Ketik disini

Metropolis

Ini Angin Segar untuk Nelayan Lobster

Bagikan

MATARAM –Impian nelayan lobster di NTB semakin mendekati kenyataan. Salah satu perusahaan asal Singapura berencana melakukan investasi untuk pembudidayaan benih lobster di Bumi Gora.    Tawaran investasi itu ibarat angin segar di tengah penerapan Peraturan Menteri (Permen) KP Nomor I tahun 2015 tentang penangkapan lobster, kepiting, dan rajungan yang kini merenggut mata pencarian nelayan lobster.

“Pemprov NTB sangat menyambut baik tawaran investasi dari perusahaan Singapura itu. Kita sama-sama berharap, bisa terealisasi,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BKPM-PT) NTB H. Ridwansyah kepada LombokPost, kemarin (19/5).

Hari ini, investor asal Singapura tersebut rencananya akan melakukan pemaparan di kantor BKPM-PT NTB. Mereka menaruh minat melakukan pembudidayaan lobster di Lombok Timur dan Lombok Tengah. Perairan di dua kabupaten itu memiliki potensi bibit lobster yang sangat besar, bahkan salah satu yang terbesar di Indonesia. “Kita salah satu daerah penghasil lobster terbesar, khususnya untuk lobster pasir dan lobster mutiara,” jelasnya.

Mulai tahun 2012, lanjutnya, penangkapan bibit lobster di NTB sempat marak. Permintaan bibit lobster asal NTB sangat tinggi untuk diekspor ke Malaysia dan Vietnam. Sampai dengan akhir tahun 2014, nelayan penangkap bibit lobster di NTB mencapai kurang lebih 5.632 orang.

 Sementara, jumlah ekspor bibit lobster dari NTB, dulunya rata-rata mencapai 40 boks per hari yang berisi 28.800 ekor dengan nilai Rp 1,4 miliar. Dalam satu tahun, potensi penghasilan seluruh nelayan lobster di NTB ditaksir menembus angka Rp 291 miliar. Tak heran, lobster dulunya menjadi salah satu andalan bagi NTB untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun, kondisi tersebut jelas berubah sejak diberlakukannya Permen KP No 1 tahun 2015 yang melarang penangkapan bibit lobster. Kesejahteraan ribuan nelayan lobster pun menurun drastis sebagai imbas dari Permen Susi tersebut.

Ridwan pun optimis, dengan adanya rencana investasi pembudidayaan bibit lobster oleh perusahaan asal Singapura itu akan mengembalikan kejayaan nelayan lobster di NTB. Investasi itu diharapkan menjadi solusi agar nelayan diperbolehkan untuk menangkap bibit lobster. Terlebih, Kemen KP pun sudah berencana untuk merevisi Permen No 1 tahun 2015.

“Jadi, kita berharap Permen itu segera direvisi. Nelayan boleh menangkap bibit lobster selama tidak diekspor, melainkan dibudidayakan di daerah,” katanya.

 Di sinilah peran dari investor asal Singapura tersebut untuk memasilitasi pembudidayaan bibit lobster di daerah. Investor bisa bekerjasama dengan nelayan lobster lokal. “Investasinya nanti bisa berupa dukungan teknologi dan sebagainya,” lanjut Ridwansyah.

 Pembudidayaan lobster di daerah, menurutnya, akan membawa keuntungan yang lebih besar lagi bagi NTB. Sehingga, nilai jual lobster akan lebih tinggi. Pasalnya, selama ini NTB hanya mengirimkan bibit lobster dengan nilai jual yang masih rendah. “Kalau dulu kan bibit lobster langsung diekspor ke Vietnam dan Malaysia. Yang diuntungkan justru negara-negara itu. Makanya, sudah saatnya kita sekarang membudidayakan sendiri bibit lobster itu di dalan daerah,” pungkas Ridwansyah.

 Untuk mendukung rencana investasi itu, Pemprov NTB pun berencana mencari celah regulasi yang bisa mendukung pembudidayaan lobster tersebut. Pasalnya, Permen KP yang masih berlaku hingga saat ini masih melarang penangkapan bibit lobster. “Kita akan komunikasikan ini dengan Biro Hukum, apa memungkinkan disiapkan Peraturan Gubernur (Pergub) untuk mendasari rencana investasi ini, sembari menunggu revisi Permen KP,” pungkasnya. (uki/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *