga dilatih mitigasi terutama soal evakuasi jika ada musibah terjadi. Pokdarwis ini menjadi ujung tombak, dan bisa memberikan pertolongan pertama yang memadai.

a�?Untuk sekarang, pokdarwis baru sebatas peran keamanan dan kenyamanan. Tapi ke depannya fungsi keselamatan pun akan diterapkan,a�? katanya. (yuk/kus/uki/puj/dit)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *